Dibalik Semua Perubahan

Dibalik Semua Perubahan
Bab 69


__ADS_3

Ayah Lidya, Ibu tiri Lidya, juga Tuan besar dan Tuan muda Han duduk di sofa yang berhadapan dengan Lidya yang disampingnya duduk Kelvin. Keadaan ini seperti sebuah persidangan.


"Untuk apa kalian semua kemakan Ibu saya?" Tanya Lidya memecahkan keheningan di ruang tamu rumah Ayah dan Ibu tiri Lidya.


"Lidya, Ayah sudah katakan seorang suami ingin berkunjung ke makam istrinya," jawab Ayah dengan lembut.


Lidya menggigit bibir bawahnya. Selama hidupnya Ayahnya hanya akan berbicara dengan lembut kepadanya hanya saat didepan orang yang akan memberinya keuntungan besar.


"Ibu saya bukan istri anda! Istri anda ada di samping anda, kalau anda lupa" ucap Lidya dengan nada acuh.

__ADS_1


"Apa saya perlu mengatakan semua yang Ibu saya alami di hadapan tamu anda Tuan?" Tanya Lidya sambil mengingat kesedihan Ibunya.


Sejak kecil Lidya tinggal bersama Kakek dan Neneknya sampai ia lulus SD. Namun selama tinggal bersama Neneknya, Lidya sering berkunjung kerumah orang tuanya di saat sedang libur sekolah. Dan di saat dia berkunjung Lidya pasti akan melihat Orang tuanya yang bertengkar dan Ibunya yang menangis diam diam. Bahkan ketika dia tinggal bersama orang tuanya setelah lulus SD, tidak pernah sekalipun Ayahnya berbicara dengan lembut dengannya secara tulus. Ia hanya akan berbicara lembut jika di depan rekan kerjanya. Selain itu Ayah Lidya selalu mengumpat, mengutuk, dan bersikap kasar kepadanya. Tapi Lidya tidak pernah membalas semuanya dulu. Hingga sekarang entah kekuatan dari mana dia bisa melawan sang Ayah.


"Apa yang dialami Ibumu nak?" Tanya Tuan Han Dae Hyeon tiba tiba.


"Nak? Maaf Tuan, saya bukan anak anda. Dan jikapun saya memang anak anda, saya tidak akan pernah menerima pria sepertimu," ucap Lidya membuat wajah Ayahnya menjadi merah padam.


"Lidya," panggil Kelvin lirih dengan mata menatap Lidya.

__ADS_1


"Lidya jaga kata katamu," ucap Ayah Lidya dengan menahan suaranya agar tidak berteriak.


Dada Lidya naik turun. Kini emosi bergejolak di dalam dadanya. Ketika mengingat semua yang telah dia dan Ibunya alami juga kenyataan bahwa Ibunya pernah menikah dengan Tuan Han di depannya ini.


"Saya bosan harus menjaga kata kata. Tidak ada bedanya kan jika saya menjaga dan tidak menjaga kata kata saya? Anda tetap tidak menyayangi saya walaupun saya bersikap seperti yang anda inginkan. Bersikap lemah lembut, sopan santun, dan membanggakan orang tuanya?" Lidya hendak mengeluarkan semua unek-unek dalam hatinya jika dia tidak ingat bahwa ada dua pria asing yang sedang berada disana.


Bahkan dia mengusahakan agar suaranya tidak meninggi saat berbicara.


Kelvin dengan sigap mengulurkan tangannya dan mengusap punggung Lidya berusaha memberinya kekuatan juga ketenangan.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Lidya lirih kepada Kelvin yang mengangguk pelan membalas ucapan terima kasih Lidya.


Lidya bersyukur karena ternyata masih ada orang yang peduli kepadanya. Dari dulu Lidya selalu mendambakan seseorang yang bisa dia percaya dan akan selalu bersamanya. Memberinya ketenangan dan kekuatan disaat Lidya sedang merasa sedih ataupun marah. Dulu dia menemukan sosok itu yaitu Ibu dan Kelvin. Namun akhirnya Kelvin malah meninggalkannya bersama dengan Ibunya. Neneknya yang dia percaya juga malah menyusul kedua orang yang telah meninggalkannya itu.


__ADS_2