
"Belum ada rencana Om. Saya mau kumpulkan uang dulu untuk melanjutkan kuliah. Saya tidak mau menyusahkan orang tua," jawab Leny.
Leny kuliah di Korea karena mendapat beasiswa. Dan dia tidak mau menambah beban orang tuanya dengan meminta uang untuk melanjutkan kuliahnya. Di tambah dia sedang mengandung. Dan dia tidak mungkin mencari pekerjaan yang terlalu berat.
"Bagaimana kalau kamu merawat saya saja?" Tanya Ayah Angga.
"Ayah, ada perawat dan dokter yang lebih berpengalaman yang bisa merawat Ayah," ucap Angga tak terima.
Senyum Leny yang tadi terbit karena tawaran Ayah Angga kini memudar karena ucapan Angga.
"Angga, kenapa kalau mereka berpengalaman? Kamu ingat kemarin dialah yang menolong Ayah. Ayah berada disini saat ini dalam keadaan bernafas karena dia. Ayah berhutang nyawa kepadanya," ucap Ayah Angga.
"Terserah Ayah saja," ucap Angga kesal lalu langsung pergi.
"Leny, kamu maukan merawat saya?" Tanya Ayah Angga.
"Eh... Om sepertinya yang dikatakan anak Om benar. Saya hanya mahasiswi kedokteran yang belum memiliki pengalaman apa apa," jawab Leny merendah.
__ADS_1
"Jangan pikirkan perkataan anak itu. Yang merawat saya harus kamu," ucap Ayah Angga bersikeras.
Ayah Angga hanya ingin menolong Leny. Itu sebabnya ia bersikeras. Karena melihat dari karakternya, Ayah Angga yakin bahwa Leny tidak akan menerima uang yang dia berikan sebagai tanda terima kasih.
"I-itu..."
"Terimalah nak," ucap Ibu Angga yang baru membuka suaranya sejak Leny datang.
"Ba-baiklah, Om" ucap Leny.
Menit menit terakhir sebelum Ayah Angga tiada.
"Ayah, Angga tidak mau menikah dengan wanita ini. Angga sudah punya kekasih, Ayah" tolak Angga ketika mendengar wasiat Ayahnya yang barusan dia ucapkan.
"Om, Leny juga tidak bisa menikah dengan anak Om. Leny sudah menikah dan sedang mengandung Om. Om kan tahu itu," ucap Leny yang mengagetkan Angga.
Namun Ibu Angga tidak kaget karena Leny pernah bercerita soal itu dengan dia dan suaminya.
__ADS_1
"Ayah dengar, dia sudah menikah dan sedang mengandung. Angga tidak mau menikah dengan wanita seperti dia," ucap Angga bersikeras.
"Jadi kamu pikir kekasihmu itu baik, ha?" Ayah Angga tampak berteriak membuatnya menjadi sangat lemah dan terbatuk.
"Om, tenanglah. Jangan marah, kondisimu bisa memburuk," peringat Leny.
"Waktuku sudah tidak banyak lagi. Angga pikirkanlah ini, Ayah tidak akan tenang jika kamu tidak menikah dengan Leny," ucap Ayah Angga.
"Angga tidak mau Ayah. Jangan paksa Angga," ucap Angga menaikkan suaranya.
"Angga," Ibu Angga menatap tajam putra sulungnya itu.
"Om, maaf tapi Leny tidak mau menikah lagi. Leny masih mencintai suami Leny," ucap Leny pelan karena dia memang harus jujur. Dia masih mencintai pria yang sudah menjadi suaminya itu. Dan sekarang anaknya dan pria itu hidup didalam rahimnya.
"Ayah dengarkan! Kami mencintai orang lain. Jangan merusak hidup kami dengan keputusan konyol Ayah itu," ucap Angga marah.
"Kakak, jangan marah marah didepan Ayah. Hormatilah keinginan terakhir Ayah. Berikan kenangan indah untuk terkahir kalinya dengan Ayah. Jangan membuat kenangan terakhir dengan Ayah buruk. Aku ingin mengenang kenangan indah bukan buruk," ucap Derna adik perempuan Angga menangis melihat Kakaknya marah marah didepan Ayahnya yang nafasnya sudah tersengal-sengal.
__ADS_1