
"Ayo, masuk" Kelvin menggandeng tangan Lidya menuju meja Resepsionis.
"Selamat datang Tuan Kelvin" Sapa Resepsionis.
"Iya," ucap Kelvin.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Tanya Resepsionis pria itu.
"Saya butuh satu apartemen," jawab Kelvin.
"Untuk siapa, Tuan?" Tanya Resepsionis itu.
"Untuk dia," jawab Kelvin.
Resepsionis itu melihat Lidya yang sedang digandeng oleh Kelvin.
"Tunggu sebentar Tuan, saya akan ambilkan key card nya," ucap Resepsionis tersebut.
Tidak berapa lama Resepsionis itu datang dengan sebuah key card ditangannya.
"Ini Nona, apartemen no 1120," ucap Resepsionis itu.
Lidya menerima key card itu.
"Terima kasih," ucap Kelvin mewakili Lidya.
Kelvin menggenggam tangan Lidya membawanya menuju lift untuk sampai ke apartemen no 1120.
Sesampainya di apartemen, Lidya membuka pintu menggunakan key card yang ada ditangannya.
Setelah pintu terbuka Lidya masuk kedalam diikuti oleh Kelvin.
"Untuk sementara tinggallah disini dulu," ucap Kelvin.
"Sampai kapan?" Tanya Lidya.
"Sampai aku yakin kamu akan baik baik saja tinggal bersama Ayah dan Ibu tiri mu," jawab Kelvin.
"Terserah," balas Lidya.
"Baiklah, aku pergi dulu" ucap Kelvin.
Setelah Kelvin pergi, Lidya menutup pintu apartemennya.
***
1 minggu kemudian.
Malam hari sabtu.
Kini Lidya sedang berada dikamar tamu rumah Kelvin. Ada dua MUA yang sedang merias Lidya.
Lidya yang memakai gaun berwarna merah dengan panjang selutut juga rambutnya yang dikepang di dua sisi lalu disatukan ditengah dihiasi permata permata kecil.
"Done," ucap salah satu MUA saat menyelesaikan meriasnya.
"Wah, Lidya. Lihatlah wajahmu, kamu sangat cantik," puji Mommy Kelvin.
"Ini tips untuk kalian," Mommy Kelvin memberikan sejumlah uang sebagai tips kepada kedua MUA itu.
__ADS_1
"Terima kasih, Nyonya" ucap kedua MUA itu seraya menerima tips yang Mommy Kelvin berikan.
"Ayo Lidya, kita keluar. Yang lain pasti sudah menunggumu," ucap Mommy Kelvin seraya menuntun Lidya menuju taman yang ada dibelakang rumah Kelvin. Taman itu sudah dihias sedemikian rupanya agar terlihat cantik.
Pertunangan Lidya dan Kelvin dilakukan diluar ruangan dengan keluarga saja yang menghadiri. Sesuai permintaan Lidya yang tidak ingin hubungan ini diketahui publik.
Lidya melihat Nenek dari pihak Ibunya datang menghadiri pertunangannya.
Lidya berjalan meninggalkan Mommy Kelvin pergi menuju Neneknya. Satu satunya orang yang dia sayangi.
"Nenek," Lidya memeluk Neneknya dengan sangat erat. Terakhir dia bertemu Neneknya saat pemakaman Ibu Lidya.
"Nenek, Lidya rindu Nenek," ucap Lidya menangis sambil memeluk Neneknya itu.
"Nenek juga rindu sama cucu Nenek satu satunya ini," ucap Nenek Lidya.
Ibu Lidya adalah anak tunggal dari sepasang suami istri. Jadi tidak heran kalau Nenek Lidya mengatakan bahwa Lidya cucu satu satunya.
Nenek Lidya melepaskan pelukan Lidya dan menghapus air mata Lidya seraya berkata,
"Cucu Nenek jangan nangis, nanti make up nya hancur," ucap Nenek Lidya.
"Nenek bisa aja," ucap Lidya.
"Lidya, ayo kita ke depan," Mommy Kelvin menuntun Lidya kembali ke depan.
"Nanti kita bicara lagi ya, Nek" ucap Lidya.
Mommy Kelvin menuntun Lidya sampai kesamping Kelvin. Setelah itu Mommy Kelvin meninggalkan Lidya yang ada di samping Kelvin.
"Siapa yang mengundang Nenek?" Tanya Lidya.
"Aku," jawab Kelvin.
"Terima kasih," ucap Lidya.
"Sudah kewajiban ku membuatmu bahagia dihari ini," ucap Kelvin.
Lidya melirik jari manisnya yang masih dihiasi cincin.
"Jika memang kamu ingin aku bahagia. Tolong jangan lepaskan cincin ini dari tanganku," ucap Lidya lirih.
Walaupun diucapkan pelan, Kelvin masih bisa mendengarnya.
"Kamu bilang apa tadi?" Tanya Kelvin.
Lidya menggeleng.
"Katakan saja, aku berjanji akan menurutinya," ucap Kelvin.
"Bisakah kamu... jangan melepaskan cincin ini dari jariku?" Tanya Lidya seraya menunjuk cincin yang berada di jari manis nya.
"Cincin? Dari mana kamu mendapatkannya?" Tanya Kelvin.
"Tolong jangan menyuruhku untuk melepaskannya," ucap Lidya dengan tatapan memohon.
"Katakan dulu darimana kamu mendapatkannya?" Tanya Kelvin.
"Dari sahabatku," jawab Lidya.
__ADS_1
Lidya takut Kelvin akan membuang cincin itu jika tahu bahwa cincin itu pemberian dari kekasihnya.
"Hanya sahabat?" Tanya Kelvin dengan tatapan menyelidik.
"Bukan, lebih dari sahabat" jawab Lidya.
"Kalau aku bisa membuat cincin itu tetap melekat di jarimu, apa yang akan kamu berikan kepadaku sebagai balasannya?" Tanya Kelvin.
"Apa pun yang kamu inginkan asal cincin ini tetap dijari ku," jawab Lidya.
"Aku mau kamu tetap memanggilku seperti panggilan yang kamu lakukan sekarang. Aku dan kamu. Bukan saya dan Anda," ucap Kelvin mengutarakan keinginannya.
Lidya terdiam sesaat. Lalu ia menghembuskan nafas dengan berat.
"Baiklah, akan saya coba," jawab Lidya.
"Bukan saya tapi aku. Dan jangan mencoba tapi harus dilakukan," ucap Kelvin.
"Terserah," balas Lidya.
Lidya melirik jam ditangannya yang menunjukkan pukul 19.55 itu artinya acara akan di mulai 5 menit lagi.
"Apa An, kamu bahagia dengan pertunangan ini?" Tanya Lidya tanpa melihat lawan bicaranya.
"Aku bahagia. Sangat," jawab Kelvin.
Dari nada suaranya saja Lidya sudah tahu Kelvin bahagia, bukan sepertinya yang merasa sangat berat untuk menjalani prosesi pertunangan ini.
"Bagaimana dengan mu sendiri?" Tanya Kelvin.
"Pernikahan ini terjadi karena wasiat dari Ibu. Bukan karena kemauanku. Jadi bagaimana mungkin aku bahagia," jawab Lidya.
"Apa aku belum berhasil masuk kedalam hatimu?" Tanya Kelvin.
"Belum," jawab Lidya diiringi gelengan kepalanya.
"Aku harus melakukan apa untuk bisa masuk kedalam hatimu?" Tanya Kelvin.
"Kamu ha-" belum sempat Lidya menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara operator yang menandakan pertunangan akan segera dimulai menghentikan Lidya.
"Lidya, kemari kan cincinmu itu," ucap Kelvin seraya menunjuk cincin dijari manis Lidya.
"Untuk apa?" Tanya Lidya.
"Kemari kan saja," ucap Kelvin yang tak ingin menjawab pertanyaan Lidya.
Karena Lidya masih juga tidak ingin memberikan cincinnya, terpaksa Kelvin mengambil cincin itu dengan paksa. Bahkan sampai membuat bekas merah di jari mulus Lidya.
"Kelvin mau kamu apakan cincinku?" Tanya Lidya takut jika Kelvin akan membuang cincinnya.
"Sudah duduk dengan baik. Jangan membuat semua orang curiga dengan sikapmu itu," ucap Kelvin menegur Lidya.
Lidya menatap Kelvin dengan tatapan tajam dan nafasnya juga memburu mencoba menahan amarah dalam dirinya.
Kedua orang tua dari mereka naik ke atas panggung dengan masing masing di tangan mereka terdapat sebuah kotak kecil yang berisikan cincin pertunangan Lidya dan Kelvin.
Kedua orang tua Kelvin berdiri di samping Kelvin dan kedua orang tua Lidya berdiri di samping Lidya.
Ayah Kelvin dan Ayah Lidya memberikan cincin kepada Kelvin dan juga Lidya.
__ADS_1
Lidya menerima cincin yang di berikan Ayahnya kepadanya dengan tangan yang sedikit gemetar. Tidak sanggup menghadapi kenyataan yang mengatakan dia akan segera bertunangan dengan orang asing.