
Lidya hampir tertawa mendengar perkataan Dae Ryung.
"Baiklah, karena sebentar lagi kau akan menikah. Untuk kali ini kumaafkan, tapi tidak lain kali," ucap Lidya lalu langsung mematikan sambungan telepon.
"Ada apa?" Tanya Kelvin saat Lidya sudah mengambil tasnya seakan ingin pergi.
"Seseorang membuat keributan di perusahaan, jadi pria naif ini menyuruhku untuk membereskan masalah ini," jawab Lidya.
"Aku ikut," Kelvin sebenarnya masih ingin menghabiskan waktu dengan gadis pujaan hatinya ini.
"Terserah," balas Lidya lalu keluar bersama Kelvin.
***
"Aku tidak terima ini," seorang wanita sedang mengamuk di meja resepsionis. Dialah Gisel.
"Aku sudah mengembalikan uangnya. Kenapa kalian memecat ku?"
"Tenanglah," Yola berusaha menenangkan.
Gisel sudah membuat keributan dari bagian HRD hingga resepsionis.
__ADS_1
"Diam Kau," Gisel berteriak.
"Kalian memecat ku dan melanggar kontrak. Jika aku tidak dikembalikan keposisiku aku akan membakar perusahaan ini," Gisel kembali berteriak sambil memecahkan vas yang ada di meja resepsionis ke arah pintu masuk.
"Bakar saja jika berani," suara dingin itu mampu membekukan suasana yang tadinya sedang panas.
Gisel merasa ciut melihat tatapan tajam dan dingin Lidya yang jauh lebih tajam dan dingin beribu kali lipat dari sebelumnya.
Yori mendekat ketika melihat kedatangan Lidya.
"Tadi saya tidak bisa menghubungi anda bos, itu sebabnya saya memberitahu bos Dae Ryung," ucap Yori. Ia takut kena amukan Lidya.
"Ambil minyak dan korek," perintah Lidya dengan tegas tanpa meladeni perkataan Yori.
"Ini bos," beberapa saat kemudian Yori datang dan menyerahkan apa yang diminta Lidya.
"Berikan kepadanya," ucap Lidya menunjuk Gisel.
Yori mengangguk patuh.
Gisel merasa ragu saat Yori menyodorkan minyak juga korek itu kepadanya.
__ADS_1
"Terima dan bakar saja perusahaan ini. Setelah itu bayar kami ganti ruginya," ujar Lidya.
Gisel naik pitam, dia maju dan berdiri tepat dihadapan Lidya. Lidya yang lebih tinggi darinya, membuat Gisel harus mendongak.
"Kau memang tidak bisa mengendalikan perusahaan. Dasar gadis miskin, jelek, murahan, tidak tahu diri. Jika kau ingin memecat ku bayar denda pinalti pelanggaran kontrak," ucap Gisel membentak Lidya.
Lidya acuh, dia berjalan dan duduk di kursi yang ada di dekat meja resepsionis. Kursi bar itu digunakan hanya untuk sekedar mempercantik ruangan. Tapi beberapa orang penting masih bisa mendudukinya. Hanya beberapa. Itupun untuk menunggu.
"Saya beri dua pilihan pergi sekarang dengan dipecat tanpa uang pinalti or berurusan dengan tentara Kakekku dan mendekam dipenjara atas tuduhan penggelapan uang perusahaan dan tidak mendapatkan apapun juga?" Tanya Lidya dengan santai.
Gisel mengeram kedua pilihan itu merugikan dirinya.
"Aku tidak memilih keduanya," ucap Gisel.
"Dua! Yori telepon Kakekku perintahkan tentaranya yang ada disini untuk membawa nona ini mempertanggung jawabkan kesalahan dengan jalur hukum. Beritahukan juga bahwa dia merusak fasilitas di perusahaan ini dan harus mengganti rugi seluruh biayanya. Dia telah memilih pilihan nomor 2, jadi lakukan sesuai permintaannya," ucap Lidya turun dari kursi bar.
"Selesai kekacauan ini aku akan balik ke kantorku," ucap Lidya seraya berjalan menuju lift.
Gisel yang melihat itu langsung berlari kearah Lidya. Tangannya terulur untuk menjambak rambut indah Lidya.
Shettt.... Tak.
__ADS_1
Lidya melakukan tendangan berputarnya membuat tangan Gisel yang terulur terhempas dan memar akibat gerakan kuat Lidya.
Lidya kembali melanjutkan langkahnya memasuki lift.