
"Ada di belakang," balas Dae Ryung tidak mempermasalahkan perkataan Lidya tentang 'Ayahmu'. Dia sudah terbiasa mendengarnya dari mulut Lidya.
Sebelum Dae Ryung kembali melayangkan pertanyaan, Lidya dengan segera berjalan menuju halaman belakang rumah mereka.
Langkahnya terhenti ketika melihat Ayahnya sedang bersama Ibu tirinya. Lagi duduk santai sambil bercengkrama. Sesekali terdengar tawa dari bibir mereka.
Melihat kebahagiaan mereka, Lidya memilih pergi. Seketika dia teringat akan Ibunya.
Andai saja aku masih memilikimu Bu. Andai aku memiliki keluarga bahagia. Memiliki hubungan keluarga yang tidak serumit ini. Aku tahu ini bukanlah salahmu, bukan juga keinginanmu. Semua ini juga bukan keinginan siapa siapa. Takdirlah yang menginginkannya. Walaupun begitu, aku akan bahagia. Setidaknya saat ini aku memiliki keluarga yang memperhatikanku dan bisa kuperhatikan
Ucap Lidya dalam hati sambil berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
***
Dua hari sebelum pernikahan Dae Ryung.
Lidya sudah meluruskan permasalahannya dengan Dae Hyeon. Sekarang juga Kelvin dan orang tuanya menginap di rumah mereka atas permintaan Ibunya Dae Ryung. Dengan alasan ingin lebih mengenal calon besannya itu.
Dae Hyeon, Ibu Dae Ryung, Dae Ryung, A-Yeong, Daddy Kelvin, Mommy Kelvin, dan Kelvin sedang berada diruang keluarga menikmati teh disore hari sambil bercengkrama dan tertawa ringan. Hanya satu yang kurang yaitu kehadiran Lidya yang sedang bekerja di kantor.
Tidak berapa lama terdengar suara mobil yang diberhentikan didepan rumah.
__ADS_1
"Penjarakan saja,"
Suara dingin Lidya seperti kata sambutan bagi mereka semua di ruang keluarga.
"Siapa yang dipenjara, nak?" Tanya Ibu Dae Ryung.
Lidya mengisyaratkan agar mereka diam sebentar.
"Sebentar," Lidya menjeda perkataan orang diseberang sana.
"Semuanya, aku ke atas sebentar. Nanti aku bergabung dengan kalian,"
Setelah mengatakan itu Lidya berjalan menuju kamarnya dengan tas kerja dan ponsel dimasing masing tangannya.
Sayup sayup orang di ruang keluarga bisa mendengar suara Lidya.
Tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama Lidya sudah bergabung dengan mereka di ruang keluarga.
"Lidya apa yang terjadi? Siapa yang mau dipenjarakan?" Tanya Ibu Dae Ryung setelah baru saja Lidya mendudukkan bokongnya.
Bukannya menjawab Lidya malah melirik kearah Dae Ryung yang malah berpura pura tidak melihat tatapan Lidya.
__ADS_1
"Aku tidak yakin kamu tidak mendapat info," ucap Lidya.
"Info? Info apa?" Dae Ryung malah terlihat sedikit gugup.
"Ayolah, kenapa kamu mengistimewakan wanita itu? Apa jangan jangan kalian..." Lidya sengaja menggantungkan kata katanya bermaksud mengerjai Dae Ryung.
"Kami apa? Kami tidak melakukan apa apa," ucap Dae Ryung.
"Melakukan apa?" Tiba tiba A-Yeong bertanya dengan penasaran dan perasaan sedikit kesal.
Lidya tersenyum misterius.
"Hal yang dilakukan pria dan wanita mungkin," jawab Lidya dengan nada acuh.
Senyum Lidya semakin lebar tak kalah melihat kekesalan yang terlihat sangat jelas diwajah A-Yeong.
"Kamu mengkhianati aku?" Tanya A-Yeong dengan kesal, marah, dan kecewa.
"Bu-bukan begitu. Aku-"
"Kamu jahat," A-Yeong memukul bahu Dae Ryung sedikit keras.
__ADS_1
Melihat A-Yeong yang marah marah kepada Dae Ryung seketika tawa Lidya menggelar memenuhi ruangan.