Dibalik Semua Perubahan

Dibalik Semua Perubahan
Bab 16


__ADS_3

Lidya memasukkan cincin dari Ayah ke jari Kelvin dengan tangan yang masih gemetar. Untung saja cincin itu tidak jatuh dari genggaman tangan nya.


Kini giliran Kelvin untuk memasangkan cincin ke jari manis Lidya.


Kelvin menerima cincin dari Ayahnya. Di cincin itu terdapat permata berkilau di tengahnya.


"Ulurkan tanganmu, nak" ucap Ayah Lidya.


Dengan ragu Lidya mengulurkan tangan kanannya.


Lidya memejamkan matanya tidak sanggup melihat cincin lain masuk ke jari manisnya. Bahkan kini tangan Lidya menegang karena takut.


Prok... prok... prok...


Suara tepuk tangan yang keras di dengar oleh Lidya. Dengan perlahan namun pasti Lidya membuka matanya berusaha meyakinkan dirinya kalau semua akan baik baik saja.


Lidya menatap jarinya dengan terkejut namun bahagia. Lalu Lidya memperhatikan Kelvin yang terlihat tersenyum kepadanya.


Kelvin memasang cincin yang adalah milik Lidya, bukan dari Ayah Kelvin. Cincin yang diberikan oleh Kelvin sebagai tanda persahabatan mereka.


"Ingat perkataan mu tadi," ucap Kelvin dengan berbisik.


"Aku pasti akan menurutinya. Terima kasih," ucap Lidya dari lubuk hati paling dalam.


Kelvin mengangguk.


Sekarang acara untuk mengucapkan selamat kepada kedua pemilik pesta.


Nenek Lidya sengaja memilih barisan paling belakang agar nantinya dia bisa menghabiskan waktu lama dengan Lidya tanpa buru buru.


Lidya menyalam kedua orang tua Kelvin juga seluruh kelurga besar Kelvin yang hadir. Sedangkan untuk kedua orang tuanya, Lidya lebih memilih untuk berdiam tanpa mau tangannya bersentuhan dengan tangan kedua manusia tersebut. Tapi saat melihat Neneknya, Lidya bukannya menyalam malah memeluk Neneknya itu.


"Ternyata kamu sudah besar ya, Nenek gak percaya kemarin cucu Nenek masih main boneka dan sekarang tiba tiba saja sudah mau menikah," ucap Nenek Lidya.


"Lidya memang sudah besar, Nek. Tapi kalau sama Nenek, Lidya pengen jadi anak kecil lagi," ucap Lidya.


"Kalau kamu sama Nenek, siapa yang sama tunangan kamu?" Tanya Nenek.


"Kan ada Mamanya, Nek" jawab Lidya.


Nenek tersenyum simpul.


"Nak, tolong jaga cucu Nenek ini," ucap Nenek Lidya kepada Kelvin.


"Lidya adalah satu satunya cucu Nenek, dia berlian bagi Nenek. Tolong kamu jaga dia. Walau sikapnya kadang kasar, tapi dia adalah gadis baik. Yang memiliki hati rapuh. Nenek gak akan terima jika ada seseorang yang berani menghina bahkan bermain fisik dengan cucu Nenek ini," ucap Nenek Lidya.


Lidya hampir saja menangis mendengar kata kata Neneknya.

__ADS_1


Bagaimana nanti jika Nenek tahu, bagaimana sikap orang yang menjadi suami Ibu kepadaku? Apa Nenek akan bisa memaafkannya? Jangan terlalu menyayangiku, Nek. Kasih sayangmu akan membuatku merasa ketergantungan.


Lidya berkata dalam hati.


"Saya pasti menjaga dan akan selalu menyayangi cucu Nenek ini," ucap Kelvin.


"Nenek, ayo kita bicara berdua," ajak Lidya.


Nenek tersenyum sambil mengangguk.


Mereka berdua duduk disalah satu meja dengan dua kursi. Lalu Nenek mulai berkata serius.


"Lidya, apa kamu bahagia sayang?" Tanya Nenek serius.


Lidya terdiam senyum yang tadi ada di bibirnya seketika lenyap.


"Lidya bahagia, Nek. Sangat bahagia," jawab Lidya seraya memaksakan senyumnya.


"Jangan berbohong sama Nenek. Nenek yang paling mengenalmu. Saat kamu lahir, Nenek lah yang pertama kali menggendong mu, Nenek yang mengajarimu berjalan dan berbicara. Kata pertama yang kamu ucapkan bukan Ibu tapi Nenek," ucap Nenek Lidya.


Lidya tersenyum simpul. Ia tahu pasti bahwa dia tidak akan dapat berbohong kepada Neneknya ini.


"Nenek tahu, sampai saat ini Lidya masih mencintai satu orang yang sama seperti 6 bulan lalu. Lidya mencintainya selama bertahun tahun, bagi Lidya 6 bulan tidak cukup untuk menghapus namanya," ucap Lidya.


"Kalau kamu tidak bahagia, kenapa kamu mau bertunangan dengan pria itu?" Tanya Nenek.


"Nenek akan mendukung apapun keputusanmu. Ini kehidupanmu, urusanmu. Apa yang sudah kamu putuskan harus kamu pikirkan lagi. Karena segala sesuatu yang kita lakukan akan berakibat fatal kepada masa depan kita," nasihat dari Nenek Lidya.


"Iya, Nek" ucap Lidya.


"Nek, apa akhir akhir ini kondisi kesehatan Nenek baik baik saja?" Tanya Lidya.


Dengan senyum yang dipaksakan Nenek Lidya berusaha meyakinkan


"Nenek baik baik saja. Bahkan kondisi kesehatan Nenek sangat baik," jawab Nenek Lidya.


"Lidya senang dengarnya," ucap Lidya.


"Oh ya Nek, apa Nenek bisa tinggal bersama Lidya untuk beberapa lama?" Tanya Lidya.


"Untuk cucu Nenek, apa yang gak akan Nenek lakukan," ucap Nenek Lidya.


"My grandma is the best," ucap Lidya seraya memeluk Neneknya.


"Hay, semua" suara Kelvin.


"Ya," jawab Lidya.

__ADS_1


"Nek, bolehkah aku meminjam cucu Nenek sebentar?" Tanya Kelvin.


"Bawa saja," jawab Nenek Lidya.


Kelvin menggandeng tangan Lidya masuk kedalam rumah. Lalu menaiki tangga masuk kedalam ruangan belajar Kelvin.


"Ada apa?" Tanya Lidya.


"Sekarang aku ini tunangan mu, apa tidak ada yang ingin kamu ucapkan?" Tanya Kelvin seraya duduk di meja belajarnya.


"Apa yang harus sa... aku katakan?" Tanya Lidya.


"Seperti aku mencintaimu, misalnya" jawab Kelvin.


"Jangan terlalu kegeeran Tuan. Apa Anda hanya membawa saya kemari untuk berbicara hal tak penting?" Tanya Lidya.


"Bukan Anda atau saya, tapi kamu dan aku. Dan aku ingin membicarakan hal yang sangat penting kepadamu," jawab Kelvin.


"Apa kamu sudah tahu tentang penyakit Nenekmu?" Tanya Kelvin.


Tiba tiba saja raut wajah Lidya berubah.


Dengan lemah Lidya mengangguk.


Lidya mendapat kabar dari orang yang dekat dengan Nenek Lidya. Kebetulan ia tinggal di samping rumah Nenek Lidya. Orang itu berkata bahwa Nenek Lidya masuk rumah sakit dan organ ginjal Nenek Lidya rusak dan harus segera mendapatkan donor. Kalau tidak mungkin nyawa Nenek Lidya akan melayang.


Lidya pernah mengecek ginjalnya, apakah cocok dengan Neneknya atau tidak. Tapi sangat disayangkan, ternyata tidak cocok.


"Kamu tahu darimana Nenekku memiliki penyakit?" Tanya Lidya.


"Dari temanku," jawab Kelvin.


"Aku akan berusaha untuk membantu Nenekmu agar cepat pulih," ucap Kelvin.


Lidya terdiam selama beberapa menit.


"Kenapa kamu baik sekali?" Tanya Lidya yang tidak habis pikir dengan Kelvin yang selalu siap sedia menolongnya.


"Lidya kamu adalah tunangan ku. Dan keluargamu juga adalah keluarga begitu juga sebaliknya," ucap Kelvin.


Ternyata aku hanya berharap. Dia baik kepadaku hanya karena aku tunangannya. Bukan karena dia mencintaiku. Dasar bodoh kamu Lidya. Kamu berharap dia mencintaimu Mimpi.


Lidya bergumam dalam hati.


Gadis mana yang gak akan tersanjung dengan sikap manis seorang pria. Pria yang selalu menolongnya setiap saat, bagaimana mungkin gadis itu tidak berharap pria itu memiliki rasa kepadanya.


"Keluargaku? Aku hanya memiliki satu keluarga, yaitu Nenekku?" ucap Lidya.

__ADS_1


__ADS_2