
Keesokan harinya
Lomba olimpiade sudah dilaksanakan. Lidya dan Kelvin masuk ke dalam ruangan yang di jendela nya tertulis nama dan asal sekolah mereka.
Hari ini Lidya memperlakukan Kelvin seperti biasa. Isi surat dari Neneknya sudah memperbaiki hubungan mereka.
Walaupun untuk saat ini Kelvin tidak memberitahu tentang alasannya tapi Lidya yakin suatu saat nanti alasan itu akan terungkap. Dan yang terpenting saat ini Kelvin menyayanginya dengan tulus.
Lidya memilih kursi paling belakang. Dengan sifatnya Lidya lebih suka duduk dipojokan tanpa ada seorang pun yang akan memperhatikannya.
Di ruangan lain, Kelvin duduk di tengah tengah. Ia tidak ingin duduk di paling depan maupun di paling belakang.
lembar kertas dan jawaban sudah dibagikan dan setelah menerima instruksi, mereka mulai mengerjakan soal soal tersebut dengan teliti.
Suasana di ruangan itu damai, tenang, dan tentram karena penghuni kelas itu sedang fokus dengan lembaran kertas di hadapannya.
__ADS_1
Lidya mengerjakan soal soal tersebut, ada beberapa soal yang kurang ia pahami. Tapi mengingat waktu yang singkat, Lidya tidak dapat membuang buang waktu hanya dengan soal soal yang susah. Ia mengerjakan soal yang ia mengerti terlebih dahulu baru setelahnya ia menjawab soal soal yang sulit itu.
"Waktu selesai," ucap seseorang yang mengawas mereka sedari tadi.
"Letakkan semua alat tulis dan oper lembar jawaban kalian ke depan," ucapnya lagi.
Lidya melakukan instruksinya. Ia mengoper lembar jawabannya ke depan.
Setelah semua lembar jawaban sampai di tangan pengawas itu, sebagian besar dari peserta merasakan kegugupan.
Bagaimana jika jawaban mereka salah? Apakah mereka akan lolos ke tahap selanjutnya atau malah pulang dengan kekalahan? Atau apakah mereka akan lolos sampai ke tahap akhir dan membuat teman, guru, keluarga, dan nama kampus mereka bangga?
Baginya kalah dan menang dalam perlombaan adalah suatu hal yang wajar. Jika dia menang maka dia bersyukur. Sebaliknya jika dia kalah, maka ia akan terima dengan lapang dada.
Tapi dalam lomba kali ini ada yang berbeda. Karena lomba kali ini, Lidya memiliki obsesi untuk menang. Bukan untuk dirinya tapi untuk Neneknya.
__ADS_1
Dia ingin menunjukkan bahwa suatu hari nanti dia akan sukses dengan usahanya sendiri.
Setelah dipersilahkan, Lidya juga teman seruangan nya keluar dari ruangan. Mereka semua berpencar pergi ke suatu tempat sambil menunggu hasil lomba keluar.
Lidya pergi ke suatu tempat yang agak jauh dari gedung. Tempat itu sepi lebih tepatnya tidak ada penghuni dan itu yang Lidya inginkan. Udara di tempat itu sejuk. Di tempat itu juga ada banyak tanaman bunga berbagai jenis.
Lidya mengelilingi tanaman bunga itu yang ternyata membentuk sebuah rangkaian hati. Ada sebuah celah diantara tanaman itu dan Lidya masuk dari celah tersebut. Lidya terus berjalan menelusuri tanaman tanaman itu.
Tap... Lidah berhenti dan menyadari jalan yang diambilnya ternyata jalan buntu.
"Ini... labirin?" gumam Lidya setelah menyadari sesuatu.
Seketika Lidya menjadi semangat, dia suka dengan tantangan seperti ini.
"Tidak kuduga ternyata ini labirin," gumam Lidya senang.
__ADS_1
Sejak dulu ia ingin sekali mencoba labirin tapi sayangnya Ayahnya tidak pernah mengizinkan. Ibunya juga melarangnya, entah apa alasannya.
Lidya berlari ke sana ke sini mencari jalan. Tidak lupa dengan sebuah senyum tipis terlukis di bibirnya.