
"Ada apa dengan surat ini? Kenapa anda bersikap berlebihan sekali?" Lidya bertanya seraya tangannya membuka amplop itu.
"Hey, kembalikan. Jadilah anak yang penurut," ucap Ayah Lidya sambil berusaha merampas amplop itu dari Lidya.
Namun lagi lagi gerakannya itu tidak kalah cepat dan gesit dari Lidya.
Lidya membuka amplop itu dan terperangah dengan isinya.
"Cek 2 milyar?" gumam Lidya.
Namun sedetik kemudian dia sudah merubah mimik wajahnya.
"Kembalikan pada Ayah," ucap Ayah Lidya dengan kesal.
"Kembalikan pada siapa? Ayah? Seingat saya, sejak lahir saya tidak punya seorang Ayah. Kenapa tiba tiba saja punya Ayah ya?" Lidya bertanya dengan nada suara mengejek.
Ke dua tangannya sibuk memain-mainkan selembar kertas di tangannya. Dia juga meremuk remukkan kertas itu sehingga menjadi bola kertas.
__ADS_1
"Lidya, jangan bermain main dengan itu," kecam Ayah Lidya dengan kesal juga takut.
"Ini? Hanya selembar kertas saja kok. Kenapa anda takut sekali? Apa yang spesial dengan kertas jelek ini?" Tanya Lidya.
"Dasar bodoh! Itu bukan kertas biasa. Itu sama dengan uang 2 milyar! 2 milyar!" ucap Ayah Lidya menekankan kata 2 milyar.
"Oh, hanya dua milyar saja," gumam Lidya.
Ayah Lidya tercengang dengan anak gadisnya ini. Hanya, Katanya? Dia menganggap uang 2 milyar hanya angka yang sepele. Ah, Ayah Lidya merasa bingung dengan putrinya itu.
"Lidya-" Ayah Lidya terhenti berbicara saat melihat apa yang dilakukan Lidya.
"Tidak, jangan," teriak Ayah Lidya histeris.
Lidya tidak perduli. Ia melanjutkan aktivitasnya dan dengan sengaja melempar kertas yang sudah di koyaknya menjadi bagian bagian kecil ke wajah Ayahnya.
"Astaga, Tuan. Kenapa anda membuang buang sampah sembarangan? Jika petugas kebersihan tahu, dia bisa menghukum anda. Mari, saya akan bantu anda membersihkan sampah ini," Lidya berucap dengan sedikit keras saat ujung matanya tak sengaja melihat petugas kebersihan.
__ADS_1
Petugas kebersihan di gedung ini terkenal akan kedisplinan nya dan cintanya akan kebersihan. Dia sangat tegas kepada orang yang merusak kebersihan dan tidak memandang usia.
"Ada apa ini?" Tanya petugas kebersihan yang tiba tiba datang.
"Pak, Tuan ini membuang sampah sembarangan. Dan saya ingin membantunya mengutip sampahnya," jawab Lidya.
"Siapa yang membuang sampah di sini?" Tanya petugas kebersihan dengan tegas.
"Bu-"
"Pak, tolong maafkan Tuan ini. Mungkin dia tidak sengaja," ucap Lidya memotong perkataan Ayahnya dan dengan sengaja berpura pura membelanya.
"Apakah anda yang membuang sampah Tuan? Apa anda tidak tahu tentang kebersihan? Anda sudah dewasa tapi saya rasa anak anak lebih cerdas dari anda! Apa anda ingin membersihkannya sendiri atau saya harus mengajarkan anda bagaimana caranya membersihkan sampah?" Tanya petugas itu.
Petugas kebersihan sangat tidak suka saat ada orang yang dengan sengaja membuang sampah sembarangan. Jika dia melihat hal itu, dia akan memberikan orang itu nasihat dan memaksanya untuk membuang sampahnya, bagaimanapun caranya.
"Untuk apa aku membuang sampah ini? Ini tugasmu, bukan tugasku. Di sini aku adalah tamu dan kau harus hormat dengan tamu," ucap Ayah Lidya dengan angkuh.
__ADS_1
"Ah maaf, saya ada urusan" ucap Lidya pamit pergi.
Ia tidak suka setiap kali melihat sikap angkuh Ayahnya. Walau sebenarnya dia tahu bahwa petugas kebersihan bisa menangani sikap angkuh Ayahnya.