
Itu benar Nenek. Tapi siapa pria itu?
Lidya bertanya tanya dalam hati.
Lidya melanjutkan langkahnya memasuki cafe. Lidya melihat pria yang bersama Neneknya pergi.
"Nek," panggil Lidya.
"Lidya," Nenek yang mendengar suara Lidya seketika menjadi panik.
Nenek Lidya menarik tangan cucunya untuk keluar.
"Nenek kok panik?" Tanya Lidya.
"Kamu ngapain disini?" Tanya Nenek Lidya.
Wanita tua itu seperti seseorang yang telah melakukan kesalahan.
"Lidya khawatir sama Nenek karena keluar gak kasih kabar. Apalagi Nenek baru keluar rumah sakit kemarin," jawab Lidya jujur.
Nenek Lidya menghembuskan nafas kasar mendengar jawab cucunya.
"Urusan Nenek sudah selesai?" Tanya Lidya.
Nenek Lidya berpikir kata kata apa yang harus ia keluarkan sebagai jawaban sederhana cucunya itu.
"Kalau belum selesai, Lidya akan nemani Nenek sampai selesai," ucap Lidya.
__ADS_1
"Urusan Nenek sudah selesai," jawab Nenek Lidya berbohong.
Nenek Lidya tidak ingin cucunya itu bertemu dengan pria yang ia temui tadi.
"Ayo, kita pulang Nek" Lidya menggenggam tangan Neneknya dan membawa Nenek Lidya menuju taksi yang masih setia menunggunya.
Tidak berapa lama setelah kepergian Lidya dan Neneknya. Pria yang tadi bersama Nenek Lidya kembali ke meja yang mereka duduki tadi. Ternyata ia baru saja kembali dari toilet.
"Sial! Berani sekali wanita ini pergi tanpa menjawab pertanyaan ku," umpat pria itu kesal
***
Satu minggu telah berlalu. Hari ini hari Rabu dan Lidya harus pergi ke kampus untuk menjalani uji praktek dengan pengawasan dari Dosen.
"Nek, Lidya pergi dulu. Jangan keluar sebelum Lidya datang. Jika memang mendesak, Nenek harus beritahu Lidya," ucap Lidya sebelum pergi.
Setelah menyalam tangan Neneknya, Lidya pergi ke kampus dengan tas ransel coklat di pundaknya.
Sesampainya di kampus, suasana masih sepi. Mungkin karena ia datang terlalu cepat.
Lidya melihat ada Kelvin dan Gisel yang masuk ke dalam sebuah ruangan. Lidya tahu itu ruangan apa, karena ia pernah masuk keruangan itu. Itulah ruangan tempat dia dan Kelvin belajar.
Ternyata dia yang menggantikan ku,
Lidya berucap dalam hati.
Lidya berjalan menuju ruangan uji yang melewati ruangan latihan Kelvin dan Gisel.
__ADS_1
Tidak sengaja telinganya mendengar percakapan mereka berdua.
"Kak Kel, pelajarannya sulit sekali," adu Gisel dengan suara manja.
"Kamu gak selesain tugas lagi?" Tanya Kelvin.
"Iya," jawab Gisel.
"Soalnya susah banget. Tolong Kakak bantu aku, *pleas*s. Kalau gak nanti si Profesor itu marah marah lagi," ucap Gisel.
"Ya udah, sini biar aku bantu," ucap Kelvin.
Lidya melanjutkan langkahnya dengan pikiran yang berkeliaran.
Di satu sisi itu tidak suka dengan suara manja Gisel kepada Kelvin. Dan di sisi lain dia juga memikirkan perkataan Kelvin, yang mengatakan Gisel tidak mengerjakan tugas lagi. Itu artinya Gisel sering tidak mengerjakan tugas.
Jika dia memang malas, kenapa malah dia yang dipilih? Kenapa tidak mahasiswa lain?
Lidya bertanya dalam hati sambil masuk kedalam ruangan uji.
Bodo amatlah, yang penting bagiku sekarang adalah Nenek, hanya Nenek.
Lidya berusaha mengingatkan kata kata itu kepada hatinya.
Tidak berapa lama pembelajaran uji di mulai. Dan kurang dari dua jam atau lebih tepatnya satu jam tiga puluh menit Lidya sudah menyelesaikan pembelajarannya.
Setelah izin untuk pulang kepada Dosen pengawas, Lidya keluar dari ruangan uji.
__ADS_1