Dibalik Semua Perubahan

Dibalik Semua Perubahan
Bab 22


__ADS_3

"Lidya, kenapa bengong?" Tanya Kelvin.


"Tidak," Untuk sesaat Lidya terdiam kembali. Ia memikirkan sesuatu yang pastinya akan berdampak besar untuk masa depannya.


Nenek harus dioperasi dalam satu bulan. Dan olimpiade nya pun akan dilakukan satu bulan lagi. Dan pastinya konsentrasi ku akan terpecah antara Nenek dan olimpiade. Jika aku memilih untuk merawat Nenek, maka aku tidak akan dapat fokus mengikuti olimpiade. Tapi jika aku memilih olimpiade, maka kemungkinan besar Nenekku..., tidak tidak. Aku akan membatalkan olimpiade ini. Bagaimana pun Nenekku tidak bisa digantikan dengan apapun. Aku bisa mendapatkan kesempatan kedua untuk olimpiade, tapi aku tidak akan mendapatkan kesempatan kedua untuk merawat Nenek.


Lidya berkata dalam hati.


"Apa aku bisa... membatalkan keikutsertaan ku?" Tanya Lidya.


Tampak wajah Kelvin terkejut mendengar pertanyaan Lidya.


"Kenapa?" Tanya Kelvin.


"Aku ingin menjaga Nenek," jawab Lidya.


"Aku tidak ingin fokus ku terpecah antara belajar dan menjaga Nenek. Bagiku sekarang Nenekku adalah penyemangat hidupku dan aku ingin menjaganya," ucap Lidya.


Kelvin tampak menghela nafas.


"Masalah itu, bicarakan kepada Dekan Uly," ucap Kelvin.

__ADS_1


Lidya mengangguk.


"Apakah donor untuk Nenek sudah ada?" Tanya Lidya dengan suara pelan agar Neneknya tidak dapat mendengar apa yang dia katakan.


Kelvin menggeleng dengan sedih.


"Kak Kelvin," suara dari ponsel Lidya.


Pemilik suara itu yang tak lain adalah Gisel berjalan ke arah Kelvin dan memegang erat lengan Kelvin.


"Maaf, sepertinya saya menganggu kalian. Kalau begitu sudah dulu," ucap Lidya seraya menekan tombol merah.


Kelvin memperhatikan layar ponselnya yang mendadak menjadi hitam.


"Iya," balas Kelvin seraya meninggalkan Gisel masuk ke rumah.


"Kak Kelvin, tunggu" Gisel berteriak.


Kelvin masuk ke rumah dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


"Ada apa, Mom?" Tanya Kelvin.

__ADS_1


"Orang tua Gisel mau bicara, mereka mau kamu mendengarkan apa yang akan mereka katakan," jawab Mommy Kelvin.


Kelvin mengangguk mengerti. Lalu ia beralih memandang Papi Gisel, menunggu apa yang akan pria itu katakan.


"Begini, nak. Kami sebagai orang tua Gisel ingin yang terbaik untuk Gisel. Kami mau Gisel mendapatkan seorang pria yang cocok untuk menjadi pendampingnya kelak. Zaman sekarang berbeda dengan zaman kami dulu. Pergaulan sekarang sangat bebas. Jadi saya sebagai Ayah Gisel ingin putri saya terhindar dari pergaulan itu," ucap Papi Gisel.


"Lalu?" Tanya Kelvin yang masih tidak menemukan titik terang pembicaraan Ayah Gisel.


"Saya ingin nak Kelvin menjadi menantu dan suami putri saya. Kalau bisa secepatnya saya ingin kalian menikah," ucap Ayah Gisel.


Daddy, Mommy, dan Kelvin sendiri terkejut mendengar apa yang Papi Gisel katakan.


Sedangkan di sisi lain, Gisel tersenyum puas.


"Tapi Tuan, putra saya masih kuliah dan menikah di usai dini. Saya tidak setuju," ucap Daddy Kelvin.


"Kalau memang itu alasannya, kita bisa menunda pernikahan mereka sampai Kelvin lulus," ucap Papi Gisel bersikeras.


"Saya serahkan semua keputusan kepada Kelvin," ucap Daddy Kelvin menyerahkan keputusan kepada Kelvin


Kelvin terdiam sesaat, ia mencoba memikirkan jawaban yang tepat. Karena Kelvin juga harus memikirkan pertemanan dan bisnis orang tuanya.

__ADS_1


"Beri aku waktu satu bulan untuk berpikir," ucap Kelvin pada akhirnya.


Kelvin tidak dapat memutuskan apa pun saat ini, itu sebabnya dia lebih memilih memberikan jawaban tidak pasti.


__ADS_2