Dibalik Semua Perubahan

Dibalik Semua Perubahan
Bab 61


__ADS_3

"Terima kasih Tuan Dae Hyeon karena sudah mau jauh jauh kemari untuk menghadiri acara ini. Setelah ini saya memanggil utusan juri untuk memberikan beberapa nasehat untuk para peserta agar dapat memotivasi mereka sehingga mereka menjadi lebih semangat dan lebih semangat lagi untuk mencapai mimpi mereka yang setinggi tingginya. Dengan prestasi mereka pula maka nama Negara kita tercinta ini akan semakin harum oleh penerus masa depan bangsa," ucap MC.


"Baiklah, saya panggil salah satu utusan juri untuk naik ke atas podium,"


Tepuk tangan meriah terdengar tak kalah saat Dae Ryung mulai menginjakkan kakinya di tangga panggung.


Berbagai sorak sorak meriah terdengar memenuhi ruangan.


"Selamat sore semua," sapa Dae Ryung.


"Sore," balas para tamu dan peserta.


"Gak terasa ya, lomba kita ini sudah selesai sampai disini. Siapa disini yang merasa lomba ini mengasyikan, angkat tangannya" ucap Dae Ryung.


Beberapa peserta mengangkat tangan, diantara mereka kebanyakan para gadis gadis yang mengangkat tangan.

__ADS_1


"Wah, banyak juga ya. Siapa diantara kalian yang mau menjawab pertanyaan Kakak, silahkan maju ke depan," ucap Dae Ryung.


Seorang gadis langsung berlari ke arah panggung. Dia adalah Quin.


"Siapa namamu?" Tanya Dae Ryung saat gadis itu sudah berdiri disampingnya.


"Quin,"


"Quin, nama yang indah. Mengapa bagi Quin lomba kali ini mengasyikan?" Tanya Dae Ryung.


Beberapa tamu undangan terlihat menahan tawa dan menahan senyum. Ada juga yang menggerutu melihat sikap Quin yang terlihat menjijikkan untuk disebut gadis baik baik.


Sedangkan untuk lara peserta, hampir semua dari mereka bersorak sorak meneriaki jawaban Quin


Lidya hanya terdiam.

__ADS_1


Ia tidak terlalu perduli karena memang Lidya sadar, bahwa gadis itu mengajaknya berteman tidak tulus. Gadis itu hanya ingin memanfaatkannya karena Lidya yang terlihat dekat dengan Dae Ryung. Dan lagi pula dia masih memikirkan perihal mata hijau zamrud.


"Saya anggap itu pujian, Nona" ucap Dae Ryung sambil menahan senyum geli.


"Karena Nona ini mau menjawab pertanyaan saya, saya memberikan sedikit bingkisan sebagai ucapan terima kasih," ucap Dae Ryung seraya mengambil sebuah tas kertas yang terletak di dekat podium.


"Terima kasih Kak, em... bolehkah aku mendapat tanda tangan Kakak?" Tanya Quin dengan malu malu.


Dae Ryung tidak dapat menyembunyikan senyum gelinya lagi. Ia mengambil pena dari balik jasnya dan memberikan coretan tanda tangan di tas kertas yang ada digenggaman Quin.


"Satu lagi Kak, bolehkah kita berfoto?" Tanya Quin lagi.


"Kalau berfoto kita lakukan setelah acara selesai," ucap Dae Ryung.


"Makasih Kak," ucap Quin tersenyum bahagia dan menunduk sejenak sebagai ucapan pamit undur diri.

__ADS_1


"Dari awal sampai akhir lomba ini, saya sudah memperhatikan semua para peserta. Mulai dari yang paling bersemangat hingga yang tak sangat tak perduli akan hasil lomba. Saat itu saya berpikir bahwa peserta yang tampak acuh itu pastinya akan langsung gugur di tahap pertama. Tapi ternyata saya salah, bahkan peserta itu mencapai tahap terakhir dan memenangkan perlombaan. Saat itu saya sadar bahwa kita tidak bisa menyimpulkan segala sesuatu tanpa tahu apa yang sebenarnya. Karena kemenangan lomba ini bukan hanya harus dilandasi kepintaran tetapi juga niat. Jika kita pintar tapi tidak ada niat, bagaimana?" Tanya Dae Ryung.


__ADS_2