
Kini mereka bertiga sudah berada di depan ruang operasi.
Lidya menatap ruang operasi itu lekat lekat. Ruangan yang sama, rumah sakit yang sama saat Lidya melihat Kelvin, kekasih Lidya terbujur kaku tak berdaya.
Sebulir air keluar dari pelupuk mata Lidya. Dengan segera Lidya menghapusnya agar tidak ada yang melihatnya menangis.
"Mommy, Daddy pasti akan baik baik saja," Kelvin mencoba menghibur Mommy nya yang menangis tak henti henti.
"Mommy jangan nangis ya,"
"Gimana Mommy gak nangis, Kel. Selama kamu hilang hanya Daddy kamu yang Mommy punya. Hanya Daddy kamu," ucap Mommy Kelvin.
"Kelvin hilang?" Lidya bergumam lirih.
Satu kenyataan yang dia tidak tahu selama ini.
Kelvin memeluk Mommy membiarkan Mommy nya itu menangis di dalam pelukannya.
Lidya menatap wajah Kelvin lekat lekat.
Wajah yang sama. Nama yang sama. Dan dia pernah hilang. Apa jangan jangan, dia... Kelvin-ku?
Lidya bertanya tanya dalam hati.
Sungguh dia tidak mengerti apakah ini suatu kebetulan atau memang fakta.
Tapi itu tidak mungkin. Jelas jelas Kelvin sudah di makam kan di hadapanku. Aku melihatnya dengan kepala mataku sendiri. Bahkan saat dia masih di rumah sakit, aku selalu menemaninya. Memang wajahnya tidak dapat di kenali, tapi postur tubuhnya aku sangat yakin itu Kelvin.
Lidya berkata dalam hati. Sungguh bingung harus memutuskan apa yang harus di percayai. Antara Kelvin, kekasihnya sudah tiada atau Kelvin, kekasihnya masih hidup dan berada di depan matanya.
Siapa kamu sebenarnya?
Tanya Lidya dalam hati.
Lidya berdiri di dekat pintu ruang operasi. Ia mencoba mengalihkan pikirannya yang membuat kepalanya pening.
"Lidya, duduklah dulu" ucap Kelvin.
Lidya menggeleng.
"Tante aku permisi sebentar," ucap Lidya yang langsung pergi dari tempat ruang tunggu ruang operasi.
"Ruth, tolong jaga Mommy sebentar," ucap Kelvin kepada Sekretaris Daddy Kelvin.
"Baik, Tuan muda" balas Sekretaris Ruth.
Kelvin pergi menyusul Lidya. Ia takut jika sewaktu waktu Lidya pulang dengan berjalan kaki di bawah terik matahari.
Kelvin mencari Lidya namun ia kehilangan jejak Lidya.
__ADS_1
***
Di sisi lain, Lidya berada di meja Resepsionis.
"Permisi, Bu. Apakah berkas tentang kecelakaan yang terjadi 6 bulan lalu masih ada?" Tanya Lidya.
"Berkas berkas tentang 6 bulan lalu ada di dalam gudang, Nona" jawab Resepsionis.
"Apakah saya bisa melihat berkas berkas itu, Bu?" Tanya Lidya.
"Tidak bisa, Nona" jawab Resepsionis.
"Tolong, Bu. Saya harus melihat berkas itu. Saya adalah Lidya pasien yang di rawat 6 bulan lalu akibat kecelakaan. Dan saya ingin melihat siapa saja korban yang terjadi dalam kecelakaan itu," ucap Lidya.
Resepsionis itu tampak terdiam sesaat. Sebelum akhirnya mengangguk dan memberikan kunci gudang kepada Lidya.
"Terima kasih, Bu" ucap Lidya.
Lidya mengambil kunci itu dan segera pergi ke gudang dengan arahan yang di berikan oleh Resepsionis.
Sesampainya Lidya di dalam gudang, ia melihat puluhan rak.
"Dari sekian banyak rak ini, bagaimana aku bisa mendapatkan berkas yang ku cari?" Lidya malah bingung sendiri.
Lidya melihat salah satu rak yang ternyata di setiap rak terdapat tahun dan bulan berkas tersebut.
Lidya mencari tempat berkas 6 bulan lalu.
Tapi sayangnya di depan Lidya bukan hanya ada satu berkas, namun ada sekitar tiga puluhan berkas.
Lidya membuka berkas yang paling atas. berkas itu berisikan kejadian kejadian pada tanggal 30 Mei 2020. Lidya mencari berkas pada tanggal 07 Mei 2020. Hari dimana Kelvin tiada. Atau mungkin Kelvin masih hidup? Entahlah. Itu masih menjadi misteri bagi Lidya.
Setelah bersusah payah dan bercucuran keringat, Lidya mendapatkan berkas yang dia cari.
Lidya membuka halaman terkahir. Karena Lidya yakin kecelakaan mereka tertulis di sekitar belakang. Karena kecelakaan itu terjadi pada malam hari.
Kecelakaan di jalan Sudirman, pukul 22.15 Waktu Indonesia Barat. Tanggal 07 Mei 2020. Kecelakaan motor menabrak batas jalan. Korban Lidya Lanita, hanya cedera ringan di bagian tangan dan kakinya,
Lidya membaca surat itu ada kejanggalan didalamnya.
Mengapa hanya aku yang menjadi Korban? Kenapa Kelvin tidak ada?
Lidya bertanya tanya dalam hati.
Lidya membolak balikkan lembaran berkas untuk mencari tahu siapa yang telah mereka makam kan dengan nama Kelvin Dirga?
Satu lembar berkas menarik perhatian Lidya.
Kebakaran di gedung xxx, di jalan Gajah Mada. Pukul 12.35 Waktu Indonesia Barat. 23 korban dibawa ke rumah sakit Indah dengan satu korban tiada akibat luka bakar di wajahnya. Korban yang tiada tidak diketahui siapa keluarganya,
__ADS_1
Lidya membaca lembaran berkas itu dalam hati.
Sebuah senyuman tipis tersungging di bibirnya.
Apa ini artinya masih ada harapan Kelvin-ku masih hidup?
Lidya terlihat sangat senang dengan pemikirannya itu.
Tapi kalau dia masih hidup, kenapa dia tidak menemui dan mengatakan kepadaku bahwa dia masih hidup dan dia adalah Kelvin, kekasihku. Tapi apa benar Kelvin itu adalah Kelvin ku? Kenapa kehidupan di dunia ini sangat rumit.
Lidya mengeluh dalam hati.
"Lidya apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Kelvin yang tiba tiba saja sudah ada di samping Lidya.
Lidya menutup berkas yang dia pegang dan menyembunyikannya dibelakangnya.
"Apa itu?" Tanya Kelvin.
"Bu-bukan apa apa," jawab Lidya sedikit gugup.
"Kenapa gugup? Tumben sekali Lidya yang dingin dan cuek ini menjadi gugup," ucap Kelvin.
"Ada apa kemari?" Tanya Lidya mengalihkan pembicaraan.
"Mommy memanggilmu," jawab Kelvin.
"Untuk?" Tanya Lidya.
"Daddy sudah di pindahkan ke ruang inap. Jadi Mommy meminta untuk bertemu denganmu. Mungkin ada yang ingin dia bicarakan," jawab Kelvin.
"Pergilah dulu, nanti saya akan menyusul," ucap Lidya.
"Baiklah, tapi jangan lama lama," ucap Kelvin yang pergi terlebih dahulu.
Lidya menaruh berkas yang dia pegang ke rak tempat berkas itu semula. Setelah itu Lidya keluar dari gudang tidak lupa mengunci pintu gudang tersebut.
Sebelum pergi ke ruangan Daddy Kelvin, Lidya pergi ke meja Resepsionis untuk mengembalikan kunci yang ia pinjam, kunci gudang.
"Terima kasih, Bu" ucap Lidya.
"Sama sama," balas Resepsionis tersebut.
"Dimana kamar atas nama Tuan Dirga?" Tanya Lidya yang ingat dia tidak tahu dimana kamar inap Daddy Kelvin.
"Pasien yang baru selesai di operasi berada dikamar inap bagian mawar no 15, lantai empat," jawab Resepsionis.
"Baik, terima kasih" ucap Lidya.
Tanpa menunggu lama, Lidya memasuki lift dan naik kelantai empat.
__ADS_1
Tiba dilantai empat, Lidya berjalan ke bagian mawar dan masuk kedalam kamar inap no 15. Sebelum masuk, Lidya tidak lupa untuk mengetuk pintu terlebih dahulu. Setelah mendapatkan sahutan dari dalam barulah Lidya masuk.