
"Sudah jangan menangis. Ikhlas kan saja dia. Kalau kamu selalu bersedih gini, nanti dia malah gak tenang di sana," ucap Kelvin berusaha mengibur Gisel.
"Kelvin, aku merindukanmu" Gisel berucap histeris.
Deg!!!
Apa aku tidak salah dengar? Apa maksudnya Ke-Kelvin adalah kekasihnya? Mungkin saja maksudnya Kelvin yang berbeda. Tapi... itu mustahil. Di sekolah hanya ada satu Kelvin. Dasar Gisel selalu saja memutar balikkan fakta...
Lidya membatin.
"Saat Kelvin ingin dikubur. Rasanya aku ingin sekali ikut bersamanya, hiks.... Saat itu aku selalu setia di samping jenazahnya," ucap Gisel dalam hati.
Cih... melihat saja kau tidak ada. Jangankan melihat Kelvin untuk yang terakhir, bahkan kau tidak datang sama sekali. Dasar gadis munafik.
Lidya berucap dalam hati karena kesal.
Entahlah, dia tidak tahu mengapa dia tiba tiba kesal. Apa karena Gisel berbohong menggunakan nama Kelvin atau karena Gisel berusaha menarik perhatian Kelvin?
Lidya mengangkat bahunya acuh memikirkan alasannya kesal. Segera saja Lidya pergi meninggalkan tempat itu.
***
__ADS_1
2 minggu kemudian.
Saat ini Lidya sedang berada di perpustakaan. Mencoba mengalihkan pikirannya dari semua derita yang ia dapat secara berturut turut.
Pertama seminggu lagi dia akan mengikuti lomba olimpiade. Tidak sampai seminggu, dalam dua hari ini dia sudah harus berangkat menuju lokasi diadakan lomba.
Kedua dalam seminggu lagi Nenek Lidya harus melakukan operasi. Dan yang menjadi masalahnya, sampai saat ini tidak ada pendonor yang cocok untuk Nenek Lidya.
Lalu ketiga, kedekatan Kelvin dan Gisel. Setelah tidak jadi dikeluarkan dari kampus, bukannya Kelvin dan Gisel semakin menjauh, mereka malah makin dekat. Melihat kedekatan mereka, entah mengapa Lidya kesal sendiri. Perasaan yang membingungkan.
"Ternyata disini kau rupanya. Aku lelah mencari mu kemana mana," ucap seseorang yang berdiri di hadapan Lidya.
"Ada apa?" Tanya Lidya tanpa mengalihkan pandangan matanya dari buku yang ada di atas meja.
"Baiklah, tunggu aku lima menit lagi diluar," ucap Lidya.
"Baik," Kelvin berkata seraya meninggalkan ruangan perpustakaan.
Setelah Kelvin pergi, Lidya segera membereskan buka yang ia baca. Meletakkan buku itu kembali ke raknya.
Setelah selesai, Lidya pergi menyusul Kelvin.
__ADS_1
"Kita pergi sekarang?" Tanya Kelvin saat Lidya sudah berada di sampingnya.
Lidya menatap motor sport di sebelah Kelvin.
"Naik ini?" Tanya Lidya seraya menunjuk motor sport yang ada di samping Kelvin.
"Iya, biar cepat" jawab Kelvin.
Lidya memejamkan matanya berusaha menahan kegugupan yang tiba tiba menerpanya. Mendengar kenyataan bahwa beberapa menit lagi dia akan berpergian menggunakan motor sport membuat jantung Lidya berdegub kencang.
"Ayo naik," ucap Kelvin yang sudah ada di atas motor.
Dengan cepat Lidya naik ke atas motor. Entah kenapa kejadian 6 bulan lalu melintas dengan sempurna di pikirannya. Membuat dada Lidya tiba tiba sesak.
"Pegangan ya,"
Lidya meletakkan tangannya di bahu Kelvin. Tapi Kelvin dengan sengaja menarik tangan Lidya dan melingkarkan nya diperut Kelvin.
"Tanganmu dingin banget," ucap Kelvin.
Lidya hanya diam mendengar ucapan Kelvin. Jangankan tangannya, sekarang Lidya yakin wajahnya sudah berkeringat dingin karena kegugupannya.
__ADS_1
"Sudah, kita jalan saja. Nanti telat," ucap Lidya dengan suara agak serak.