
"Tapi kenapa aku berpikir bahwa kita akan sering bertemu dan memiliki hubungan yang akrab?" ucap Dae Ryung seakan akan sedang berpikir.
"Saya berharap pemikiran anda tidak benar. Maaf saya harus pergi," ucap Lidya seraya pergi meninggalkan Dae Ryung tanpa persetujuan Dae Ryung.
"O...k," ucap Dae Ryung seraya menatap kepergian Lidya dengan sebuah senyuman tipis di bibirnya.
Tidak lama lagi kita akan bertemu, adik kecilku...
(Eh, isi hati siapa itu ya?)
***
Hari Senin Lidya dan Kelvin pergi ke kampus seperti biasa. Tidak ada yang beda hari ini dengan hari hari yang lalu. Hanya ada satu hal yang berubah dihari ini yaitu pengumuman tentang lomba yang membuat banyak mahasiswa dan mahasiswi berlomba lomba mengucapkan selamat.
"Lidya apa mata kuliahmu sudah selesai?" Tanya Kelvin saat melihat Lidya yang berjalan menuju gerbang kampus.
Lidya mengangguk.
"Setelah ini kamu akan kemana?" Tanya Kelvin.
"TPU," jawab Lidya.
__ADS_1
"Sudah lama aku tidak kesana," sambung Lidya saat melihat tatapan bertanya tanya dari Kelvin.
"Apa akan lama?" Tanya Kelvin.
"Setengah jam saja," jawab Lidya.
"Aku ikut ya. Setelah dari TPU aku berencana membawamu kerumah. Mommy sangat merindukanmu," ucap Kelvin yang mendapat anggukan kepala dari Lidya.
Dengan menggunakan motor sport milik Kelvin, mereka berdua pergi ke TPU.
Lidya memegang lengan Kelvin memberinya tanda agar berhenti. Saat Kelvin berhenti dan menoleh kearah Lidya berusaha mempertanyakan tindakannya. Lidya sudah lebih dulu meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya sebagai tanda agar dia diam dengan pandangan mata lurus kedepan.
Kelvin hanya bisa diam dengan memandang kearah yang dipandang Lidya.
Lidya mengangguk.
"Untuk apa mereka mengunjungi makan Ibumu?" Tanya Kelvin.
Lidya mengangkat bahunya tanda tidak tahu.
"Ayo kita lihat apa yang akan mereka lakukan," Kelvin langsung menarik tangan Lidya menuju makam Ibunya.
__ADS_1
"Selamat sore Tuan Han," sapa Kelvin setelah berada didekat mereka berempat.
Keempat orang itu tampak tersentak dengan Kelvin juga sapaannya.
"Untuk apa anda semua kemari?" Lidya langsung bertanya tanpa basa basi seperti biasanya.
"Lidya bicaralah yang sopan. Apa salah jika seorang suami menemui makam Istrinya?" Tanya Ayah Lidya berusaha bersikap sewajarnya.
"Suami? Suami Ibuku? Siapa? Anda atau Tuan Han?" Tanya Lidya dengan nada sinis.
"Lidya jaga kata katamu," ucap Ayah Lidya berusaha meredam emosinya.
"Kenapa? Apa saya salah? Hey Tuan, Ibuku sudah meninggal selama 6 bulan lamanya. Dan selama itu juga anda tidak pernah datang kemari. Lalu tiba tiba sekarang anda datang dengan membawa wanita rendahan ini dan dua orang asing? Ke-"
"Lidya," tangan Ibu tiri Lidya sudah melayang diudara bersiap mendarat kepipi mulus Lidya.
Dengan sigap Kelvin yang berdiri di samping Lidya memegang tangan Ibu tiri Lidya.
"Cih, apa perkataan saya salah? Anda dan suami andakan memang murahan. Sangat serasi," ucap Lidya dengan nada merendahkan.
"Lidya sebaiknya kita selesaikan masalahnya di rumah saja," bisik Kelvin seraya menghempaskan tangan Ibu tiri Lidya.
__ADS_1
Lidya menarik nafas dan mengeluarkannya dengan sedikit kasar.
"Kita selesaikan masalah ini dirumah. Bawa juga kedua tamumu," ucap Lidya yang lebih menyerupai sebuah perintah yang tidak dapat lagi diubah.