
Saat sudah ada di luar ruangan, mata Lidya menangkap sosok Kelvin dan Gisel yang dalam pose berpelukan. Mereka berpelukan lama.
Melihat hal itu, entah kenapa dada Lidya menjadi sesak.
Dengan segera Lidya berlari menjauh dari tempatnya berada.
Lidya berhenti di dekat pohon besar setelah ia yakin telah berlari jauh.
Lidya kenapa kamu malah begini? Bukankah kamu yang ingin dia pergi? Jadi sekarang setelah dia menemukan gadis yang dia sukai, kenapa kamu malah menangis? Seperti gadis cengeng saja,
ucap Lidya dalam hati.
Mendengar kata katanya tersebut. Bukannya tangis Lidya mereda, malah semakin kencang.
"Tolong jangan nangis," pinta Lidya kepada dirinya sendiri.
"Dari pada nangis disini, mending aku ke pemakaman Ibu. Kan gak lucu kalau aku pulang dan Nenek melihat mata yang berair ini," gumam Lidya lirih.
Seperti biasa Lidya berjalan kaki menuju pemakaman sang Ibunda tercinta.
__ADS_1
Di sana Lidya menangis sejadi jadinya. Orang yang berlalu lalang melihat Lidya menangis hanya memaklumi. Karena itu adalah tempat pemakaman dan orang yang menangis di sana adalah hal wajar.
"Bu, kenapa Lidya malah nangis? Masa iya Lidya nangis hanya gara gara pria itu. Lidya tidak mencintainya kan. Lalu kenapa sekarang Lidya malah nangis?" Lidya bertanya dalam hati.
"Oh, Lidya tahu. Lidya nangis pasti gara gara 3 minggu lagi tanggal hari peringatan kematian Kelvin dan Ibu. Iya, pasti karena itu," Lidya berusaha meyakinkan alasannya menangis gara gara Kelvin dan Ibunya.
Setelah merasa lebih tenang, Lidya beranjak dari tempatnya untuk pulang ke apartemen.
***
"Lidya," panggil Nenek saat Lidya sedang menutup pintu.
"Ya, Nek" sahut Lidya.
Lidya terdiam mendengat pertanyaan Neneknya. Pasalnya ia tidak pernah memberitahu Neneknya tentang olimpiade itu. Dan sekarang bagaimana bisa Neneknya tahu?
Lidya tersenyum sambil menjawab, "olimpiade apa? Lidya sama sekali tidak tahu bahwa ada lomba olimpiade."
Nenek Lidya menghembuskan nafasnya kasar. Ia sangat yakin bahwa cucunya ini sedang berbohong.
__ADS_1
"Nenek tidak ingin menjadi penghalang untuk kesuksesanmu. Kalau memang alasanmu mundur karena Nenek, maka di saat itu juga Nenek akan menunduk malu. Karena sebagai Nenekmu, Nenek tidak bisa mendukung kesuksesanmu," ucap Nenek Lidya.
"Nek, jangan berkata begitu," ucap Lidya.
"Lidya memang tidak pernah mengikuti pembelajaran olimpiade itu," ucap Lidya kembali berbohong.
"Kamu tidak bisa membohongi Nenek, Lidya. Dari kecil Nenek selalu mengingatkan kepadamu untuk berkata jujur dalam kondisi apapun. Sekali kamu berbohong, maka kamu akan terus dan terus untuk berbohong," ucap Nenek Lidya.
Lidya mengangguk mendengar perkataan yang lebih menuju nasehat dari Neneknya itu.
Setelah mengatakan itu Nenek Lidya pergi masuk ke dalam kamar meninggalkan Lidya yang melamun memikirkan perkataan Neneknya.
"Nenek benar, aku tidak boleh menjadikan Nenek alasan untuk menghalangi keberhasilanku. Jika aku sukses, maka Nenek akan bangga kepadaku. Dan Nenek juga pasti akan bahagia. Demi Nenek aku akan berpartisipasi kembali," ucap Lidya kepada dirinya sendiri.
Lidya ingin mengambil ponselnya dari dalam tas.
Disaat dia memegang ponselnya secara bersamaan ponselnya berdering menandakan ada yang menghubunginya.
Lidya melihat ID sipemanggil yang bertuliskan Dekan Uly.
__ADS_1
"Kebetulan sekali," gumam Lidya. Sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya.
Tanpa menunggu lama Lidya langsung menekan tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut.