Dibalik Semua Perubahan

Dibalik Semua Perubahan
Bab 52


__ADS_3

Tapi Lidya tidak melihat lambaian gadis itu diakibatkan posisi gadis itu yang ada di belakangnya.


Gadis yang bernama Quin itu ingin menjadi temannya. Itu jelas terlihat dari perilakunya. Teman? Lalu Sahabat? Dua kata itu tampak asing baginya sekarang. Memang sekarang dia memiliki seorang teman, yaitu Kelvin. Tapi selain itu untuk berteman dengan yang lain. Lidya merasa aneh. Di satu sisi dia ingin memiliki teman yang banyak. Namun di sisi lain, Lidya takut memulai hubungan baru. Ia takut jika suatu hari hubungannya itu tidak berjalan lancar dan orang yang berhubungan dengannya akan meninggalkannya sendiri.


Lidya berbaring di atas kasur. Pikirannya sangat kacau.


Peribahasa tentang roda kehidupan memang benar, Lidya percaya itu sekarang. Beberapa bulan yang lalu hidup Lidya bahagia walau tanpa kasih sayang Ayahnya. Karena saat itu masih ada Ibu, Kelvin, Nenek, teman temannya, juga sifatnya yang bersamanya. Namun sekarang tidak ada yang tersisa. Hanya ada Kelvin yang bersamanya. Itupun Lidya masih merasa aneh dengan kehadiran Kelvin.


"Kenapa hidupku sangat kacau sekarang? Kenapa semua penderitaan dicurahkan ke hidupku? Apa salahku? Sudah berulang kali aku bertanya, tapi mengapa tidak ada satupun jawaban yang kuterima? Kenapa takdirku memberiku penderitaan yang terlalu kejam ini?" Tanya Lidya sambil terisak menatap langit kamar seolah dia sedang menatap lawan bicaranya.


Lidya menangis meratapi nasibnya sampai ia tertidur pulas.


***


Jam sudah menunjukkan pukul 19.05. Tapi sampai sekarang Lidya masih tidak keluar dari kamarnya.


Mengikuti acara yang ramai seperti itu adalah hal menyenangkan bagi seorang Lidya. Tapi itu dulu, sekarang acara ramai seperti itu sangat membosankan bagi Lidya yang sekarang.


Lidya lebih memilih berkurung di kamar seharian, daripada berkumpul bersama dengan orang yang tidak dia kenal sama sekali.

__ADS_1


Tok tok tok


Terdengar suara pintu yang diketuk.


Dengan malas Lidya berjalan dan membukakan pintu. Di hadapannya berdiri Dae Ryung.


"Ada apa?" Tanya Lidya.


"Em, aku dengar malam ini Nona Rida membuat acara barbeque untuk merayakan kemenangan mahasiswi," ucap Dae Ryung dengan hati hati.


"Lalu?" Tanya Lidya.


"Kenapa kamu tidak pergi?" Tanya Dae Ryung.


"Lidya, acara barbeque itu sangat menyenangkan," ucap Dae Ryung.


"Lalu?" Tanya Lidya.


"Walau kamu tidak menyukainya, setidaknya hargailah usaha Nona Rida yang telah susah payah membuat acara ini," ucap Dae Ryung.

__ADS_1


"Tuan Dae Ryung yang terhormat, sebaiknya anda pergi saja. Membujuk saya tidak akan berguna sama sekali," ucap Lidya sambil mengatupkan kedua tangannya.


Lidya berniat untuk menutup pintu kembali. Namun Dae Ryung tak menyerah ia menahan pintu itu dengan tangan kirinya.


"Lidya, aku belum selesai," ucap Dae Ryung.


"Tuan Dae Ryung, apa anda sangat suka mengganggu urusan orang?" Tanya Lidya dengan muka datarnya.


"Lidya aku ingin bertanya, beri aku waktu sebentar," ucap Dae Ryung.


"Katakan," ucap Lidya tak sabar.


"Mengapa kamu menganggap acara barbeque sangat membosankan?" Tanya Dae Ryung.


"Bukan hanya acara barbeque tapi semua acara yang ramai, sangat sangat membosankan," jawab Lidya.


"Tapi kenapa?" Tanya Dae Ryung.


"Kenapa anda sangat keras kepala?" Tanya Lidya mulai kesal.

__ADS_1


"Kenapa kamu sangat keras kepala?" Tanya Dae Ryung balik.


"Hufs..." Lidya membuang nafasnya kasar menghadapi Dae Ryung yang keras kepala sama seperti dirinya, mungkin.


__ADS_2