
Plak...
Wajah putih Lidya sudah berubah menjadi merah, nafasnya kini memburu, dan jantungnya berdegub kencang akibat kemarahannya.
"Jangan anggap karena selama ini saya diam dan Anda bisa menghina saya begitu saja. Jika saja Anda hanya menghina nama saya mungkin saya tidak akan semarah ini. Tapi Anda sudah menghina seseorang yang saya sayangi. Dan untuk itu saya tidak akan mengampuni Anda. Dengar ini baik baik. Sekali saja Anda berani mengganggu saya, akan saya pastikan mulut yang menghina Kelvin akan robek dan tangan Anda itu akan berubah bentuknya," ucap Lidya dengan nada serius, sangat serius.
Lidya meninggalkan perpustakaan dengan kemarahan di dadanya. Bahkan pengawas perpustakaan yang menyapanya ia hiraukan.
"Kenapa dengannya. Baru kali ini aki melihatnya seperti itu. Dan kenapa pakaiannya basah?"
Lidya berjalan menuju jalan raya, yang akan membawanya pulang.
Tiba tiba saja saat dia di jalan, tanpa ada tanda tanda, hujan tiba tiba turun dengan deras.
Langit yang cerah tiba tiba mengeluarkan hujan deras.
__ADS_1
Lidya mempercepat langkahnya lalu membelok dari jalan pulang. Ia memilih pergi ke taman.
Setibanya di sana Lidya langsung berhenti di dekat pohon besar.
"Hiks..." suara tangis terdengar dari bibir Lidya.
Usahanya untuk menahan suara tangisnya ternyata gagal.
Lidya terduduk lesuh di dekat pohon itu.
Lidya bertanya dalam hati.
Apa salahku Tuhan? Kenapa kau sangat membenciku? Kenapa kau selalu mengambil orang yang ku sayangi? Pertama Kelvin, lalu Ibuku, lalu kasih sayang Ayahku. Walau selama ini dia pura pura menyayangiku, tapi tetap saja aku yakin sebenarnya dia menyayangiku. Karena aku ini putri kandungnya. Dan sekarang kau ingin merebut Nenekku? Aku tahu kau belum mengambilnya, tapi kau tidak mau menolongnya dengan memberikan pendonor untuknya. Kenapa hidupku ini sangat sulit? Kenapa takdirku sangat jahat?
Tanya Lidya kembali dalam hati.
__ADS_1
Ia mengadahkan kepalanya berusaha mencari Tuhan yang ada di atas. Berusaha menyampaikan isi hatinya dari tatapan matanya.
Lidya menyandarkan kepalanya ke pohon dan menutup matanya. Saat ini dia ingin mengistirahatkan pikirannya. Berusaha melupakan semua rasa sakit dan derita yang sudah dia alami.
Mungkin karena efek lelah atau pikiran yang kacau, Lidya tertidur dengan bersandar ke pohon.
"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu seperti seseorang yang memiliki banyak derita? Kenapa aku sebagai tunangan mu tidak bisa kamu jadikan bahu untuk bersandar? Kenapa kamu tidak mau menangis di pelukanku?" Gumam seseorang yang sedari tadi memperhatikan setiap gerak gerik Lidya.
Ya, dia adalah Kelvin.
Dekan Uly mendengar kejadian di perpustakaan tadi dari salah satu mahasiswa yang ada di sana. Mahasiswa itu adalah sahabat karib Kelvin yang saat itu tidak memiliki mata kuliah dan memilih untuk membaca buku di perpustakaan.
Dekan Uly yang khawatir karena Lidya terkena teh panas segera meminta tolong kepada Kelvin untuk mencari Lidya. Karena dari yang Dekan Uly lihat, Lidya sudah lebih dekat dengan Kelvin. Apalagi dua hari lagi dia harus berangkat untuk mengikuti lomba.
Dan Kelvin langsung pergi mencari keberadaan tunangan nya itu.
__ADS_1