
Kaki Lidya terasa mematung. Sulit sekali baginya untuk menggerakkan kedua kakinya itu.
Dia... dia pria itu. Mempelai di foto yang bersama Ibu. Dia suami Ibuku! Apa dia juga adalah Ayahku?
Lidya bertanya dalam hati.
Sejak menemukan labirin dan bingkai foto Ibunya, sejak hari itu Lidya masih belum berani membuka album yang ia temui. Ia masih belum siap menerima kenyataan jika yang dia pikirkan ternyata adalah suatu kebenaran.
"Hey Lidya," teriak Dae Ryung dari belakang.
"Hm?" Lidya menoleh dengan pandangan yang sulit diartikan oleh siapapun.
"Kamu kenapa?" Tanya Dae Ryung.
"Tidak ada," jawab Lidya seraya memaksakan kedua kakinya untuk maju ke depan.
"Kenapa kamu pergi tiba tiba?" Tanya Dae Ryung.
__ADS_1
"Saya benci basa basi mereka," jawab Lidya.
Lidya berkata begitu karena dia tahu dan dia sadar bahwa beberapa diantara mereka mengatakan selamat dengan tidak tulus. Lidya dan mungkin hampir semua orang pastinya membenci hal itu, mereka pasti membenci orang yang munafik.
"Begitu ya? Lalu kenapa kamu meninggalkan teman priamu itu? Kalau kulihat hubungan kalian cukup dekat. Dan sepertinya dia menyukaimu, kamu juga sepertinya nyaman dan suka kepadanya," ucap Dae Ryung.
"Bukan urusan anda," balas Lidya seraya berusaha keras agar air matanya tidak keluar.
Saat ini pikirannya masih dipenuhi akan siapa pria tadi.
Lidya berjalan menuju kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Untuk saat ini dia ingin memulihkan energinya untuk acara pengumuman sore nanti.
Lidya berusaha menenangkan bukan hanya fisik namun juga mentalnya. Berusaha agar bisa melupakan masalahnya walau hanya sesaat.
***
Tepat pukul 15.00 acara pengumuman dimulai. Lidya menggunakan sebuah kemeja merah maroon dan rok berwarna hitam. Lidya mengenakan rok atas permintaan dari salah satu juri.
__ADS_1
Tampak banyak tamu yang hadir di gedung itu. Mata Lidya menangkap sosok Ayahnya bersama Ibu tirinya duduk di kursi yang diperuntukkan untuk orang tua peserta lomba yang masuk tahap akhir. Tampak juga orang tua dari Kelvin yang duduk tidak jauh dari Ayah dan Ibu tiri Lidya.
"Lidya, kamu datang tepat waktu sekali. Seharusnya kamu datang sedikit lebih awal, karena tadi Mama mencari mu," ucap Kelvin saat Lidya sudah duduk di sampingnya.
"Maaf, tadi karena merasa bosan aku tertidur dan bangun terlambat," balas Lidya memberi alasan.
"Sejak kapan orang tua datang?" Tanya Lidya dengan mengernyitkan dahinya bingung.
"Katanya sejak kemarin malam mereka sudah mendapat undangan agar hadir disini," jawab Kelvin.
"Oh," balas Lidya mengangguk mengerti.
Sekarang Lidya mengerti, beberapa peserta yang gugur di tahap pertama dan memutuskan pulang kembali kesini, pasti ada hubungannya dengan juri.
"Selamat sore semua peserta lomba, guru pengawas, dan juga orang tua dari peserta yang sudah mau meluangkan waktu untuk menghadiri acara kami kali ini. Untuk pembukaan acara, saya panggil Tuan Han Dae Hyeon, selaku sponsor utama lomba ini," ucap MC memulai acara hari ini.
Suara langkah kaki yang terdengar tegas berjalan menaiki panggung. Mata Lidya terpaku melihat sosok pria itu. Berbadan tegap dengan tinggi di atas 180 cm. Tubuh yang atletis, garis garis ketegasan diwajahnya, membuat pria itu tampak berwibawa.
__ADS_1