Dibalik Semua Perubahan

Dibalik Semua Perubahan
Bab 28


__ADS_3

"Halo Lidya selamat siang," sapa Dekan Uly.


"Siang, Dekan" balas Lidya.


"Maaf menganggu Lidya, tapi sebenarnya Dekan menghubungimu karena ada hal penting yang ingin Dekan bicarakan," ucap Dekan Uly.


"Apa itu, Dekan?" Tanya Lidya.


"Sebaiknya kita membicarakan ini secara langsung. Rasanya kurang mengenakan kalau dibicarakan melalui telepon. Apa Lidya bisa menemui Dekan di kampus sekarang?" Tanya Dekan Uly.


Lidya melirik jam di pergelangan tangannya.


"Bisa, Dekan" jawab Lidya.


"Baiklah, Dekan tunggu Lidya" ucap Dekan Uly lalu mematikan sambungan telepon.


Lidya menuliskan surat untuk Neneknya yang ia letakkan di atas meja. Lidya tidak ingin menganggu Neneknya yang mungkin butuh waktu sendiri untuk beberapa saat.


***


Kampus, Kantor Dekan Uly.


"Lidya maaf menggangu waktumu. Mungkin kemarin kemarin Dekan mengijinkan mu untuk membatalkan partisipasi dalam olimpiade ini. Tapi sekarang Dekan mau Lidya kembali untuk mengikuti olimpiade," ucap Dekan Uly.

__ADS_1


Lidya mengerutkan dahinya tanpa ia bingung dengan perkataan Dekan Uly.


"Selama seminggu ini Dekan sudah memperhatikan gadis yang menggantikan mu itu. Dan sekarang Dekan mengetahui bajwa ternyata gadis itu memanipulasi nilainya agar dapat mengikuti olimpiade ini," ucap Dekan Uly.


Lidya mengangguk mengerti.


"Sebenarnya saya juga ingin kembali mengikuti pembelajaran ini, Dekan" ucap Lidya.


"Nenek saya menyuruh saya untuk mengikuti olimpiade ini. Karena sejujurnya dari awal saya memang ingin mengikutinya. Dan Nenek saya tidak ingin kesehatannya menjadi alasan untuk menunda keberhasilan saya," jelas Lidya.


Dekan Uly tersenyum senang mendengar perkataan Lidya.


"Dekan senang akhirnya keputusanmu berubah. Mulai sabtu ini kamu sudah boleh bergabung kembali," Dekan Uly berkata dengan senangnya.


Seketika raut wajah Dekan Uly berubah menjadi serius.


"Masalah ini akan dibawa kepada Rektor. Karena gadis itu telah memanipulasi nilainya dan membohongi kampus. Mungkin gadis itu akan mendapat hukuman DO," jawab Dekan Uly.


"Gadis itu bukan hanya memanipulasi nilainya. Tapi dia juga menyogok seorang Dosen agar dapat menjawab ujian masuk," jelas Dekan Uly.


Lidya mengangguk mengerti.


Ia tidak terkejut lagi mendengarnya. Karena Lidya tahu bahwa Gisel akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia mau.

__ADS_1


Setelah pamit, Lidya keluar ruangan Dekan Uly.


Untuk yang sekian kalinya dalam satu hari ini, Lidya melihat Gisel dan Kelvin yang ada di depan pintu ruang belajar olimpiade.


Apa yang mereka lakukan? Bukankah jam belajar olimpiade sudah selesai?


Lidya bertanya dalam hati.


Sudah lah itu bukan urusanmu, Lidya.


Lidya kembali berkata dalam hati.


Lidya berjalan menjauh dari mereka. Tapi langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan Gisel.


"Kamu tahu Kak, dulu aku punya kekasih saat SMA tapi sekarang dia sudah tiada. Dia tiada karena seorang gadis yang sekelas dengan kami mengaku hamil anaknya. Karena dia tidak ingin menikahi gadis itu, jadi dia bunuh diri. Dan 3 minggu lagi adalah hari peringatan kematiannya yang ke 6 bulan," ucap Gisel menangis dan menyembunyikan wajahnya di dada Kelvin.


Tampak Kelvin yang berusaha keras menghibur Gisel.


"Kalau saja gadis itu tidak ada, mungkin sekarang kami masih bersama dan bahagia," ucap Gisel lagi.


Gisel punya kekasih yang meninggal? Siapa? Dan mengapa harinya sama seperti hari kematian Kelvin. Tapi waktu sekolah dia hanya mengincar Kelvin untuk dijadikan kekasih.


Lidya berucap dalam hati sambil berusaha berpikir keras.

__ADS_1


__ADS_2