
"Kenapa? Aku ini tunangan mu, jadi aku berhak untuk mempedulikan mu dan memberitahu yang benar dan salah bagimu," ucap Kelvin.
Lidya berjalan kembali ke kelas tanpa memperdulikan ucapan Kelvin.
Baginya, keperdulian Kelvin sangat membuatnya bahagia. Tapi mengingat masa lalunya. Dimana setiap orang yang perduli padanya hilang bagaikan di telan bumi.
Sudah cukup penderitaan yang Lidya rasakan. Dia tidak ingin hidup dalam kebohongan. Percuma perduli sesaat, jika nantinya orang itu akan kehilangan keperduliannya kepada kita.
"Lidya tunggu dulu," Kelvin mengejar Lidya dan menahan tangan Lidya.
"Apa lagi?" Tanya Lidya seraya melepaskan genggaman tangan Kelvin.
"Kamu belum sarapan. Sebaiknya kamu sarapan terlebih dahulu," ucap Kelvin.
Lidya melirik pergelangan tangan kirinya. Sudah menunjukkan pukul 09.31. Tinggal setengah jam lagi mereka belajar.
Tanpa memperdulikan keberadaan Kelvin, Lidya berjalan menuju kantin.
Sedangkan Kelvin yang melihat langkah Lidya menuju kantin, akhirnya dapat bernafas lega. Walaupun dia tidak menjawab, tapi Lidya masih mau menuruti perkataannya. Dengan langkah seribu Kelvin berjalan mendekati Lidya yang sudah berada di dekat pintu masuk kantin.
Lidya dan Kelvin duduk di satu meja untuk sarapan. Karena sebetulnya, Kelvin juga belum sarapan sedari tadi.
***
Hari sabtu telah tiba, Kelvin dan Lidya berada di dalam satu ruangan menunggu guru yang akan mengajari mereka.
Tidak berapa lama Prof. Julian datang dengan beberapa buku ditangannya.
"Good morning," sapa Prof. Julian.
"Morning, Prof. Julian" balas Kelvin.
Sedangkan Lidya hanya menganggukkan kepalanya membalas sapaan Prof. Julian.
"Sebelum kita belajar. Hendaklah kita berdoa sesuai kepercayaan masing masing," ucap Prof. Julian.
"Doa dimulai," ucap Prof. Julian memulai doa mereka.
Lidya dan Kelvin berdoa menurut kepercayaan mereka masing masing.
"Doa selesai," ucap Prof. Julian kembali.
__ADS_1
Mereka pun memulai belajar untuk yang pertama kalinya untuk persiapan olimpiade.
Setelah selesai menerangkan materi. Prof. Julian memberikan soal dan izin keluar sebentar.
Kini di dalam ruangan yang cukup luas itu hanya ada Kelvin dan Lidya berdua.
"Lidya," panggil Kelvin.
"Hmm," balas Lidya.
"Apa kamu butuh bantuan ku?" Tanya Kelvin.
Lidya menggeleng singkat.
"Ternyata otakmu encer banget ya. Sampai sampai pelajaran untuk mahasiswa semester lima pun kamu ngerti," puji Kelvin.
Iya, pelajaran yang mereka pelajari sekarang adalah untuk mahasiswa semester lima. Bahkan teman sekelas Kelvin saja kadang kewalahan menjawab soal yang sedang mereka kerjakan ini.
"Teman seruangan ku saja terkadang kewalahan menjadi soal ini bahkan nyaris tidak bisa. Sedangkan kamu, masih semester satu sudah bisa menyelesaikan soal ini," ucap Kelvin kembali memuji kehebatan Lidya.
Bagaimana Lidya tidak pintar coba? Kalau yang dia lakukan hanya bermain ditengah derasnya hujan, mengunjungi makan Ibu dan kekasihnya, dan terakhir kuliah dan belajar.
Kalau tidak ada hujan, maka Lidya akan pergi ke pemakaman atau belajar. Hanya itu saja yang Lidya lakukan. Dan terkadang dia juga memasak untuk dirinya sendiri, hanya untuk sendiri.
Ya, Lidya memang salah karena membenci orang tuanya. Tapi dia sudah berusaha. Lidya sudah berusaha untuk mengubur dendamnya dan mencoba menyayangi Ibu tiri juga Ayahnya. Tapi setiap kali dia berusaha, Lidya selalu mendengar dan melihat Ayahnya menjelek jelek kan Ibunya. Bukan hanya Ayahnya, tapi Ibu tirinya juga.
Lidya pernah mendengar Ayah dan Ibu tirinya berbicara tentang awal pertemuan mereka yang terjadi bertahun tahun lalu. Dan mereka sudah mulai menjalin hubungan saat Ibunya masih hidup. Dalam artian lain Ayah Lidya berselingkuh di belakang Ibunya. Bagaimana Lidya tidak membenci mereka?
Sejak saat itu Lidya menyalahkan Ayah dan Ibu tirinya atas kematian Ibu kandungnya.
"Lidya," Kelvin melambaikan lambaikan tangannya di depan wajah Lidya.
Lidya yang melamun langsung tersadar akibat panggilan dan perbuatan Kelvin.
"Kenapa jadi melamun?" Tanya Kelvin.
Lidya menggeleng.
"Baiklah, kalau kamu tidak ingin mengatakan penyebab melamun mu itu,"ucap Kelvin.
Lidya melanjutkan mengerjakan tugasnya yang tertunda akibat melamun tadi.
__ADS_1
"Selesaikan tugas Anda," ucap Lidya yang lebih kepada memberikan perintah.
"Baiklah, Nona. Perintah mu akan segera ku lakukan," ucap Kelvin yang kembali duduk dan mengerjakan tugas yang diberikan Prof. Julian.
Tepat saat tugas Lidya dan Kelvin selesai, Prof. Julian datang.
"Apa sudah selesai?" Tanya Prof. Julian.
"Sudah, Profesor" jawab Kelvin.
Sedangkan Lydia hanya mengangguk.
Prof. Julian mendekat ke meja Kelvin. Ia mengoreksi semua jawab Kelvin yang terdapat satu jawaban salah.
"Sudah bagus, Kelvin. Tapi harus tetap ditingkat kan lagi," ucap Prof. Julian.
Lalu Prof. Julian berjalan mendekat ke meja Lidya.
Ia memeriksa jawaban Lydia.
"Jawaban yang bagus Lidya. Semua jawabanmu benar. Tapi saya sarankan agar kamu tidak menggunakan cara yang panjang. Karena di saat olimpiade nanti, kalian akan diberikan waktu. Dan waktu itu bisa habis hanya dengan menuliskan jawabanmu yang panjang ini," ucap Prof. Julian.
"Kelvin, besok kalian akan belajar berdua. Jadi saya harap kamu mau membantu Lydia bagaimana memberikan jawaban singkat namun tepat," ucap Prof. Julian.
"Baik, Profesor. Saya akan membantu Lidya sebisa saya," ucap Kelvin.
"Baiklah Kelvin. Dan Lydia saya harap kamu mau membantu Kelvin untuk menjawab pertanyaan yang tidak dia mengerti. Kalian adalah satu tim, jadi saya harap kalian mau saling membantu. Dengan kalian saling membantu saya akan sangat yakin bahwa nanti, kalian akan bisa memenangkan olimpiade itu dan membanggakan nama sekolah kita," ucap Prof. Julian dengan sangat yakin.
Lidya mengangguk menyatakan bahwa dia siap untuk membantu mengajari Kelvin. Dan sebaliknya, Lidya siap untuk menerima pembelajaran dari Kelvin.
Sedangkan Kelvin, ia sangat menantikan saat Lidya mengajarinya. Kelvin tidak malu karena jawabannya salah satu sedangkan Lidya benar semua. Karena baginya setiap manusia tidak ada yang sempurna dan pasti ada kekurangan. Itu sebabnya manusia membutuhkan seorang pasangan agar mereka bisa menjadi sempurna.
"Pelajaran kita hari ini, saya akhiri dengan ini. Semoga kalian berdua dapat beradaptasi dengan materi materi yang saya berisikan. Jangan lupa untuk terus belajar. Karena kepintaran berasal dari ilmu bukan kemalasan," ucap Prof. Julian memberikan nasihat kepada dua anak manusia di depannya ini.
Prof. Julian keluar terlebih dahulu dari ruangan. Sedangkan Lidya masih membereskan alat tulisnya.
"Lidya besok kita belajar di rumahku ya," ucap Kelvin.
"Terserah," balas Lidya yang tidak antusias.
"Apa kamu tahu dimana rumahku?" Tanya Kelvin.
__ADS_1
Lidya menggeleng.
"Kalau kamu tidak tahu, bagaimana kamu bisa ke rumahku? Bisa bisa nanti kamu malah nyasar," ucap Kelvin.