
"Gila, cantik banget tuh cewek,"
"Iya, lihat aja penampilannya aja modis gitu,"
"Tapi siapa di sampingnya?"
"Pacarnya kali,"
Begitulah beberapa ucapan kaum adam.
"Ih, oppa gue datang"
"Senyumnya itu, ah. Melelahkan hatiku,"
"Jodohku tampan banget,"
"Tapi tuh cewek yang disampingnya. Bukankah dia cewek yang ada masalah kemarin?"
"Iya, tuh cewek genit banget,"
"Tapi mereka seperti pasangan serasi,"
"Gak, gue gak terima,"
Begitulah beberapa percakapan kaun hawa.
Sesampainya di sana, Lidya langsung memakai kaca matanya dan pergi ke sudut yang sepi.
"Hay, kenalin nama gue Rizki," sapa seseorang yang menghampiri Lidya.
Lidya sendiri yang saat itu sedang menatap bintang di langit tidak menggubris ucapan Lidya.
"Nama gue Rizki, nama lo siapa?" Tanya Rizki mencoba berkenalan dengan Lidya.
Lidya tidak bergeming.
"Ki," terdengar suara seseorang memanggil Rizki.
__ADS_1
Dengan lesu Rizki menghampiri teman teman lombanya itu.
"Gimana?" Tanya mereka.
"Tuh cewek sombong banget. Sok sok jual mahal," jawab Rizki kesal.
"Coba gue yang ajak kenalan, pasti dia mau," ucap salah satu temannya bernama Boby dengan percaya diri.
"Gak bakal berhasil, percaya sama gue," ucap Rizki kesal.
Boby berjalan menghampiri Lidya.
Melihat Lidya yang bersandar di dinding dan menatap bintang, membuat Boby melakukan hal serupa.
"Lagi lihat apa?" Tanya Boby.
Boby melirik Lidya yang tak kunjung menjawabnya.
"Lagi lihat bintang, ya. Bintangnya cantik ya," ucap Boby.
"Kamu tahu gak apa bedanya bintang sama kamu?" Tanya Boby menatap Lidya.
"Kalau bintang bersinar di langit. Kalau kamu bersinar di hati aku," gombal Boby sambil tersenyum senyum.
"Cie..." sorak beberapa orang yang mendengar gombalan Boby.
Boby terdiam sesaat saat melihat Lidya yang tak peduli akan dirinya. Bahkan ia bersikap sangat tenang.
"Lidya," suara yang familiar di telinga Lidya, Kelvin.
Lidya mendongakkan wajahnya menatap Kelvin.
Boby yang melihat hal itu menatap Kelvin dengan iri. Pemuda itu bisa menarik perhatian gadis yang diincarnya hanya dengan satu kata namanya.
"Apa Kak?" Tanya Lidya.
Suaranya indah sekali.
__ADS_1
Batin Boby.
"Kamu mau?" Tanya Kelvin seraya mengangkat piring yang berisikan daging yang sudah di panggang.
"Gak Kak, Lidya sudah kenyang" jawab Lidya menolak halus.
"Tapi kata Kak Rida kalian tidak ada makan malam karena acara ini. Lalu apa yang kamu makan sehingga perutmu kenyang?" Tanya Kelvin lembut.
"Makan pikiran," jawab Lidya.
"Pikiran apa?" Tanya Kelvin.
"Pikiran bagaimana aku bisa menang," jawab Lidya.
"Masalah itu, kamu tenang saja. Kamu pasti bisa menang. Tapi untuk menang kamu harus mengisi perutmu," ucap Kelvin.
"Nanti saja Kak," ucap Lidya.
"Aaaa..." Kelvin sudah mengangkat sendok ingin menyuap Lidya.
"Berikan, aku bisa sendiri," tolak Lidya seraya ingin mengambil alih sendok dari tangan Kelvin.
"Biarkan aku menyuapi mu sekali saja," ucap Kelvin.
Lidya menurut, ia membuka mulutnya.
"Bagaimana rasanya?" Tanya Kelvin.
Lidya mengangguk dan mengangkat jempolnya.
"Habiskan lah," ucap Kelvin.
"Aku akan ke sana sebentar," izin Kelvin.
Lidya mengangguk.
"Nama kamu Lidya ya?" Tanya Boby yang ternyata masih di situ dari tadi.
__ADS_1
Lidya tidak menggubris. Ia kembali memasang tampang datar karena saat ini Kelvin sudah pergi. Dan tidak ada seorang pun yang Lidya anggap teman di sana.
Karna tak mendapat jawaban, Boby memberanikan diri memegang tangan Lidya.