
"Bu, Lidya mendapatkan harapan bahwa pria yang di makamkan dengan nama Kelvin ini, bukanlah Kelvin. Walau hanya sebuah harapan, tapu Lidya yakin bahwa harapan Lidya bukan hanya sekedar harapan biasa. Tapi sebuah petunjuk dari Tuhan," ucap Lidya.
"Bu, sebenarnya Lidya mau lama di sini. Tapi ada seseorang yang menunggu Lidya. Lidya tidak ingin orang itu menunggu Lidya lama. Sampai jumpa, Bu. Kita akan bertemu kapan kapan lagi. Lidya akan mampir sering sering ke sini," ucap Lidya seraya bangkit dan berjalan meninggalkan makam menuju mobil Kelvin yang masih setia di tempatnya.
"Sudah selesai?" Tanya Kelvin.
Lidya mengangguk.
"Cepat sekali," ucap Kelvin.
"Saya tidak ingin membuat Anda mati menunggu," ucap Lidya.
"Aku siap mati untuk menunggumu," ucap Kelvin.
Lidya hanya diam tanpa membalas ucapan Kelvin.
Setelah Lidya memasang sabuk pengaman, Kelvin menjalankan mobilnya meninggalkan TPU.
***
Keesokan siang di rumah Kelvin.
Sekarang Lidya sedang berada di dalam ruangan belajar milik Kelvin.
"Lidya, kita mulai belajar sekarang?" Tanya Kelvin.
Lidya mengangguk.
Kelvin mengambil bukunya di dalam rak.
Kelvin mulai mengajari Lidya, bagaimana caranya menjawab soal dengan singkat namun benar.
"Ngerti?" Tanya Kelvin.
Lidya mengangguk.
"Coba kerjakan soal ini dengan jawaban singkat," ucap Kelvin seraya menunjuk tiga soal dari buku.
__ADS_1
Baru saja Lidya ingin menulis jawabannya, tiba tiba saja hujan turun membuat Lidya ingin segera keluar.
"Saya ke bawah sebentar," ucap Lidya.
Tanpa menunggu Kelvin mengizinkannya, Lidya langsung turun ke bawah dan pergi ke taman yang ada di belakang rumah Kelvin.
Seperti biasa Lidya berdiri di tengah taman sambil menatap ke langit.
Setiap turun hujan, Lidya akan selalu teringat kejadian 6 bulan lalu. Dimana saat mereka mengalami kecelakaan, hujan langsung turun. Seakan langit sedang menangis melihat kondisi mereka.
Lidya berdiri di dekat sebuah air pancur yang berukuran besar.
Tidak terasa bulir bulir bening mengalir dari mata melewati pipi Lidya. Ia kembali ingat kejadian kemarin malam, dimana saat dia pulang Ayahnya memarahinya dan menampar sangat keras ke dua pipinya.
*Flashback on
Lidya pulang pukul 22.05 malam, karena tadi dia makan diluar dan sempat mampir ke apotik untuk mengambil vitamin dan juga obat demam untuk jaga jaga jika nanti Lidya terkena demam.
"Lidya," suara keras Ayah Lidya menyambut kedatangan Lidya.
"Apa lagi, Om?" Tanya Lidya yang malas meladeni Ayah Lidya bicara.
"Tampar aja, Yah. Memang anak kurang ajar ini harus di kasih pelajaran," ucap Ibu tiri Lidya yang ada di belakang Ayah Lidya.
"Kenapa Anda menampar saya? Apa tidak cukup Anda menampar saya 6 bulan lalu?" Tanya Lidya yang berusaha bangkit.
"Kau memang pantas mendapatkannya. Kau sudah berani mempermalukan ku di hadapan Nyonya Dirga. Sejak Ibunya datang di hidupku rasanya seperti dia membawa kesialan dalam hidupku. Entah kenapa aku bisa memiliki putri yang kurang ajar sepertimu. Jika aku tahu kelakukan mu akan seperti ini, saat kau lahir aku pasti akan sudah membunuh mu. Bukan hanya saat kau lahir tapi saat di dalam kandungan," ucap Ayah Lidya.
"Kelakuanku seperti ini? Saat saya menjadi seorang gadis ceria, apa pernah sekali saja Anda duduk bersama saya dan mendengarkan saya bercerita? Atau pernahkah Anda mengelus kepala saya sambil memuji saya? Wah putriku sangat pintar dan baik hati, Ayah bangga. Apa pernah Anda berkata seperti itu? TIDAK" Lidya berucap dengan nada yang dipenuhi kebencian.
Lidya, bentak Ayah Lidya.
"Kenapa membentak saya? Apa yang saya katakan salah?" Tanya Lidya.
Plak...
Lagi lagi Ayah Lidya menamparnya. Sekarang dua kali lebih keras. Sampai bibir Lidya berdarah akibat bibirnya yang sedikit koyak.
__ADS_1
Lidya bangkit dan pergi dari sana. Tidak sampai semenit, Lidya sudah kembali dengan pisau di tangannya. Ternyata dia pergi ke dapur tadi untuk mengambil pisau.
"Anda bilang ingin membunuh saya kan. Ambil ini dan bunuh lah saya," ucap Lidya seraya mengambil tangan Ayahnya dan meletakkan pisau di tangannya ke tangan Ayah nya.
"Saya tidak akan menghindar. Saya akan tetap berdiri di sini. Jika Anda tidak yakin dengan ucapan saya, Anda boleh mengikat saya di sini," ucap Lidya yang berdiri tetap di hadapan Ayah Lidya.
Dengan dipenuhi kemarahan, Ayah Lidya sudah bersiap dengan pisaunya untuk membunuh Lidya.
"Jangan, Yah" ucap Ibu tiri Lidya menghentikan kelakuan suaminya itu.
Ibu tiri Lidya membisikkan sesuatu ke telinga Ayah Lidya. Sehingga Lidya tidak dapat mendengar apa yang Ibu tirinya bicarakan.
Setelah selesai membisikkan kata kata yang tidak Lidya tahu apa itu. Mata Ayah Lidya yang tadinya menunjukkan kemarahan yang amat besar, berubah menjadi lebih bersahabat.
Ayah Lidya mencampakkan pisau yang ada di tangannya ke sembarangan arah. Lalu pergi begitu saja diikuti oleh Ibu tiri Lidya.
Lidya yang masih memakai pakaian kampusnya dan tasnya yang sudah tercampak akibat tamparan Ayahnya tadi, segera mengambil kembali tas ranselnya.
Lidya menaruh tasnya di pundaknya. Dan mengambil pisau yang tadi Ayah Lidya lempar.
Setelah itu Lidya pergi ke dapur mengembalikan pisau dan mengambil es untuk mengompres pipinya yang Lidya yakini sekarang sudah membengkak.
Setelah itu Lidya kembali ke kamarnya dan mengompres pipinya itu. Agar besok tidak membengkak dan membuat orang yang melihat pipinya banyak bertanya.
Flashback off*
Lidya memegang kedua pipinya. Suara tamparan Ayah Lidya masih menggema di telinganya. Suara itu sangat menyiksa Lidya.
Semua bentuk hinaan dari Ayahnya kemarin, terngiang ngiang di telinganya.
"Kau memang pantas mendapatkannya. Kau sudah berani mempermalukan ku di hadapan Nyonya Dirga. Sejak Ibunya datang di hidupku rasanya seperti dia membawa kesialan dalam hidupku. Entah kenapa aku bisa memiliki putri yang kurang ajar sepertimu. Jika aku tahu kelakukan mu akan seperti ini, saat kau lahir aku pasti akan sudah membunuh mu. Bukan hanya saat kau lahir tapi saat di dalam kandungan,"
Kalau memang dia tidak menyukai Ibuku. Kenapa dia mau menikah dengan Ibuku? Kenapa dia mau mempunyai ku sebagai anaknya? Jika memang pria itu tidak menginginkanku, kenapa dia mau membesarkan ku? Kenapa tidak membuang ku saja?
Lidya bertanya tanya dalam hati.
Tiba tiba saja kepala Lidya menjadi pening. Rasnya yang dia lihat sekarang seperti berputar putar.
__ADS_1
Lidya berjongkok sambil memegangi kepalanya, menekan kepalanya berusaha menghilangkan sakit yang tiba tiba saja menghampirinya.
"Tidak, Lidya bertahanlah. Jangan sampai pingsan. Jangan membuat orang mengkhawatir kan mu. Bertahanlah," Lidya berucap pada dirinya sendiri.