
Kelvin yang sedang berada di apartemennya, menatap layar ponselnya tanpa mau menjawab pertanyaan orang yang dia hubungi.
Tiba tiba saja sebuah telepon masuk ke ponsel Kelvin.
Dengan segera Kelvin mematikan panggilannya dan menerima panggilan dari Mommy nya itu.
Ya, Kelvin lah yang sedari tadi mengganggu Lidya dengan cara menghubunginya terus menerus.
"Halo, Mom"
...
"Kelvin ada di apartemen, Mom. Kelvin mau tidur disini untuk malam ini,"
...
"Kelvin, pulang besok pagi. Mommy, tenang saja,"
…
"Iya, Mom. Bye,"
…
Kelvin mengakhiri panggilannya dengan Mommy Kelvin.
Lalu Kelvin berusaha menghubungi Lidya kembali. Tapi sayangnya ponsel Lidya tidak dapat dihubungi kembali.
"Kenapa ponselnya tidak dapat dihubungi?" Kevin bingung sendiri.
***
Keesokan harinya,
Lidya masuk ke dalam rumah Kelvin. Sebelum pergi ke rumah Kelvin, Lidya mengantar Neneknya untuk mengikuti pengobatan.
"Bi, tolong siapin minuman untuk Lidya," ucap Mommy Kelvin.
"Lidya, kamu duduk dulu ya. Tante panggil Kelvin sebentar," ucap Mommy Kelvin.
Lidya mengangguk.
"Ini, Non" ucap Bibi sambil meletakkan jus jeruk di atas meja.
"Terima kasih," ucap Lidya.
Lidya menunggu di kursi sofa sambil menyesap jus jeruknya.
"Kelvin," suara dari pintu yang memekakkan telinga.
"Eh, ternyata kau ada di sini juga. Untuk apa kau kesini?" Tanya orang itu yang tak lain adalah Gisel.
"Bukan urusan Anda," jawab Lidya cuek.
"Astaga," Gisel berteriak sambil menggeleng geleng kan kepalanya.
"Dimana senyummu yang ceria itu? Apa bibirmu sudah capek tersenyum terus?" Gisel bertanya dengan nada mengejek.
Lidya duduk tanpa mau membalas sindiran Gisel.
"Eh, ada minuman. Kebetulan sekali aku lagi haus," Gisel langsung menyambar minuman Lidya.
Lidya tersenyum sinis melihat Gisel.
"Tidak tahu malu," ucap Lidya balas menyindir Gisel.
"Apa maksudmu?" Tanya Gisel tak terima.
"Mengambil bekas orang, cih" Lidya masih saja tetap menyindir Gisel.
"Lidya," Gisel berteriak sambil tangannya siap memukul Lidya.
"Eh, Gisel," suara Kelvin menghentikan aktivitas Gisel.
__ADS_1
Gisel berlari memeluk Kelvin.
"Kak Kel, lihatlah dia. Dia selalu ingin menyindir Gisel," ucap Gisel dengan nada manja.
"Kalian saling kenal?" Tanya Kelvin.
Gisel mengangguk.
"Dulu dia itu satu kelas sama Gisel waktu SMA. Dari dulu dia sering sekali menganggu Gisel. Bahkan dia merebut pacar Gisel," Adu Gisel.
Lidya hanya diam dengan memutarkan bola matanya merasa jengah dengan sikap manja Gisel.
"Kenapa kamu kesini?" Tanya Kelvin mengalihkan pembicaraan.
"Nanti malam Gisel sama Papi dan Mami mau datang kesini, bolehkan?" Tanya Gisel.
"Boleh," jawab Kelvin.
Gisel tersenyum bahagia.
"Oh ya, kak. Dia ngapain kesini?" Tanya Gisel sambil menunjuk Lidya.
"Oh, dia datang kesini mau belajar bareng kakak," jawab Kelvin.
"Berdua aja?" Tanya Gisel yang dijawab anggukan oleh Kelvin.
"Gisel boleh ikut?" Tanya Gisel.
"Gimana ya?" Kelvin menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Boleh ya Kak. Gisel janji gak akan ganggu. Gisel hanya akan memperhatikan saja," ucap Gisel masih dengan nada manjanya.
"Ya udah, boleh deh" akhirnya Kelvin pasrah dan mengijinkan Gisel untuk belajar bersama mereka.
"Lidya, ayo naik" Kelvin menyuruh Lidya untuk naik ke tempat ruang belajar Kelvin berada.
Lidya berjalan di belakang dengan Kelvin dan Gisel berjalan berdampingan. Lebih tepatnya Gisel yang memaksa Kelvin berjalan di sampingnya.
Lidya mengerjakan tugasnya yang diberikan oleh Profesor kemarin.
Lidya sangat fokus dengan tugasnya itu. Tapi suara Gisel menganggu konsentrasinya.
"Kak Kel, ini gimana?" Tanya Gisel.
"Oh ini," Kelvin mulai mengajari Gisel.
"Ngerti?" Tanya Kelvin.
"Iya, ngerti Kak" jawab Gisel.
Lidya kembali ingin fokus dengan tugasnya. Ketika suara Gisel kembali mengganggunya.
"Kalau yang ini, bagaimana Kak?" Tanya Gisel lagi.
"Ini seperti yang tadi juga," jawab Kelvin.
"Oh begitu ya, kak. Jadi caranya yang ini sama yang pertama itu sama?" Tanya Gisel.
"Iya," jawab Kelvin.
"Lidya, tinggalkan dulu tugas itu. Kita masuk kedalam kuis dulu," ucap Kelvin kepada Lidya.
Lidya mengangguk.
Kelvin mulai membaca secara lisan sebuah soal. Lalu memberikan beberapa pilihan jawaban.
"Hasilnya 1.200.000," jawab Lidya.
"Betul," ucap Kelvin.
Lidya mulai membaca soal secara lisan untuk di jawab oleh Kelvin.
"28.398.241 sama dengan tujuh puluh tiga pangkat empat," jawab Kelvin.
__ADS_1
"Benar," ucap Lidya.
"Lanjutkan lah tugasmu," ucap Kelvin kepada Lidya.
Lidya mengangguk.
Lidya mulai mengerjakan tugasnya kembali.
"Kak Kel, soal yang tadi dia berikan bagaimana bisa Kakak menjawabnya dengan cepat? Bagaimana caranya?" Tanya Gisel.
Lagi lagi konsentrasi Lidya terpecah. Lidya yang sudah kesal pun bersiap untuk pergi.
"Lidya, kamu mau kemana?" Tanya Kelvin.
"Mau belajar," jawab Lidya.
"Lalu kenapa menyusun buku mu?" Tanya Kelvin.
"Aku akan belajar di rumah saja. Di rumah aku bisa belajar dengan tenang dan berkonsentrasi. Tanpa ada pengganggu," jawab Lidya dengan menekankan kat pengganggu.
"Lihat Kak, dia berani mengatai ku pengganggu di hadapan Kakak," lagi lagi Gisel mengadu dengan suara manjanya.
Lidya melangkahkan kakinya meninggalkan ruang belajar milik Kelvin itu.
"Lidya, apa belajarnya sudah selesai?" Tanya Mommy Kelvin.
Lidya mengangguk.
"Cepat sekali," ucap Mommy Kelvin.
"Lidya akan melanjutkan belajar di rumah, Tan" ucap Lidya.
"Kenapa gak di sini aja?" Tanya Mommy Kelvin.
Tepat saat itu Kelvin bersama Gisel turun.
"Ada pengganggu," jawab Lidya.
"Kalau gitu, Lidya pulang dulu ya, Tan. Sekalian Lidya mau jemput Nenek," ucap Lidya.
"Nenek emang dimana, Lid?" Tanya Kelvin.
"Ya sudah ya, Tan. Lidya pulang dulu," tanpa menjawab pertanyaan Kelvin, Lidya menyalam tangan Mommy Kelvin dan pergi.
"Mom, Kelvin antar Lidya sebentar ya. Mommy tolong temani Gisel dulu," ucap Kelvin seraya pergi menyusul Lidya dan menghiraukan teriakan Gisel yang memanggil manggil namanya.
"Lidya," Kelvin menahan tangan Lidya yang sudah siap melewati gerbang rumahnya.
"Ada apa?" Tanya Lidya.
"Nenekmu ada dimana?" Tanya Kelvin mengulangi pertanyaannya tadi.
"Di rumah sakit," jawab Lidya.
"Apa terjadi sesuatu dengan Nenekmu?" Tanya Kelvin cemas.
"Tidak perlu cemas. Nenekku adalah tanggung jawabku. Dan aku akan berusaha untuk menyembuhkan Nenekku," jawab Lidya.
"Sudahlah Lidya, jangan berdebat denganku. Katakan untuk apa Nenek di rumah sakit?" Tanya Kelvin.
"Untuk menjalani perobatan sebelum melakukan operasi," jawab Lidya.
"Maaf, aku belum bisa mendapatkan donor yang cocok untuk Nenek," ucap Kelvin.
"Tidak perlu meminta maaf," ucap Lidya.
"Lepaskan tanganku, aku harus pergi menjemput Nenekku," ucap Lidya berusaha melepaskan tangan Kelvin dari tangan nya.
Kelvin menarik tangan Lidya untuk masuk ke dalam mobilnya. Lidya hanya bisa diam dan menurut.
"Aku akan ikut denganmu menjemput Nenek," ucap Kelvin.
"Terserah," balas Lidya yang malas berdebat dengan Kelvin
__ADS_1