Dibalik Semua Perubahan

Dibalik Semua Perubahan
Bab 77


__ADS_3

"Selain itu, Ayah mencintai Ibumu ini. Sebenarnya sebelum Ibumu tiada Ayah sudah menikah dengan Ibumu ini," ucap Ayah.


"Ayah? Ibu? Sejak kapan anda mengakui saya sebagai anak anda? Dan sudah berapa kali saya katakan, Ibu saya sudah tiada enam bulan lalu," Lidya sedikit membentak karena kembali mengingat semua kesedihan yang dialaminya semasa dulu.


"Lidya, berbicara sopanlah kepada yang lebih tua," ucap Dae Ryung menasihati.


Kelvin hanya diam karena sebenarnya dia tahu apa saja yang telah Lidya alami dulu.


"Jangan coba menasihatiku Tuan. Saya hanya akan berbicara sopan kepada orang yang juga sopan. Saya mengenal pria ini lebih baik dari anda. Saya tahu bahwa dia mau berkata jujur hanya agar mendapat keuntungan," ucap Lidya.


Tepat sasaran!


Batin Ayah angkat Lidya terkejut.


Ayah angkat Lidya tampak gugup bersama dengan istrinya yang tak dapat menyembunyikan kegugupannya.

__ADS_1


"Nak jangan berkata begitu," ucap Ayah Lidya gugup.


"Lidya kamu tidak boleh seperti ini," ucap Ibu tiri Lidya.


"Kenapa? Saya berkata fakta. Bahkan kalian menjodohkan saya dengan kekuarga Dirga semata mata untuk keuntungan kalian. Betulkan?" Lidya berseru.


Angga melirik Kelvin sebelum menjawab pertanyaan anak tirinya.


"Perjodohan itu terjadi karena permintaan dari pemuda di sampingmu," ucap Ayah Lidya menunjuk Kelvin.


"Aku menyukaimu itu sebabnya aku ingin menikah denganmu," sambung Kelvin menatap Lidya yang juga sedang menatapnya membuat mata mereka saling bertemu.


"Tepat seperti perkiraanku," ucap Lidya.


Ya Lidya sudah memikirkan kemungkinan ini. Namun dia masih merasa kemungkinan itu mustahil. Karena dia bingung bagaimana Kelvin bisa menyukainya. Apa yang membuat Kelvin bisa menyukai dirinya?

__ADS_1


"Tapi permasalahan buka disitu. Permasalahannya ada pada pria itu. Jika dia memang Ayah yang baik. Tidak mungkin dia akan menjodohkan putrinya dengan pria tidak dikenal dengan alasan surat wasiat Ibu putrinya," ucap Lidya menatap tajam kepada Angga.


"Lidya, kesalahannya ada dikamu. Kamulah yang berkata tidak sopan. Sebagai seorang anak kamu tidak menghormati orang tuamu. Memanggil Ayahmu dengan sebutan 'Om'. Apa kamu pikir itu perilaku benar? Kamu tidak jauh beda dengan Ibumu," ucap Angga.


"Angga, jaga kata katamu," Dae Hyeon berkata dengan suara tinggi tampak jelas dia tidak suka perkataan Angga.


"Tuan Han tenanglah," ucap Kelvin.


"Tuan Angga, sudah saya katakan saya tidak akan menghormati orang yang tidak tahu caranya menghormati orang lain. Dahulu anda tidak pernah berkata baik kepada saya. Tidak pernah bangga atas semua prestasi yang telah saya raih. Tidak pernah menghargai Ibuku. Apapun yang saya lakukan selalu salah dimata anda. Mengatakan saya anak pembawa sial, menyesali kenapa saya ada di dunia ini. Berkata kenapa saya tidak mati saja sebelum dilahirkan. Apa hal itu patut disebut Ayah yang baik? Suami yang baik dan teladan? Orang yang harus dihormati? Tidak!" ucap Lidya dengan tegas.


"Baiklah, karena tidak ada yang perlu ditutup tutupi lagi. Saya tidak perlu letih berpura pura menjadi Ayah yang baik lagi. Menyerahlah," Angga mengeluarkan pistol dari sakunya dan mengarahkannya ke kepala Lidya.


"Angga," Ayah kandung Lidya, Han Dae Hyeon berteriak terkejut.


"Tuan," Dae Ryung dan Kelvin sama sama berteriak.

__ADS_1


"Akhirnya anda menunjukkan diri anda sebenarnya, pembunuh!" ucap Lidya dengan penuh amarah.


__ADS_2