
"Terima saja Kak. Kak Leny lebih baik dari kekasihmu. Kak Leny baik, cantik, pintar, lalu apalagi? Terima saja Kak, aku mohon" ucap Derna memohon.
Derna tahu bahwa tidak akan lama lagi Ayahnya akan pergi. Dan dia tidak mau didetik detik terakhir hidupnya, Ayahnya malah melihat kemarahan. Dia ingin menciptakan kenangan indah untuk terakhir kali dengan sang Ayah.
"Terimalah Angga," paksa Ibu Angga.
"Ya, baiklah. Angga akan terima kalau Leny juga terima," ucap Angga.
Kini semua orang menatap kearah Leny dengan penuh harap kecuali Angga. Dia hanya menatap Leny dengan pandangan yang menyiratkan 'tolak saja'.
"Baiklah, Om" jawab Leny terpaksa karena dia tidak mau pria tua dihadapannya ini mati dengan tidak tenang.
"Angga jaga baik baik Leny. Juga jaga baik baik Ibu dan Adikmu," setelah mengatakan kata kata itu akhirnya Ayah Angga dapat menghembuskan nafas terakhirnya dengan senyuman diwajahnya.
Saat itu juga tangis Derna, Ibu Angga, dan Leny langsung turun. Bagaimanapun Leny sudah menghabiskan satu bulan setengah bersama pria yang sudah tak bernyawa itu. Seiring berjalannya waktu tumbuh kasih sayang diantara mereka berdua. Sehingga saat pria itu terbujur kaku Leny merasa kehilangan.
__ADS_1
Sedangkan Angga dia hanya menahan agar tangisnya tidak turun. Dia adalah seorang pria dan dia tidak boleh menangis.
***
"Ibu, aku tidak mau menikah dengan Leny" ucap Angga setelah tiga hari sejak kematian Ayahnya.
"Apa maksudmu Angga? Kau tidak mau menjalani wasiat terakhir Ayahmu" Tanya Ibunya kesal.
"Aku sudah bilang, aku sudah punya kekasih Ibu," bentak Angga menekankan kata kekasih.
"Kakak," untuk pertama kalinya tangan Derna mendarat di pipi Kakaknya itu.
"Kakak, Derna tidak akan terima jika Kakak membentak Ibu. Apalagi demi wanita sialan itu," ucap Derna dengan kesal.
"Derna," tangan Angga akan mendarat di pipi Derna jika dia tidak ingat siapa gadis dihadapannya ini dalam hidupnya.
__ADS_1
"Kakak mau menampar Derna, adik Kakak sendiri demi wanita rendahan itu?" Tanya Derna.
"Derna, jangan buat Kakak lupa statusmu," ucap Angga juga kesal.
"Angga jangan menampar adikmu," ucap Ibu Angga tak kuasa menahan tangisnya melihat kedua anaknya sedang bertengkar.
"Ibu jangan menangis untuk anak seperti dirinya. Dia menentang keluarganya untuk kekasihnya yang rendahan itu. Dia bahkan tidak tahu bagaimana sifat asli wanita yang dia sebut kekasih itu," ucap Derna masih dengan nada kesal.
"Derna jangan berbicara buruk tentang calon istriku, yang artinya calon kakak iparmu," ucap Angga.
"Derna tidak menerima dia sebagai kakak ipar Derna. Lebih baik Derna mati daripada mengakui wanita rendahan itu sebagai kakak ipar ku," ucap Derna.
"Dengar baik baik Kak," Derna langsung berbicara tanpa memberikan Kakaknya kesempatan untuk membalas ucapannya.
"Wanita yang kau sebut kekasih itu bekerja di club sebagai wanita panggilan. Dia sudah melayani banyak sekali pria hidung belang. Dan wanita seperti itu tidak kuterima menjadi Kakak iparku," ucap Derna membuat Angga syok.
__ADS_1
Yang Angga tahu kekasihnya itu adalah wanita baik baik sangat bertolak belakang dengan ucapan Derna.
"Derna lebih memilih Kak Leny menjadi kakak ipar Derna dibanding wanita itu. Ya memang Kak Leny sudah menikah dan sedang mengandung. Tapi dia seribu kali lebih baik daripada kekasihmu itu," ucap Derna.