
"Dia mengerjaimu," ucap Dae Ryung tak kalah kesal saat melihat tawa puas Lidya.
"Kakak jangan marah. Walau terlihat sedikit bego, Oppa ku ini adalah tipe pria yang setia. Aku hanya sedikit menggara-garai kalian," ucap Lidya.
Seketika wajah A-Yeong merah padam. Bagaimana bisa dia masuk perangkap keusilan calon adik iparnya ini.
"Lidya kamu selalu usil," ucap Dae Ryung kesal.
Gimana tidak kesal coba? Gara gara keusilan adiknya, dia harus rela menerima pukulan yang cukup keras dari calon istrinya.
"Selalu? Hanya beberapa kali saja kok aku usil. Lagian siapa suruh membuatku kesal," ucap Lidya dengan nada bicara khasnya.
Dia menyandarkan kepalanya ke bahu Kelvin yang duduk di sampingnya. Matanya tertutup, ia begitu menikmati kenyamanan dari bahu Kelvin. Mungkin karena terlalu banyak pekerjaan membuatnya merasa butuh sedikit istirahat. Dan itu sebabnya dia menutup mata sejenak.
"Apa yang kuperbuat sehingga membuatmu kesal?" Tanya Dae Ryung.
"Mencampuri urusanku," jawab Lidya masih tetap memejamkan mata.
"Uru-"
"Perlu kujelaskan?" Tanya Lidya masih tetap memejamkan mata.
Lidya menarik nafas dan menghembuskan ya pelan lalu duduk dengan tegap.
"Ingat perjanjian kita? Selama aku menggantikanmu, urusan perusahaan sepenuhnya ada di tanganku. Baik itu urusan pekerjaan ataupun karyawan. Kecuali jika memang ada berkas penting yang harus kamu tandatangani. Walaupun begitu kamu hanya bisa menandatangani tanpa berkomentar. Dan kali ini kamu mencampuri urusanku. Menghambatku menghukum karyawan wanitamu itu yang sudah membuat hancur fasilitas kantor," ucap Lidya.
"Aku hanya merasa kasihan dengannya," jawab Dae Ryung jujur.
Lidya memutar bola matanya jengah.
Terkadang Dae Ryung ini sangat menyebalkan. Kenaifannya itu membuatnya terlihat menjadi sosok yang agak bego.
"Terserah pendapatmu. Tapi kali ini jika kamu mencampuri urusanku. Aku akan pergi dari perusahaan dan tidak akan kembali lagi," ancam Lidya.
Selama ini ancaman itu selalu berhasil. Karena tanpa Lidya, Dae Ryung akan kewalahan mengelola perusahaan keluarganya itu. Jika boleh jujur, sebenarnya dalam hal prestasi Lidyalah yang menang dibandingkan Dae Ryung. Jadi keberadaan Lidya di perusahaan sangat membantu Dae Ryung.
"Baiklah, baiklah, aku tidak akan menghambatmu. Lakukan sesukamu," ucap Dae Ryung menepis rasa kasihannya kepada anak yatim piatu, Gisel.
"Anak pintar," ucap Lidya tersenyum puas.
Selanjutnya mereka mengobrol santai. Bahkan mereka semua tampak tidak memiliki beban saat tertawa.
Bahkan Lidya juga tertawa lepas, jiwa keceriaannya yang menghilang sepenuhnya telah kembali saat ini. Saat dia sedang bersama dengan keluarganya.
__ADS_1
Tangan kanannya menggenggam erat tangan kiri Kelvin. Seolah olah dia takut pria itu akan kembali meninggalkannya.
Mata Lidya menangkap sosok kecil yang berdiri di dekat meja makan. Cukup jauh dari mereka.
"Min Joo kemarilah," ucap Lidya menyuruh anak itu bergabung dengan mereka.
Anak laki laki itu menggeleng.
Lidya berjalan ke arah Min Joo lalu menarik tangan Min Joo untuk pergi ke ruang keluarga bersamanya.
"Perkenalkan, ini Min Joo. Adikku yang terbaik," ucap Lidya.
"Min Joo, ini Kak Kelvin, Ini Mommynya Kak Kelvin, Min Joo boleh panggil Aunty saja. Dan ini Daddynya Kak Kelvin, Min Joo panggil saja Uncle," ucap Lidya.
Min Joo mengangguk sambil menunduk. Dia takut dengan kehadiran Dae Hyeon yang seakan akan menatapnya dengan penuh kebencian.
"Hay, Min Joo. Salam kenal," Kelvin berkata dengan ramah sambil mengacak rambut Min Joo gemas.
"An-nyeong-ha-seyo," Min Joo membukukan tubuhnya, bersikap formal.
"Tidak perlu formal begitu Min Joo. Dia ini adalah Kakakmu juga," ucap Lidya.
Min Joo mengangguk masih dengan ketakutan. Karena tadi dia sempat melihat tatapan mematikan dari Dae Hyeon.
Dae Hyeon mengalihkan tatapannya dari Lidya dan berjalan mendekati Min Joo.
"Dengar," pria paruh baya ini mengacuhkan pelototan Lidya dan malah berbicara sambil menyentuh pundah Min Joo.
Min Joo semakin menunduk ketakutan.
"Sudah kukatakan bukan? Jangan berkeliaran dirumah ini," ucap Dae Hyeon membuat tubuh kecil Min Joo gemetaran.
"Ayah!" Lidya berteriak kesal melihat Ayahnya menakuti Min Joo.
"Kenapa kau berkeliaran di rumahku ini? Apa kau mau diusir, ha" bentak Dae Hyeon.
Min Joo menangis. Suara isakan mulai keluar dari bibir mungilnya.
"Ayah hentikan ini," ucap Lidya sambil memeluk tubuh kecil Min Joo.
"Tidak apa apa, jangan menangis. Anggap saja dia hanya mimpi buruk. Tutup mata dan telingamu sebentar, jika Kakak suruh buka. Kamu baru boleh membukanya, mengerti?" Tanya Lidya lembut.
Min Joo mengangguk dan melakukan perintah Lidya.
__ADS_1
"Hey, kenapa kau takut denganku. Aku ini tidak akan memakan dagingmu yang sedikit itu," ucap Dae Hyeon.
"Tuan, kali ini anda sudah sangat keterlaluan," ucap Lidya dengan dingin.
"Kenapa? Aku hanya menegurnya. Walaupun dia anak orang yang sudah membunuh Ibu dan Kakekmu, kamu masih tetap menyayanginya. Benar benar seperti drama," ucap Dae Hyeon.
"Dan kamu tenang saja. Walaupun aku tahu fakta itu, aku tidak bisa marah lama lama kepada anak polos ini. Kamu benar, dia tidak salah apa apa. Nasibnya saja yang buruk karena lahir dari rahim wanita jahat itu," ucap Dae Hyeon melunak.
Dia sadar bahwa anak ini tidaklah bersalah. Saat dia memarahi anak kecil ini, bukanlah tatapan kemarahan yang dia dapat. Melainkan sebuah tatapan yang seperti ingin disayangi. Sebuah tangisan dan wajah poloslah yang dia dapat akibat membentak anak itu. Tapi setelah bertahun tahun dia sadar akan kesalahannya yang membenci seseorang tanpa dasar.
"Ayah tidak membenci Min Joo lagi?" Tanya Lidya yang tampak terkejut sekaligus senang.
Dae Hyeon mengangguk.
"Min Joo, buka mata dan telingamu," ucap Lidya seraya menyingkirkan tangan Min Joo dari telinga anak itu.
"Min Joo, kamu dengar? Ayah tidak membencimu, sayang. Kamu akan mendapat kasih sayangnya sebentar lagi," ucap Lidya sambil mengecup pipi dan kening Min Joo dengan bahagia.
"Benarkah?" Tanya Min Joo.
Tatapan teralih kepada pria yang tadi membentaknya itu.
Pria itu mengangguk sambil tersenyum.
"Ayah..." Min Joo berlari dan memeluk kaki panjang Dae Hyeon.
"Bolehkah aku memanggilmu Ayah?" Tanya Min Joo.
Dae Hyeon mengangguk.
"Hu... Ayah..."
"Apa kamu tidak akan memanggilku Ibu?" Tanya Ibu Dae Ryung.
Min Joo beralih kearah Ibu Dae Ryung dan memeluknya sambil berkata Ibu berkali kali.
Lidya tersenyum puas melihat keindahan didepannya ini. Kelvin merangkul bahu Lidya dan Lidya menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu.
Kebahagiannya sudah lengkap sekarang.
Ibu, Kakek, dan Nenenknya sudah tenang diatas sana. Dia mendapat keluarga yang lengkap dan bahagia. Tak lupa dia juga mendapatkan kembali kekasihnya yang dia kira sudah meninggal.
Semoga saja kebahagian ini berlangsung selama lamanya.
__ADS_1
Tamat❤️