
2 hari kemudian.
Hari ini adalah hari dimana Lidya akan berangkat untuk lomba olimpiade.
Pagi tadi Nenek Lidya baru saja dimakamkan. Lidya menunggu beberapa kerabat dari Neneknya sebelum memakamkan Neneknya.
Sekarang jarum jam menunjukkan pukul 13.45. Itu artinya dalam satu jam lima belas menit lagi, Lidya akan berangkat.
Jika saja tidak karena Neneknya. Kemungkinan besar Lidya akan berhenti mengikuti lomba.
Lidya membawa peralatan yang dia perlukan selama di sana. Ia menaiki salah satu taksi menuju kampusnya. Dari kampus mereka akan memulai perjalanan ketempat lomba.
Tepat pukul 15.00, mobil yang ditumpangi Lidya dan Kelvin melesat menyusuri jalanan ibu kota.
"Are you alright?" Tanya Kelvin. (Apa kamu baik baik saja?)
Lidya mengangguk dengan wajah datarnya.
Melihat tanggapan Lidya, Kelvin merasa sangat khawatir. Sejak tubuh tak bernyawa milik Nenek Lidya dibawa dari rumah sakit menuju rumah keluarga. Sejak saat itu Kelvin melihat wajah datar Lidya. Dan lebih anehnya lagi, Lidya tidak mengeluarkan sepatah katapun.
"Kalau kamu ingin menangis, menangislah" ucap Kelvin.
Lidya menggeleng menandakan ia tidak mau menangis.
"Air mataku sudah kering," ucap Lidya.
__ADS_1
"Lidya aku tidak suka melihatmu seperti ini. Kalau kamu ingin marah atau memukul lampiaskan padaku. Tapi jangan sampai berkomunikasi denganku seperti itu," ucap Kelvin.
Lidya mengepalkan tangannya. Tiba tiba saja sesak kekecewaan dan kesedihan menyebar memenuhi rongga dadanya.
"Berhenti, atau aku akan kehilangan kendali dan melukaimu," ucap Lidya seraya mengalihkan pandangannya ke kaca.
"Tidak apa apa. Lakukan saja semau mu. Asalkan sikapmu tidak dingin kepadaku," ucap Kelvin.
"Sial," Lidya bergumam kecil.
Lidya ingin mendaratkan kepalan tangannya kemuka Kelvin. Tapi kepalan tangannya itu berhenti di udara.
"Aku tidak bisa," ucap Lidya seraya menurunkan tangannya.
"Maaf, jika sikapku membuatmu tak nyaman," ucap Lidya.
"Tidak apa apa. Tapi jangan pendam semua penderitaan mu itu sendiri. Bagilah denganku," ucap Kelvin seraya menarik Lidya kedalam pelukannya.
Untung saja di mobil itu hanya ada mereka berdua juga supir pribadi kampus. Karena guru pembimbing mereka akan berangkat malam nanti.
Lidya pasrah, ia menyandarkan kepalanya ke dada Kelvin. Ada perasaan nyaman yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Karena efek kelelahan atau nyaman Lidya tertidur di pelukan Kelvin.
Sejak dua hari yang lalu, Lidya tidak pernah tidur dengan benar. Dan sekarang dia baru bisa memejamkan matanya dengan damai.
Kelvin mengelus rambut Lidya dan sesekali mencium dahi tunangannya itu.
__ADS_1
Semoga kita bisa selalu seperti ini,
Harapan Kelvin yang dia ucapkan dalam hati.
***
"Dimana aku?" Lidya merasa ketakutan karena tidak ada seorangpun yang dia kenal disini.
"Kak Kelvin," panggil Lidya berulang ulang kali.
Lidya menangkap sosok Kelvin yang sedang berdiri seolah menunggu Lidya mendatanginya.
Lidya berlari kearah Kelvin dan ingin memeluknya.
Tapi saat tangannya sudah terulur untuk memeluk Kelvin, sang tunangan. Seseorang dari belakang Lidya menarik tangannya paksa.
"Hey, lepaskan aku. Aku ingin bertemu sama tunangan ku," ucap Lidya berusaha melepaskan cekalan tangan orang asing itu.
"Kak Kelvin," panggil Lidya.
Tapi Kelvin tak bergeming dari tempatnya.
Saat jarak mereka sudah jauh, sebuah peluru tembakan melaju dengan cepat kearah Kelvin.
Dor...
__ADS_1
"Ah... tidak" teriak Lidya menutup mata tak kuat melihat apa yang terjadi.