Dibalik Semua Perubahan

Dibalik Semua Perubahan
Bab 40


__ADS_3

Ya, saat ini Lidya dan Kelvin sedang membicarakan Ayah dan Ibu tirinya yang sedang mengandung. Entah sudah berapa bulan, Lidya tidak peduli.


Karena sekarang yang terpenting baginya adalah menjadi orang sukses dan dapat membahagiakan orang yang sayang padanya.


"Mengenai surat dari Nenekmu, apakah kamu sudah membacanya?" Tanya Kelvin.


"Surat?" Lidya bertanya dengan mengerutkan dahinya.


"Oh iya, aku lupa. Aku belum membacanya," ucap Lidya.


"Bacalah, mana tahu ada sesuatu yang ingin Nenekmu ucapkan tapi tidak sempat. Dan dia menuliskannya disurat itu," ucap Kelvin.


"Mau membacanya bersamaku?" Tanya Lidya.


"Apa tidak masalah?" Tanya Kelvin balik.


"Tidak, lagian kamu adalah tunangan ku. Dan tidak seharusnya aku menyembunyikan apa apa darimu," ucap Lidya.


Kelvin tersenyum bahagia saat mendengar dengan langsung Lidya mengatakan bahwa dia adalah tunangannya. Yang artinya Lidya sudah menerimanya menjadi tunangan sepenuhnya.


"Baiklah, ambil suratnya dan kita baca bersama sama di situ," ucap Kelvin seraya menunjuk sebuah kursi yang ada dibawah pohon.


"Baiklah," balas Lidya yang berlalu masuk ke dalam gedungnya.

__ADS_1


Lidya mengambil surat yang terletak di tas kecil.


Tapi seseorang merampas surat itu dari tangannya.


"Ini surat apa ya. Bentuknya jelek sekali," ucap mahasiswi yang mengambil surat Lidya.


"Siapa Anda?" Tanya Lidya.


"Aku? Siapa? Perkenalkan aku Yuni, teman Gisel," jawab mahasiswi itu yang bernama Yuni.


Oh teman Gisel, pantas ~ Lidya.


"Kembalikan surat saya," ucap Lidya.


Lidya yang tidak tertarik dengan obrolan Yuni, dengan segera menginjak kaki Yuni dan merampas kembali suratnya saat Yuni memegangi kakinya yang sakit.


"Dasar, sialan!!!" ucap Yuni geram kepada Lidya yang saat ini sudah menghilang dari pandangannya.


***


Lidya mendudukkan tubuhnya di samping Kelvin. Lalu menyodorkan surat tersebut.


Kelvin menerima surat tersebut lalu membuka lipatannya.

__ADS_1


"Kita baca sama sama tapi dalam hati saja. Nanti ada orang yang menguping," ucap Kelvin yang diangguki Lidya.


Untuk Lidya, cucu Nenek tersayang. Lidya mungkin saat kamu membaca surat ini Nenek sudah tiada. Walaupun begitu Nenek akan selalu menyayangimu. Nenek menulis surat ini karena Ibu dan Kakek mu menjemput Nenek di dalam mimpi. Nenek sadar, bahwa umur Nenek tidak akan lama lagi. Lidya semoga saat Nenek tidak ada, kamu bisa melanjutkan hidupmu dengan bahagia. Bersama dengan tunangan mu. Awalnya Nenek tidak terima dengan pertunangan itu. Karena pertunangan itu terjadi dengan alasan wasiat Ibumu. Karena Kelvin adalah anak sahabatnya. Tapi sejauh Nenek mengenal Ibumu, tidak ada anak sahabatnya yang bernama Kelvin.


Lidya berhenti membaca dan melirik Kelvin.


"Siapa kamu sebenarnya?" Tanya Lidya.


"Ha?"


"Kamu bukan anak sahabat Ibuku. Dari awal aku sudah tahu itu. Tapi aku memendamnya. Dan sekarang aku tidak bisa memendamnya lagi. Siapa kamu sebenarnya?" Tanya Lidya ulang.


Kelvin menghembuskan nafasnya kasar.


"Ya, kamu benar aku memang bukan anak sahabat Ibumu. Dan orang tuaku bukanlah sahabat Ibumu. Ta-"


Lidya berdiri dari duduknya dan bersiap untuk pergi. Tapi dengan sigap Kelvin memegang pergelangan tangan Lidya dan menariknya kebawah. Sehingga saat ini Lidya terduduk di sampingnya.


"Dengarkan dulu penjelasan ku. Aku melakukan hal itu bukan tanpa alasan," ucap Kelvin.


"Apa alasannya?" Tanya Lidya dengan wajah serius.


"Alasannya karena aku adalah-"

__ADS_1


Ting... ting... ting...


__ADS_2