Dibalik Semua Perubahan

Dibalik Semua Perubahan
Bab 12


__ADS_3

Lidya yang sudah tidak tahan dengan pusing di kepalanya, tetap saja berusaha bertahan.


"Lidya," suara teriakan panik dari Kelvin Lidya dengar.


"Kenapa kamu harus bermain hujan?" Tanya Kelvin panik yang sekarang sudah menjadi sandaran kepala Lidya.


"Tolong jangan bawa saya untuk dirawat di rumah sakit," ucap Lidya dengan bibir bergetar nya.


"Sudah diam lah," ucap Kelvin seraya menggendong tubuh Lidya dan membawanya masuk ke dalam kamar tamu.


Lidya yang memang benar benar tidak dapat menahan pusing di kepalanya, akhirnya pingsan begitu saja.


"Lidya," Kelvin menepuk nepuk pelan pipi Lidya.


"Bi," panggil Kelvin seraya mengambil selimut tebal dari lemari.


"Iya, Tuan" sahut pembantu Kelvin yang saat mendengar panggilan tuannya langsung bergegas. Apalagi saat mendengar Tuannya memanggilnya dengan nada yang panik.


"Tolong hubungi Dokter Yuni, suruh dia untuk datang kemari. Tapi jangan sampai Mommy dan Daddy tahu," ucap Kelvin seraya menyelimuti Lidya dengan selimut tebal yang tadi dia ambil.


"Baik, Tuan" balas Bibi yang langsung pergi melakukan perintah Tuan mudanya.


Kelvin menutup jendela rapat rapat dan mematikan AC agar Lidya tidak bertambah kedinginan.


Lalu Kelvin duduk di samping Lidya dan menggosok gosok tangan Lidya yang sangat dingin.


"Lidya, bangunlah" pinta Kelvin.


Tidak sampai sepuluh menit menunggu, Dokter Yuni telah datang.


"Dokter, tolong periksa dia," pinta Kelvin.


Dokter Yuni mengeluarkan alat alatnya dan segera memeriksa kondisi Lidya.


Dokter Yuni meletakkan stetoskop miliknya di area perut bagian atas Lidya.


Setelah beberapa saat, Dokter Yuni meletakkan stetoskop miliknya ke meja nakas.


"Bagaimana?" Tanya Kelvin masih dengan wajah khawatirnya.


"Apakah dia sering keluar malam atau terkena air hujan?" Tanya Dokter Yuni.


"Sepertinya dia memang suka bermain hujan dan tadi pun dia bermain hujan," jawab Kelvin.


"Tolong larang dia untuk bermain hujan apalagi saat malam hari. Karena kondisinya sekarang sudah cukup buruk. Dia juga kekurangan asupan gizi. Dan juga menderita penyakit maag. Karena makan dengan tidak teratur. Jadi saya sarankan untuk di bawa ke rumah sakit," ucap Dokter Yuni.


"Tapi, Dokter dia tidak suka jika harus di rawat di rumah sakit," ucap Kelvin.


Apakah perawatannya bisa dilakukan di sini saja?" Tanya Kelvin.


"Baiklah, aku keluar sebentar untuk menyuruh asistenku membawa segala keperluannya, Selama itu suruh pembantu mu untuk mengganti pakaiannya yang basah," ucap Dokter Yuni.


"Baiklah, Dokter" balas Kelvin.


Kelvin menyuruh salah satu pembantu perempuan untuk mengganti pakaian Lidya dengan pakaian Mommy nya yang merupakan Kaos lengan panjang dan celana panjang.

__ADS_1


"Terima kasih, Bi" ucap Kelvin saat pembantu yang ia suruh sudah menyelesaikan tugasnya.


"Iya, Tuan" balas pembantu tersebut.


***


Kelvin menatap Lidya yang masih setia dengan tidur nyenyak nya. Bahkan sekarang tangan Lidya sudah menancap jarum infus.


Jam sudah menunjukkan pukul 15.20 itu artinya Lidya sudah pingsan dua jam lebih. Dan selama itu Kelvin masih setia duduk di samping Lidya.


Jari Lidya yang berada di genggaman Kelvin mulai bergerak menunjukkan tanda tanda si empu jari akan segera sadar.


Dengan perlahan namun pasti Lidya membuka matanya mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya di dalam kamar itu.


"Lidya kamu sudah sadar," suara Kelvin yang menjadi suara pertama yang Lidya dengar.


Lidya mencoba duduk.


Biar aku bantu, ucap Kelvin seraya membantu Lidya untuk duduk.


"Terima kasih," ucap Lidya tulus.


"Saya dimana?" Tanya Lidya saat melihat dia berada disebuah kamar asing.


"Di kamar tamu rumah aku," jawab Kelvin.


Lidya melihat tubuhnya yang kini sudah memakai pakaian yang berbeda.


"Siapa yang ganti baju saya?" Tanya Lidya.


"Tadi Bibi Jeny yang ganti baju kamu. Dokter nyuruh untuk pakaian kamu segera di ganti," jawab Kelvin.


"Hey, jangan di lepaskan," ucap Kelvin melarang Lidya.


"Saya mau pulang," ucap Lidya.


"Tapi kamu masih lemah, Lidya" ucap Kelvin.


"Saya bisa istirahat di rumah," ucap Lidya.


"Mau istirahat di rumah bagaimana? Dokter saja bilang kalau kamu kekurangan asupan gizi dan makan tidak teratur," ucap Kelvin yang tidak ingin dibantah.


"Sudahlah lupakan saja. Mau saya sakit atau tidak, kan saya yang ngerasain bukan Anda. Jadi jangan terlalu suka mengurus saya," ucap Lidya.


"Lidya, aku ini tunangan kamu. Aku khawatir dengan kamu," ucap Kelvin.


"Tunangan, tunangan, tunangan. Kenapa sih Anda selalu saja mengancam dengan kata itu. Saya ini bukan anak kecil yang suka dilarang ini dilarang itu," Lidya berucap dengan kesal.


"Lidya sebelum kamu benar benar pulih, aku gak akan biarin kamu keluar dari kamar ini," ucap Kelvin yang tak ingin dibantah.


"Terserah," balas Lidya.


Lidya menurunkan kakinya dari tempat tidur.


"Mau kemana?" Tanya Kelvin.

__ADS_1


"Ke toilet. Gak boleh juga?" Tanya Lidya dengan nada jengkel.


"Biar ku bantu," ucap Kelvin.


"Tidak perlu," balas Lidya.


Lidya berjalan dengan tangan membawa kantong infus, menuju toilet yang ada di kamar tersebut.


Tidak berapa lama Lidya pun keluar. Tadi Lidya tidak mendapati Kelvin di kamar tersebut. Lidya yang tidak ingin ambil pusing, langsung duduk di tempat tidur setelah meletakkan kantong infus di tempatnya semula.


Lidya duduk sambil menutup matanya berusaha menahan pusing yang kembali menyerang kepalanya.


Pintu kamar terbuka, tapi Lidya tidak memiliki cukup tenaga untuk membuka matanya.


"Lidya," suara yang selalu Lidya dengar akhir akhir ini, Kelvin.


"Hmm," balas Lidya.


"Ini makanlah dulu, setelah itu minum obat," ucap Kelvin.


"Letakkan saja, nanti saya akan memakannya," ucap Lidya.


"Tidak ada nanti nanti, makanlah sekarang," ucap Kelvin.


"Tolonglah, saya tidak memiliki cukup tenaga untuk berdebat," ucap Lidya masih dengan mata terpejam.


"Buka mulutmu," ucap Kelvin.


Lidya hanya diam tanpa menuruti perkataan Kelvin.


"Lidya, buka mulutmu. Biar aku yang menyuapi mu. Kalau tidak nanti makanannya akan dingin," ucap Kelvin.


Lidya membuka mulutnya sesuai keinginan Kelvin.


Sesuap nasi masuk ke mulut Lidya, segera Lidya mengunyah dan menelannya. Begitu sampai nasi tersebut habis.


"Apa kamu merasa pusing?" Tanya Kelvin.


Lidya mengangguk dengan lemah.


"Minum dulu obat mu. Disini ada obat pereda pusing," ucap Kelvin seraya memberikan 3 obat beserta segelas air hangat.


Dengan perlahan Lidya membuka matanya dan menerima obat juga air hangat dari tangan Kelvin.


Lidya langsung meminum dan menelan obat itu.


"Terima kasih," ucap Lidya.


"Sama sama," balas Kelvin.


"Apa sekarang Anda bisa mengantar saya pulang?" Tanya Lidya.


"Apa kamu tidak bisa menginap disini?" Tanya Kelvin.


"Tidak bisa," jawab Lidya.

__ADS_1


"Tapi kondisimu belum pulih," ucap Kelvin.


"Baiklah, saya akan tetap di sini sampai jam 7," ucap Lidya.


__ADS_2