
"Nek," panggil Lidya lembut.
Lidya menepuk pelan pipi Neneknya, tapi tetap saja Nenek Lidya tak kunjung sadar.
Tiba tiba saja kecemasan Lidya muncul kembali.
"Kelvin," panggil Lidya dengan suara yang menyerupai teriakan.
Mendengar namanya dipanggil, Kelvin yang diperintahkan Lidya untuk duduk di sofa dengan sigap langsung datang menemui Lidya.
"Ada apa?" Tanya Kelvin.
"Kayaknya Nenek pingsan. Bantu aku bawain ke rumah sakit, ya" pinta Lidya dengan nada cemas.
Kelvin menggendong tubuh tua Nenek Lidya dan dengan segera membawanya ke rumah sakit.
***
"Kondisi beliau sangat memprihatinkan. Saya menganjurkan untuk beliau dirawat disini sementara waktu sampai menunggu jadwal operasi," ucap Dokter memberitahu keadaan Nenek Lidya.
"Tapi Dok, selama ini keadaan Nenek baik baik saja. Dan saat saya tinggal tadi pagi, Nenek baik baik saja. Lalu kenapa tiba tiba begini?" Tanya Lidya.
"Seharusnya Anda yang lebih mengetahui itu. Tapi kalau menurut pengalaman saat. Keadaannya saat ini karena beliau memiliki banyak pikiran," jawab Dokter.
"Dan ya, Nenek Anda tidak dapat di operasi jika beliau memiliki banyak pikiran yang nantinya malah dapat membuat kondisinya semakin buruk," ucap Dokter.
Lidya mengangguk mengerti.
__ADS_1
Lidya keluar dari ruangan Dokter yang merawat Neneknya. Di depan pintu sudah berdiri Kelvin yang sedari tadi masih setia menunggu Lidya.
"Apa kata Dokter?" Tanya Kelvin saat melihat Lidya yang keluar dari dalam ruangan.
Lidya menghembuskan nafasnya kasar.
"Apa kondisi Nenekmu parah?" Tanya Kelvin.
"Kata Dokter Nenek harus dirawat disini sampai jadwal operasi ditentukan. Karena kondisinya yang cukup kritis," jawab Lidya.
Kelvin dan Lidya berbicara dengan kaki berjalan menuju ruangan tempat Nenek Lidya dirawat.
"Lalu bagaimana dengan lomba kita?" Tanya Kelvin.
"Aku tidak tahu," balas Lidya.
"Nenek dipindahkan kesini," jawab Lidya.
Lidya berhenti melangkah saat sudah berada didalam ruangan Neneknya.
Nenek Lidya membuka matanya saat mendengar suara langkah kaki.
"Tidak perlu bangun, Nek" ucap Lidya saat melihat Neneknya ingin bangun.
"Bagaimana kabar Nenek?" Tanya Lidya.
"Nenek baik," jawab Nenek Lidya dengan bibir pucatnya.
__ADS_1
"Apa ada yang Nenek pikirkan?" Tanya Lidya.
"Maaf, aku keluar sebentar. Mommy menelpon" ucap Kelvin mencari alasan dan langsung keluar.
Ia ingin memberikan privasi kepada Nenek dan cucu itu.
"Apa ada yang Nenek pikirkan?" Tanya Lidya kembali tanpa menggubris perkataan Kelvin.
"Tidak ada," jawab Nenek Lidya dengan memaksakan senyumannya.
"Jangan membebani dirimu, Nek. Berikan beban pikiranmu itu kepadaku. Biar aku yang menyelesaikan masalah Nenek. Aku tidak ingin jika nanti Nenek akan drop karena beban pikiran itu," ucap Lidya.
"Nenek hanya memikirkan keadaanmu. Memikirkan masa depanmu," jawab Nenek Lidya.
"Serius?" Tanya Lidya.
"Iya," jawab Nenek Lidya.
"Nenek tidak perlu khawatir. Masa depanku sudah terjamin," ucap Lidya.
Nenek mengangguk.
"Lidya, kalau misalnya Nenek tidak sela-"
Lidya menutup mulut Neneknya sebelum Neneknya menyelesaikan ucapannya. Tapi Nenek Lidya menyingkirkan tangan Lidya dengan lembut dan menggenggamnya.
"Nenek sudah tua dan Nenek pasti akan tiada. Jadi saat Nenek sudah tak bersamamu lagi. Berpikirlah sebelum mengambil tindakan. Pikirkan perasaan orang orang yang ada di sekitarmu yang menyayangimu. Rawat kesehatanmu, dan jangan terlalu banyak menangis. Selama ini Nenek selalu memperhatikanmu," ucap Nenek Lidya berhenti sejenak.
__ADS_1