
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka. Dialah Lidya. Awalnya Lidya datang untuk menitipkan surat ketidak hadirannya untuk berkuliah besok dan izin tidak ikut serta olimpiade.
Itu Lidya lakukan karena tiba tiba Nenek nya jatuh pingsan dan Lidya langsung membawa Neneknya itu ke rumah sakit yang ternyata tidak jauh dari rumah Kelvin.
Dalam kampus Lidya, saat ingin izin tidak masuk, maka harus menggunakan surat. Tidak dapat melalui ponsel. Kecuali jika darurat maka diperbolehkan menggunakan ponsel
"Bi, tolong jangan beritahu mereka saya datang kemari," ucap Lidya.
"Apa Non tidak jadi memberikan suratnya kepada Tuan Muda?" Tanya Bibi.
"Tidak, Bi. Saya lupa saya harus memberikan suratnya kepada teman seruangan agar dapat di terima oleh Dosen," jawab Lidya memberi alasan.
"Baiklah, Nona" ucap Bibi.
Bibi itu mengantar Lidya keluar.
***
Lidya berjalan dengan perasaan tak menentu. Ada perasaan sedih, dikhianati, dan satu perasaan yang Lidya tidak mengerti. Perasaan tidak nyaman atau apalah itu.
Saat melihat Papi Gisel melamar Kelvin untuk putrinya dan mendengar Kelvin meminta waktu, ada perasaan tak terima dan tak rela dalam hatinya.
Lidya terus berjalan sampai ke rumah sakit. Lidya segera pergi dan masuk ke dalam ruangan Neneknya.
"Bagaimana keadaan Nenek?" Tanya Lidya kepada wanita tua yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
"Nenek baik baik saja," jawab Nenek Lidya.
"Apa yang terjadi Nek Kenapa Nenek tiba tiba pingsan dan tekanan darah Nenek naik?" Tanya Lidya.
Tiba tiba Nenek Lidya mengingat kejadian sebelum dia pingsan.
Nenek Lidya ingat saat itu dia mendapatkan pesan dari nomor tak dikenal.
Pesan itu bertulis 'Dimana anakku?'. Memang pesan yang singkat, tapi memiliki arti yang besar.
"Tapi Nenek mengingat Kakek dan Ibu mu. Nenek merindukan mereka. Mungkin gara gara itu Nenek pingsan," jawab Nenek Lidya berbohong.
"Ibu dan Kakek sudah tenang di atas sana. Dan mereka menyuruhku untuk menjaga Nenek. Jika Nenek sakit, nanti Ibu marah pada Lidya. Ibu akan bilang 'Lidya kenapa Nenekmu bisa sakit. Kenapa kamu tidak merawatnya?' " Lidya memperagakan cara bicara Ibunya.
Lidya tersenyum bahagia melihat tawa Neneknya.
"Sekarang Nenek harus istirahat. Jangan memikirkan apapun," ucap Lidya seraya menarik selimut sampai batas dada Neneknya.
Nenek Lidya hanya mengangguk.
***
Keesokan harinya.
Hari ini jadwal latihan Lidya dan Kelvin.
__ADS_1
Tapi sampai 10 menit menunggu, Lidya tidak datang juga.
"Coba kamu hubungi Lidya, lagi" ucap Prof. Julian.
"Baik, Prof," balas Kelvin.
Kelvin mencoba menghubungi Lidya untuk yang sekian kalinya.
"Tetap tidak tersambung, Prof" ucap Kelvin.
Prof. Julian mengangguk. Hanya itu yang dia bisa lakukan sekarang.
Apa Lidya benar benar akan keluar dari olimpiade?
Tanya Kelvin dalam hati.
"Prof," Kelvin memanggil dengan ragu.
"Iya," sahut Prof. Julian.
"Kemarin Lidya berkata ingin mengundurkan diri dari olimpiade, karena ingin menjaga Neneknya yang sedang sakit," Kelvin berkata dengan ragu.
"Apa?" Prof. Julian tampak terkejut.
"Bagaimana mungkin dia akan meninggalkan olimpiade begitu saja. Waktu kita tinggal satu bulan lagi. Dan untuk mencari penggantinya. Kita membutuhkan waktu. Kalau Lidya benar keluar, bisa bisa kampus kita akan kalah sebelum bertanding," ucap Prof. Julian yang sudah memikirkan dampak nya.
__ADS_1