Dibalik Semua Perubahan

Dibalik Semua Perubahan
Bab 20


__ADS_3

Lidya sampai di rumah sakit Permata.


"Nona, boleh ikut saya sebentar?" Tanya Dokter yang menangani Nenek Lidya.


"Boleh, Dok" jawab Lidya.


"Nenek, sama dia dulu ya," ucap Lidya.


"Tolong jaga Nenekku," ucap Lidya menitipkan Nenek nya kepada Kelvin.


Kelvin mengangguk.


***


Kantor Dokter Rudy.


"Silahkan duduk, Nona" ucap Dokter Rudy mempersilahkan Lidya duduk.


Lidya mengangguk.


"Begini Nona, kesehatan ginjal Nenek Anda sudah sangat memburuk. Dengan melakukan pengobatan saja tidak akan cukup untuk mengobati Nenek Anda," ucap Dokter Rudy.


"Dalam satu bulan ini, Nenek Anda harus segera menjalani operasi jika Anda tidak ingin kehilangan dia," ucap Dokter Rudy kembali.


"Apakah sudah ada donor untuk Nenek saya, Dok?" Tanya Lidya.


"Untuk saat ini belum. Tapi kami sudah membuat nama Nenek Anda di daftar pertama. Jadi saya yakin sebentar lagi Nenek Anda akan mendapatkan donor," ucap Dokter Rudy.


"Kalau Dokter sudah mendapatkan donor untuk Nenek saya, tolong segera hubungi saya," ucap Lidya.


"Pasti," ucap Dokter Rudy.


***


Di dalam perjalanan menuju apartemen, Lidya hanya diam saja.


"Nak, apa yang Dokter katakan tadi?" Tanya Nenek Lidya.


"Dokter bilang kondisi Nenek akan semakin membaik jika teratur mengikuti perobatan," jawab Lidya berbohong.


Lidya ingat pesan yang Dokter Rudy katakan.


Jangan membuat pasien memiliki banyak pikiran. Itu tidak baik untuk kesehatannya,


Kelvin melirik Lidya yang berada di sampingnya. Terlihat jelas bahwa sekarang Lidya sedang berbohong. Ada yang dia sembunyikan tentang kondisi Nenek Lidya.


"Kita sudah sampai," ucap Kelvin saat mereka tiba di parkiran yang ada di depan lobi apartemen.


Lidya membuka pintu mobilnya, lalu membuka kembali pintu mobil untuk Neneknya tercinta.


"Temui aku di restoran setelah mengantar Nenek," ucap Kelvin berbisik kepada Lidya.


Lidya mengangguk.

__ADS_1


Setelah mengantar Neneknya ke apartemen, Lidya kembali turun pergi menuju restoran, tempat Kelvin menunggunya.


Lidya duduk di salah satu kursi yang ada restoran yang berada di hadapan Kelvin.


"Ada apa?" Tanya Lidya.


"Apa yang Dokter katakan kepadamu?" Tanya Kelvin balik.


"Dokter bilang dalam satu bulan ini, Nenek harus menjalani operasi. Atau kalau tidak Nenekku..." Lidya tidak sanggup melanjutkan kata katanya.


"Tenanglah, aku akan berusaha membantunya semampuku," ucap Kelvin mencoba menghibur Lidya.


Lidya mengangguk.


"Oh ya, soal Gisel. Apa kalian memiliki masalah?" Tanya Kelvin.


"Dia yang memiliki masalah denganku," jawab Lidya.


"Maksudnya?" Tanya Kelvin.


"Tanya saja pada Gisel, dia pasti akan menjawabnya. 180° derajat berbeda dari apa yang menjadi pendapatku," jawab Lidya.


"Lidya aku ingin mendengar jawabannya dari mu bukan dari Gisel," ucap Kelvin.


"Baiklah akan aku jawab," ucap Lidya.


"Gisel adalah murid pindahan saat aku menduduki kelas 3 SMA. Saat itu aku dan sahabatku, Kelvin-"


"Bukan kamu tapi Kelvin yang berbeda," jawab Lidya.


"Lanjutkan lah," ucap Kelvin.


"Satu sekolah menganggap aku dan Kelvin adalah sepasang kekasih. Walaupun nyatanya kami hanya sebatas sahabat. Saat pertama melihat Kelvin, Gisel sudah menyimpan rasa kepada Kelvin. Bahkan dia juga menganggap aku sebagai rivalnya. Kelvin yang hanya memiliki aku sebagai teman terdekat perempuannya. Atau bisa dikatakan satu satunya teman terdekatnya, dia hanya mau bersamaku. Bahkan dia tidak menganggap Gisel yang selalu menjadi perhatian Kelvin. Di suatu hari Gisel pernah mendorongku masuk kedalam danau buatan yang ada di belakang sekolah. Danau yang memiliki kedalaman 3 meter. Bahkan aku hampir saja mati karena tidak bisa berenang. Tapi untung saja saat itu Kelvin datang dan menyelematkan ku. Atau kalau tidak aku hanya akan ada nama saja. Dan bahkan mulai saat itu Kelvin sangat tidak menyukai Gisel," ucap Lidya sambil mengenang waktu beberapa bulan silam.


*Flashback on


Saat itu Lidya sedang menunggu Kelvin yang pergi ke kantin untuk membeli minum. Lidya duduk di tepi danau sambil memperhatikan danau yang indah itu.


Tapi tiba tiba saja sebuah tangan mendorongnya dengan kuat. Sehingga mau tak mau Lidya harus tercebur kedalam danau itu.


Lidya yang memang tidak bisa berenang sama sekali hanya bisa berteriak minta tolong.


Tapi orang yang mendorong Lidya, Gisel malah tertawa terbahak bahak. Di sekitar danau itu juga tidak ada orang kala itu.


"Tolong," Lidya berucap dengan tersenggal senggal.


"Lidya," suara panik dari belakang Gisel membuat Gisel terkejut, suara Kelvin.


Saat Kelvin melihat Lidya yang hampir kehabisan nafas di dalam air, Kelvin langsung berlari dan mencebur untuk menyelamatkan Lidya.


"Lidya, bangunlah" ucap Kelvin seraya menepuk nepuk pipi Lidya berusaha menyadarkan Lidya yang hampir menutup matanya.


Kelvin menekan nekan dada Lidya berusaha mengeluarkan air yang tertelan oleh Lidya.

__ADS_1


Byur...


Segerombolan air keluar dari mulut Lidya.


"Uhuk... uhuk," Lidya terbatuk batuk.


"Lidya, kamu baik baik saja?" Tanya Kelvin khawatir.


"Ini minum dulu," Kelvin membukakan botol minum yang ia beli tadi, lalu menyerahkan ke mulut Lidya, untuk Lidya minum.


"Aku baik baik saja," jawab Lidya sambil tersenyum setelah selesai minum.


"A-aku, tidak sengaja mendorong dia," ucap Gisel tiba tiba.


Mendengat suara Gisel, membuat Kelvin mendadak jadi kesal. Ia menatap Gisel dengan tatapan elang miliknya.


"Sudahlah, Kelvin. Dia bilang kan dia tidak sengaja," ucap Lidya berusaha meredakan amarah Kelvin.


"Bagaimana dia tidak sengaja? Dia bahakan menertawai mu bukannya menolong," ucap Kelvin.


"Ma-af Kelvin. Aku be-nar benar tidak sengaja," ucap Gisel yang takut menghadapai amarah Kelvin.


"Minta maaflah kepada Lidya, bukan kepadaku. Dialah yang menjadi korban," bentak Kelvin.


Gisel terperanjat mendengar suara bentakan Kelvin.


"Li-Lidya a-aku minta maaf," ucap Gisel.


"Aku maafkan, kok" jawab Lidya diikuti senyum manisnya.


"Sekarang pergilah," usir Kelvin.


Gisel hanya bisa menurut dengan hati yang menggerutu. Di dalam hati Gisel malah memaki maki kenapa Lidya tidak mati saja.


"Kelvin jangan galak galak sama Gisel," tegur Lidya.


"Gimana aku gak galak? Dia bahkan berani dorong kamu. Dan bukannya bantu, dia malah ngetawain kamu. Kan kurang ajar," ucap Kelvin yang masih kesal.


"Kamu tahu darimana kalau dia yang dorong aku?" Tanya Lidya.


"Ya aku cuma menyimpulkan saja sih. Lagian kalau dia gak dorong kamu, pastilah dia minta orang untuk nolong kamu kalau dia memang tidak bisa," jawab Kelvin.


"Perbuatannya ini harus dilapor kan ke kepala sekolah," ucap Kelvin yang ingin beranjak menuju kantor kepala sekolah.


Lidya menarik tangan Kelvin untuk kembali duduk.


"Sudahlah, maafkan saja Gisel. Kita harus memberinya kesempatan kedua," ucap Lidya.


"Tapi-"


"Demi aku, tolong maafin Gisel. Kalau nanti dia mengulangi kesalahannya. Aku gak akan larang kamu untuk hukum dia," ucap Lidya.


Flashback off*

__ADS_1


__ADS_2