
Ucap Lidya melebih lebihkan kata katanya dibagian sampai pagi.
"Kau," untuk sekian kalinya Gisel berkata tertahan. Ya Gisel yang merasa Lidya adalah rival terberatnya dulu.
Lidya berjalan kearah meja kerjanya dan menghubungi seseorang.
"Panggil keamanan untuk menyeret seseorang dari kantorku," ucap Lidya lalu mematikan sambungan telepon.
Tak butuh waktu lama akhirnya Yori datang bersama dua keamanan.
"Malam, bos"
Lidya mengangguk.
"Bawa dia keluar! Suruh seorang pembunuh bayaran untuk mengikutinya. Jika dia kabur, makan suruh saja pembunuh itu langsung membunuhnya," titah Lidya tegas.
"Baik bos," jawab mereka sedikit berdegik ngeri.
"Lepaskan aku bisa jalan sendiri," dengan wajah angkuhnya Gisel keluar diikuti dua keamanan itu.
"Berikan imbalan untuk semua lembur karyawan. Saya akan pulang," ucap Lidya lalu mengambil tasnya dan langsung keluar.
Di dalam lift ponselnya bergetar menunjukkan nama Dae Ryung. Panggilan video call yang dilakukan oleh Dae Ryung.
__ADS_1
"Ya?" Lidya menjawab dengan malas.
"Lidya apa yang kau perbuat dikantor?"
Lidya berjalan seribu langkah setelah keluar dari lift menuju mobilnya.
"Ternyata informanmu sangat banyak ya disini. Bahkan belum ada 24 jam kamu sudah tahu apa yang terjadi," ucap Lidya meletakkan ponselnya di car universal holder yang ada di kaca mobilnya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan," ucap Dae Ryung.
Lidya acuh, ia fokus untuk mengeluarkan mobilnya meninggalkan gedung perusahaan.
"Kamu itu sangat bodoh! Bagaimana bisa kamu mempekerjakan seorang koruptor? Jika aku tidak turun tangan perusahaan bisa bangkrut. Dasar!" Lidya berucap dengan geram.
"Semua orang yang bekerja disana adalah murid yang pintar itu sebabnya aku memperkerjakan mereka," ucap Dae Ryung membela diri.
"Apa gunanya mempekerjakan orang jujur namun bodoh? Hanya akan mendapat rugi," balas Dae Ryung.
"Ada gunanya. Dengar jika dia bodoh seniornya bisa menuntunnya. Tapi jika dia pencuri itu sudah karakternya yang terbentuk puluhan tahun... sudahlah aku malah berdebat denganmu. Urus saja pernikahanmu lalu kembalilah ke perusahaan. Jangan membuat bebanku bertambah," ucap Lidya lalu mematikan sambungan telepon.
"Bagaimana bisa aku memiliki Kakak senaif ini? Sudah naif bodoh lagi," gerutu Lidya.
***
__ADS_1
Keesokan harinya
"Ada apa?" Tanya Lidya kesal karena panggilan telepon yang dilakukan Dae Ryung mengganggunya.
"Bangun sudah siang," ucap Dae Ryung sedikit berteriak.
Lidya berdecak kesal.
"Biarkan aku tidur sebentar lagi. Disana mungkin sudah jam tengah delapan. Tapi disini masih jam lima lewart tiga puluh menit. Jangan menggangguku," Lidya berniat mengakhiri panggilan itu namun suara teriak Dae Ryung menghentikannya sesaat.
"Jangan lupa ada pertemuan dengan klien jam 7 nanti," teriak Dae Ryung.
Lidya langsung mematikan setelah mendengar teriakan Dae Ryung.
"Ada ada saja pertemuan jam 7. Waktu sarapan," Lidya menggerutu lalu beranjak untuk bersiap kerja
Dae Ryung sudah mengganggu tidurnya membuatnya tidak bisa kembali memejamkan mata.
Dengan wajah dinginnya Lidya berjalan kearah ruangan private disebuah restoran sendirian. Tangan kanannya menempelkan ponsel ditelinga kanannya.
"Apa uangnya sudah pas?" Tanya Lidya kepada Yori yang ia tugaskan untuk menerima uang dari Gisel.
"Sudah bos," jawab Yori.
__ADS_1
"Bagus. Beritahukan kepada bagian HRD bahwa saya memecat Nona Gisel," ucap Lidya.
"Tapi bos, perjanjian kontrak kerja Nona Gisel...?" Yori bertanya ragu ragu.