
"Lalu?" Tanya Kelvin.
"Aku meminta Kelvin untuk tidak memperpanjang masalah itu dan setelah aku bujuk akhirnya dia mau menuruti ku," jawab Lidya.
"Namanya Kelvin sama sepertiku. Apa aku juga bisa menggantikan posisinya?" Tanya Kelvin hati hati.
"Tidak," Lidya langsung menjawab dengan cepat.
"Di dunia ini tidak akan ada seorang pun yang bisa menggantikan posisinya," ucap Lidya marah.
Bagaimana bisa Kelvin bertanya ingin menggantikan posisi Kelvin. Nama mereka mungkin sama, tapi mereka dua manusia berbeda, bukan?
"Tenanglah, Lidya. Jangan terbawa emosi," Kelvin berusaha menenangkan Lidya yang tadi sempat menarik perhatian para pengunjung.
Lidya menghembuskan nafasnya berulang ulang dengan perlahan lahan. Berusaha menetralkan emosinya.
"Lupakan perkataan ku tadi," ucap Kelvin.
"Hmm," balas Lidya.
"Aku harus pergi, Nenek menungguku," ucap Lidya yang beranjak dari duduknya.
"Baiklah, biar aku antar," tawar Kelvin.
"Tidak perlu," tolak Lidya.
Lidya meninggalkan Kelvin menuju lift.
***
Malam hari di rumah Kelvin.
__ADS_1
Kelvin sekeluarga kedatangan tamu yaitu Gisel dan Ayah Ibunya.
"Halo, jeng" sapa Mommy Kelvin.
"Halo juga, jeng" balas Mami Gisel.
"Hay, Kak Kelvin" Gisel langsung saja memeluk Kelvin.
"I-iya Gisel," ucap Kelvin sedikit canggung.
"Ayo masuk, Jeng" ucap Mommy.
"Duduk dulu," ucap Mommy mempersilahkan tamunya duduk.
"Bi," panggil Mommy Kelvin.
"Iya, nya" ucap Bibi.
"Bibi buatin minum ya," ucap Mommy.
Bibi pergi ke dapur melakukan apa yang diperintahkan majikannya.
Daddy Kelvin dan Papi Gisel berbicara soal bisnis mereka.
Mommy Kelvin dan Mami Gisel berbicara soal arisan.
Sedangkan Kelvin memainkan ponselnya. Membaca pesan dari Dekan Uly yang mengatakan bahwa lomba olimpiade dimajukan menjadi sebulan lagi. Dan Dekan Uly menambah jadwal latihan mereka menjadi hari Senin, Rabu, Sabtu, dan Minggu.
"Mom, Kelvin ke belakangan sebentar ya. Mau nelpon Lidya, ada penambahan jadwal latihan," izin Kelvin kepada Mommy nya.
"Iya," jawab Mommy Kelvin.
__ADS_1
Kelvin beranjak dari duduknya pergi ke belakang dimana ada kolam berenang.
Kelvin melakukan panggilan video call kepada Lidya. Tidak berapa lama Lidya menjawab panggilan Kelvin
Tampak Lidya yang sedang duduk di atas sofa dengan di sampingnya ada Nenek Lidya.
"Hay, Nek" sapa Kelvin.
Nenek Lidya membalas dengan gerakan melambai.
"Ada apa?" Tanya Lidya.
"Lidya, kalau bicara itu di sapa dulu. Jangan langsung bertanya. Harus sopan, apalagi dia itu tunangan mu, orang yang akan menjadi suami mu. Kamu harus hormat padanya," Nenek Lidya menegur sekalian menasihati.
"Iya, Nek" ucap Lidya.
"Halo, apa kabar?" Tanya Lidya dengan nada menunjukkan keterpaksaan.
Kelvin yang mendengar suara Lidya hampir saja tertawa jika tak ingin Nenek Lidya menganggap nya tidak menghargai.
"Baik, kalau kamu sendiri?" Tanya Kelvin balik.
"Baik," jawab Lidya.
"Nek, aku ke kamar bentar ya," izin Lidya.
Nenek Lidya mengangguk
"Ada apa?" Tanya Lidya setelah yakin Nenek nya tidak mendengat ucapan dinginnya.
"Tapi Dekan Uly memberitahu bahwa lomba olimpiade kita dimajukan satu bulan lagi. Jadi, Dekan Uly menambah jadwal latihan kita menjadi hari Senin, Rabu, Sabtu, dan Minggu," jawab Kelvin.
__ADS_1
Lidya termenung sesaat.
Ia bingung dengan hidup nya yang akan terjadi satu bulan ke depan. Di satu sisi dia akan mengikuti olimpiade. Dan di sisi lain kesehatan Nenek nya yang semakin menurun dan harus di operasi dalam waktu satu bulan ini.