
"Tapi Lidya tanganmu dingin banget. Kamu sakit?" Tanya Kelvin.
"Tidak," jawab Lidya.
Kelvin menoleh ke belakang.
"Bagaimana kamu bilang kamu tidak sakit, sedangkan bibirmu saja pucat?" Tanya Kelvin dengan cemas.
"Sudah jalan saja," titah Lidya.
"Tapi-"
"Jalan atau aku turun," ancam Lidya.
"Baiklah," ucap Kelvin pasrah.
Kelvin menjalankan motor dengan kecepatan sedang. Karena ia takut jika nanti dia menjalankan motor dengan kecepatan tinggi, kondisi Lidya akan semakin memburuk.
__ADS_1
Sesampainya di lokasi, Lidya langsung turun dari motor. Kaki Lidya terasa lemas setelah turun dari motor. Entahlah kenapa tiba tiba Lidya menjadi seperti itu saat menaiki motor sport. Bahkan ia seperti baru pertama kali menaiki motor sport. Iya, memang yang pertama kali setelah kejadian 6 bulan lalu.
"Are you ok?" Tanya Kelvin.
Lidya mengangguk.
Lidya berjalan meninggalkan Kelvin masuk kedalam gedung. Ia duduk di kursi tunggu, menunggu giliran nama kampusnya di panggil.
***
Setelah selesai dengan urusannya, Lidya dan Kelvin balik ke kampus.
Bukan hanya itu, Gisel sudah menghasut orang orang sekelasnya untuk membenci Lidya. Memberikan cerita karangan tentang Lidya yang merebut kekasih Gisel. Sebenarnya itu tidak masalah bagi Lidya untuk teman kelasnya membencinya. Karena Lidya juga tidak ingin memiliki teman
Tapi teman temannya itu selalu menghinanya menyebutnya seorang wanita rendah dan wanita pelakor. Mereka juga melakukan sesuatu yang bukan hanya melukai batin Lidya tapi juga fisiknya.
Walau Dekan Uly sudah mengatakan akan membuat Gisel di DO. Tapi entah kenapa sampai saat ini Gisel masih ada di kampus.
__ADS_1
"Jadi selama ini lo itu pelakor. Pura pura jadi anak polos dan pendiam. Tapi ternyata di balik sikap lo itu, ternyata dia pelakor, cih. Dan sekarang dia mau merebut tunangan Gisel. Dadar gadis tak tahu diri," ucap seorang gadis yang kini berdiri di hadapan Lidya.
Lidya menghiraukan ucapan gadis itu dan tetap membaca buku.
Untung saja pengawas perpustakaan sedang keluar, kalau tidak Lidya yakin gadis yang ada di hadapannya ini akan mendapat masalah.
"Malah diam. Hey, gue bicara sama lo, JAWAB," bentak gadis itu seraya memukul meja trmpat Lidya membaca buku.
Karena Lidya masih diam, gadis itu mengambil sebuah cangkir dari atas meja seseorang yang berisikan teh panas lalu menyiramkannya kepada Lidya.
Seketika itu juga kemarahan Lidya bangkit.
"Iya saya pelakor trus Anda mau apa?" Tantang Lidya.
"Betulkan yang gue bilang. Hey semua dengar... Ternyata gadis ini adalah seorang pelakor. Dia sekarang kian mengincar tunangan Gisel. Dan kalian harus berhati jati dengannya. Apalagi perempuan, kalian harus menjaga pacar kalian agar tidak di rebutnya," ucap gadis itu dengan suara keras.
Lidya hanya diam mencoba mengendalikan kemarahannya agar tidak meledak dan mencoba menahan sakit akibat teh panas.
__ADS_1
Untung saja wajahnya tidak terkena teh itu karena tangannya dengan sigap melindungi wajahnya.
"Dan untuk para lelaki, kalian harus setia. Jangan pernah tergoda dengan wanita ini. Dia ini wanita yang suka menjual tubuh untuk merayu laki laki. Mungkin saja sekarang dia sudah tidak perawan dan mungkin dulu dia merayu kekasih Gisel, Kelvin dengan tubuhnya. Jadi jangan terayu seperti Kelvin, si pria bodoh itu," ucap gadis itu kembali.