Dibalik Semua Perubahan

Dibalik Semua Perubahan
Bab 92


__ADS_3

Tidak berapa lama setelah Lidya masuk ke dalam kantor, Kelvin datang.


"Maaf, tadi Mommy meneleponku dan aku berhenti," ucap Kelvin meminta maaf atas keterlambatannya.


Dia seperti bawahan yang sedang memberi alasan kepada atasan.


"Santai saja, masalahnya sudah selesai kok," balas Lidya seraya mengambil berkas yang dia persiapkan untuk rapat tadi.


"Mari rapat tentang bisnis Mr. Dirga," ucap Lidya formal.


"Baik, Nona Han" balas Kelvin.


Mereka berdua duduk disofa dan melakukan pembicaraan seputar bisnis. Waktu berlalu begitu cepat, kini mereka sudah menyelesaikan rapat. Bahkan karena terlalu asik mereka lupa bahwa mereka belum sarapan.


"Lidya apa kamu lapar?" Tanya Kelvin.


"Sedikit," jawab Lidya sambil membereskan berkas berkas.


"Apa kamu lapar?" Tanya Lidya balik.


Kelvin mengangguk.


"Akan aku pesankan sarapan yang tertunda untukmu. Tunggu sebentar," ucap Lidya seraya berjalan ke meja kerjanya dengan berkas di tangannya.

__ADS_1


Lidya meletakkan berkas itu dan menghubungi Yori.


"Pesankan dua sarapan yang ada di kantin," ucap Lidya dengan nada datar.


"Baik bos," Setelah mendengar balasan Yori tanpa berkata apa apa Lidya langsung menutup telepon.


"Dingin sama seperti dulu," ucap Kelvin mengkritik.


Lidya mengangkat kedua bahunya mendengar kritikan Kelvin tentang nada bicaranya.


"Sudah terbiasa," balas Lidya sambil berjalan ke sisi sudut meja dan mengambil satu botol mineral.


"Mau?" Tanya Lidya.


"Disini ada," balas Kelvin menunjuk meja dihadapannya yang juga ada air mineral botol.


"Lidya saat di restoran tadi, kamu ingin bertanya sesuatu kepadaku. Tapi karena telepon Kakakmu kamu berhenti. Apa sebenarnya yang ingin kamu tanyakan?" Tanya Kelvin kepada Lidya yang tangannya sedang terulur untuk mengambil coklat dari lemari pendingin.


Lidya berpikir sesaat mengenai apa yang ingin dia tanyakan tadi.


"Kamu mau cokelat?" Tanya Lidya menunjukkan cokelat yang ada di tangannya.


Kelvin mengangguk.

__ADS_1


Lidya mengambil dua buah cokelat lalu berjalan ke arah Kelvin. Ia mendudukkan tubuhnya di samping Kelvin dengan tangan kanan yang berisi cokelat terulur ke arah Kelvin.


"Terima kasih," ucap Kelvin mengambil cokelat itu.


"Saat Nenek masuk rumah sakit, aku datang ke rumahmu untuk menyerahkan surat izin untuk kamu serahkan ke kampus. Tapi pada saat itu aku mendengar tentang rencana pertunangan antara dirimu dan Gisel," ucap Lidya.


"Itu-"


"Dan saat di kampus aku melihatmu dalam pose berpelukan dengan Gisel," Lidya memotong perkataan Kelvin yang akan menjelaskan tentang pertunangan yang dimaksud Lidya


"Lidya..." Kelvin memanggil namanya dan memberikan jeda panjang.


Lidya menatap Kelvin yang terlihat serius dengan tak kalah serius.


"Sebenarnya... kamu cemburu ya?" Raut wajah Kelvin langsung berubah 180° ketika mengatakan 3 kata terakhir. Bahkan kini dia sudah tertawa.


"Ish..." Lidya memukul bahu Kelvin tidak terlalu kuat namun tidak bisa dikatakan pelan.


"Maaf maaf, aku hanya bertanya. Kamu cemburu pada Gisel atau tidak?" Kelvin menunjukkan wajah memelas miliknya.


"Katakan saja apa yang ingin aku tahu. Jangan bertanya hal hal aneh seperti itu," ucap Lidya kesal.


"Pertanyaan itu kan bersangkutan dengan topik yang kita bahas," dengan wajah polosnya Kelvin berkata membuat Lidya bertambah kesal.

__ADS_1


"Kelvin!" Lidya sedikit berteriak karena kekesalannya.


Bukannya membujuk atau melakukan sesuatu yang bisa memperbaiki emosi Lidya, Kelvin malah tertawa bahkan tawanya lebih kencang dari sebelumnya.


__ADS_2