Dibalik Semua Perubahan

Dibalik Semua Perubahan
Bab 43


__ADS_3

Lidya menggeleng.


"Tolong katakan tentang vitamin yang kamu berikan tadi," pinta Dae Ryung.


"Vitamin ini?" Tanya Lidya dengan menunjukkan kotak kecil di tangannya.


Dae Ryung mengangguk.


"Ibu saya sendiri yang meraciknya," ucap Lidya.


"Wah... hebat sekali. Ibumu pasti seorang Dokter yang hebat," puji Dae Ryung.


"Ibu saya adalah seorang designer bukan dokter," ucap Lidya.


"Apa?" Dae Ryung tampak terkejut.


"Ibumu seorang Dokter, tapi dia mahir membuat sebuah vitamin. Benar benar menakjubkan. Aku jadi penasaran dengan sosok Ibumu," ucap Dae Ryung.


Tiba tiba Lidya teringat akan Ibunya. Tapi dia berusaha keras untuk menyembunyikan mimik wajah sedihnya. Ia malah memasang wajah datarnya.


"Apa aku bisa menemui Ibumu?" Tanya Dae Ryung.


Lidya menggeleng.


"Apa aku bisa mendapatkan alasannya?" Tanya Dae Ryung.


"Dia sudah meninggal," jawab Lidya.


"Oh maaf," ucap Dae Ryung merasa tidak enak hati karena mengungkit masalah Ibu Lidya yang sudah tiada.

__ADS_1


"Tidak apa apa," balas Lidya.


"Tapi jika Ibumu sudah tiada, bagaimana vitaminnya masih ada? Siapa yang meraciknya?" Tanya Dae Ryung.


"Saya," jawab Lidya.


"Ibu yang mengajarkan saya," ucap Lidya yang sudah yakin Dae Ryung akan bertanya bagaimana ia bisa membuatnya.


"Oh," Dae Ryung mengangguk angguk mengerti.


"Sudah malam, sebaiknya kamu masuk ke dalam kamar. Besok adalah lombanya. Jadi beristirahatlah dengan tenang," ucap Dae Ryung.


"Saya masih ingin disini," balas Lidya.


"Baiklah, terserah kemauan mu saja. Aku akan menemanimu," ucap Dae Ryung.


Lidya membiarkan Dae Ryung berada di sampingnya. Mata Lidya terus menatap langit yang dihiasi bulan dan ditemani ribuan bintang.


Lidya menasihati dirinya sendiri ketika teringat akan Kelvin.


"Mau kemana?" Tanya Dae Ryung saat melihat Lidya yang sudah turun dari pagar pembatas.


"Saya akan keluar sebentar," jawab Lidya.


"Pergilah, tapi ingat sebelum jam 10 kamu harus sudah ada didalam kamar. Atau kalau tidak kamu akan tidur diluar," ucap Dae Ryung memberi peringatan.


Lidya mengangguk.


Setelah itu Lidya turun dan keluar dari gedung. Ia ingin mendengar penjelasan dari Kelvin. Karena sebelum dia mendengar penjelasan sebenarnya. Mungkin pikirannya tidak akan fokus dalam lomba besok.

__ADS_1


Lidya mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Kelvin setelah ia tiba di depan pintu gedung pria.


"Aku ada di depan gedung mu. Temui aku sekarang atau tidak selamanya," ucap Lidya setelah terhubung.


Setelah mengatakan hal itu, Lidya mematikan sambungan telepon dan memasukkan ponselnya ke dalam saku.


***


Di sisi lain.


Kelvin segera keluar dari kamar ketika mendapat panggilan telepon dari Lidya.


"Mau kemana?" Tanya seorang pengawas di gedung laki laki.


"Saya ada keperluan sebentar keluar, pak" jawab Kelvin.


"Keperluan apa?" Tanya pengawas itu.


"Teman saya membutuhkan bantuan saya," jawab Kelvin.


"Apa harus kamu yang menolongnya? Masih ada orang lain, bukan?" kata pengawas itu.


"Bukan begitu, pak. Tapi dia itu teman saya. Dan dia tidak mengenal siapapun selain saya," ucap Kelvin.


"Dia bisa meminta bantuan kepada pengawasnya," ucap pengawas itu.


Dasar pria aneh. Tugasmu bukan untuk ikut campur masalah orang. Hanya mengawasi para peserta laki laki.


Batin Kelvin kesal.

__ADS_1


Tanpa sadar Kelvin mengepalkan tangannya dan siap melayangkan tinjunya.


__ADS_2