
Lidya pernah ingin minggat dari rumah ke rumah Neneknya. Tapi Nenek Lidya menasihati Lidya untuk tidak meninggalkan orang tuanya. Nenek Lidya tidak ingin Lidya menjadi benci kepada Ayah nya.
Bukan maksud Nenek Lidya untuk tidak mengizinkan Lidya tinggal bersamanya. Tapi dia hanya tidak ingin Lidya menjadi ketergantungan kepadanya. Apalagi Nenek Lidya wanita berumur. Yang kapan saja bisa tutup usia.
"Nenekku segalanya bagiku. Saat Ibuku meninggal, Nenek menjadi satu satunya orang yang mau menjadi keluargaku. Sebagian hidupku aku tinggal bersama Nenek. Dan sebagian hidupku juga ada pada Nenek. Jika Nenek meninggalkanku. Aku rasa aku akan tiada hari itu juga, "ucap Lidya sambil menangis.
Mengingat Neneknya lah satu satunya orang yang menyayangi dengan tulus. Dan sebagian hidup Lidya habiskan bersama Neneknya.
"Lidya, jangan menangis. Mulai sekarang aku dan keluargaku adalah keluargamu juga. Kamu adalah bagian dari keluargaku," ucap Kelvin seraya menghapus air mata Lidya yang mengalir tanpa mau berhenti.
"Kenapa harus kamu yang Ibuku pilih untuk menjadi suamiku? Kenapa tidak putra sahabatnya yang lain saja? Apa istimewanya kamu?" Tanya Lidya kepada Kelvin.
Untuk sesaat Kelvin tersentak mendengar pertanyaan Lidya yang seharusnya dia tanyakan di awal pertemuan mereka, bukan saat ini.
"Mungkin Ibumu memiliki alasan khusus," jawab Kelvin.
"Mungkin saja," balas Lidya yang tidak terlalu yakin dengan jawaban Kelvin.
"Oh ya, untuk beberapa lama aku ingin Nenek tinggal bersamaku," ucap Lidya.
"Aku ingin mengurus Nenek," ucap Lidya.
"Lakukan saja apa yang kamu mau. Apartemen itu milikmu. Kamu boleh membawa siapa saja ke sana, asal tidak laki laki maupun orang yang berbahaya untukmu," ucap Kelvin.
"Apartemenku?" Tanya Lidya.
Kelvin mengangguk.
"Apartemen itu bukan milikku," ucap Lidya.
"Anggap saja itu hadiah dariku," ucap Kelvin.
"Maaf, tapi aku tidak bisa menerima sesuatu yang bukan milikku," ucap Lidya.
"Lidya, kenapa sih kamu suka banget membantah apa yang kukatakan?" Tanya Kelvin.
"Kenapa kamu gak bisa nurut samaku?" Tanya Kelvin.
"Asal Anda tahu, saya bukan gadis penurut. Jika memang Anda tidak menyukai sifat saya, Anda boleh mencari gadis lain untuk dinikahi. Karena wasiat Ibu saya bukan untuk Anda tapi untuk saya. Jika saya tidak bisa melakukan wasiat Ibu saya, saya bisa kok menerima apapun yang nantinya akan saya dapat sebagai hukuman," ucap Lidya.
"Lidya," bentak Kelvin.
Kelvin sangat marah dengan apa yang Lidya katakan. Bagaimana mungkin Lidya berpikir dia akan menikahi gadis lain?
__ADS_1
Di sisi lain Lidya terkejut dengan bentakan Kelvin. Bentakan pertama yang ia dengar dari Kelvin yang ditujukan untuknya.
Lidya tidak merasa takut pada suara bentakan, karena Lidya sudah sering di bentak. Tapi mendengar bentakan dari mulut Kelvin untuk nya, sungguh membuatnya terkejut. Karena Lidya pikir apa yang salah dengan ucapannya? Lidya berkata begitu juga demi kebaikan Kelvin. Lidya berpikir Kelvin mau menikah dengannya karena terpaksa karena wasiat Ibunya.
"Apa aku salah bicara?" Tanya Lidya yang merasa tidak bersalah.
"Aku berkata begitu kan demi kebaikanmu. Kamu melakukan pernikahan ini hanya karena wasiat Ibu. Kalau kamu tidak bahagia, ya sudah pergi saja cari gadis lain. Karena aku tidak suka mengurung seseorang," ucap Lidya.
Lidya berlalu pergi meninggalkan Kelvin yang masih mematung ditempatnya.
"Nek," panggil Lidya.
"Ada apa, sayang?" Tanya Nenek Lidya.
"Kita pulang, yuk" ajak Lidya.
"Kok pulang, acaranya kan belum selesai," ucap Nenek.
"Gak papa, Nek. Lagian kan udara malam tidak baik untuk Nenek," ucap Lidya.
"Kamu kan pemilik acaranya, bagaimana kamu bisa pergi?" Tanya Nenek Lidya.
"Ada Ayah yang bisa menggantikan ku, Nek" jawab Lidya.
"Ya sudah, ayo kita pulang" Nenek Lidya akhirnya mengalah.
Lidya tersenyum senang, sambil menggandeng Neneknya untuk pergi dari tempat mereka berada sekarang.
Lidya membawa Neneknya ke apartemen yang katanya adalah miliknya.
"Kenapa kita kesini, Lidya? Kenapa tidak ke rumah Ayahmu?" Tanya Nenek Lidya bingung.
"Lidya mau belajar mandiri, Nek" jawab Lidya.
"Kamu tinggal disini sendirian? Apa Ayahmu tidak melarang mu?" Tanya Nenek Lidya.
"Ayah sempat melarang Lidya, Nek. Tapi Lidya bersikeras dan meyakinkan Ayah, kalau Lidya akan baik baik saja tinggal sendiri," jawab Lidya berbohong.
"Tapi koper Nenek masih ada di rumah tunangan mu. Nenek lupa tadi," ucap Nenek Lidya.
"Ya udah, Nek. Lidya beli baju Nenek sebentar. Jangan kemana mana ya," ucap Lidya kepada Neneknya.
Nenek Lidya mengangguk.
__ADS_1
Lidya keluar dari apartemennya dengan tas kecil yang berisikan kartu debit dan key card apartemennya.
Lidya melihat Kelvin yang ada di depan meja Resepsionis. Bukannya malah menyapa, Lidya malah berjalan cepat menghindari bertemu dengan pria yang sudah menjadi tunangannya itu.
"Lidya," ternyata Kelvin melihat Lidya yang berjalan setengah berlari.
Bukannya berhenti Lidya malah berlari keluar dari gedung. Kelvin yang melihat Lidya berlari, mengejarnya sampai tertangkap.
"Kenapa kamu berusaha menghindar dariku?" Tanya Kelvin.
"Aku tidak menghindar," jawab Lidya berbohong.
"Lalu kenapa kamu langsung pulang dari pesta dan berlari saat aku panggil?" Tanya Kelvin.
"Kamu memanggilku?" Tanya Lidya berpura pura tidak tahu.
"Jangan berpura pura Lidya," ucap Kelvin yang mengetahui jelas Lidya sedang berpura pura dengannya.
"Aku pergi dari pesta karena udara malam tidak cocok untuk kesehatan Nenek. Dan kenapa aku berlari? Karena aku tidak mau meninggalkan Nenek terlalu lama sendiri," jawab Lidya.
Lidya menghempaskan tangan Kelvin yang menggenggam tangannya, lalu berlari kearah pangkalan taksi. Saat Lidya ingin masuk ke dalam mobil taksi.
Kelvin menghalangi Lidya dengan menarik tangan Lidya.
"Kenapa sih kamu selalu menggangguku?" Tanya Lidya kesal.
"Pergilah, dan jauhi aku," Lidya berteriak dengan kesal.
Lalu Lidya masuk kedalam mobil taksi meninggalkan Kelvin yang hanya bisa mematung melihat kepergian sang tunangan.
Kelvin meninggalkan tempatnya masuk kedalam gedung apartemen. Masuk kedalam lift, dan pergi menuju apartemen miliknya sendiri.
Di sisi lain,
Lidya sampai di toko yang menyediakan pakaian. Lidya memilih milih pakaian yang kira kira akan cocok dengan Neneknya. Lidya memilih 5 pakaian untuk sang Nenek tercinta. Lalu ia pergi ke kasir untuk membayar.
Tepat saat Lidya ingin membayar, seorang wanita malah mengambil posisi Lidya.
"Ups, maaf Nona tapi saya lah yang terlebih dahulu," ucap wanita itu yang bernama Gisel.
Lidya dan Gisel bersekolah satu SMA dulu. Gisel murid pindahan saat Lidya menduduki bangku kelas 3.
Tapi anehnya saat itu Gisel sangat membenci Lidya. Karena Gisel menganggap Lidya adalah musuh nya untuk mendapatkan Kelvin, kala itu.
__ADS_1