
"Tuan Dae Ryung, sebaiknya anda pergi sekarang. Saya ingin istirahat," ucap Lidya.
"Jawab dulu pertanyaan ku," desak Dae Ryung.
"Yakin ingin mendengar jawabannya?" Tanya Lidya.
Dae Ryung mengangguk.
"Pertama karena tujuan acara ini dilakukan tidak penting. Kedua karena peserta yang hadir sangatlah banyak. Ketiga karena semua orang di sana saya tidak menyukainya. Keempat karena di sana banyak yang tidak menyukai saya. Kelima karena tidak ada seseorang yang saya kenal. Keenam karena acaranya terjadi di malam hari. Ketujuh dan yang paling terpenting karena saya tidak menginginkan hadir di acara pesta itu," jawab Lidya.
"Sebenarnya masih ada beberapa alasan lagi, apa anda ingin mendengarnya?" Tanya Lidya.
Dae Ryung menggeleng.
Setelah Dae Ryung melepaskan tangannya dari pintu. Lidya dengan gesit langsung menutup pintu itu.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan dari pintu Lidya.
"Siapa?" Tanya Lidya.
Tak ada jawaban. Malah ketukannya semakin kuat.
Dengan langkah malas, Lidya membuka pintu dan melihat Dae Ryung.
__ADS_1
"Ada apa lagi?" Tanya Lidya kesal.
"Lidya perkenalkan sebelumnya aku adalah panitia dan orang yang mensponsori lomba ini. Jika kamu tidak mengikuti acara ini, maka jangan harap kamu akan bisa mengikuti lomba besok," ancam Dae Ryung.
"Lalu?" Tanya Lidya dengan malas.
"Bersiaplah. Jika kamu tidak mengikuti lomba ini, bagaimana yah dengan perasaan Nenekmu yang sudah meninggal?" ucap Dae Ryung.
Beberapa menit yang lalu, Dae Ryung terpikir sebuah ide. Ia mencari nomor telepon orang yang sekampus dengan Lidya. Ia yakin bahwa orang itu pastinya berteman dengan Lidya karena mereka satu kampus.
Dae Ryung mencari beberapa info tentang Lidya dari Kelvin. Ia juga tahu perihal Nenek Lidya dari Kelvin.
"Nenek?" Seketika Lidya teringat akan Neneknya.
Teringat bahwa tujuan untuk ikut dan memenangkan lomba ini demi Neneknya. Neneknya yang sudah meninggal.
"Itu tidak penting. Bagaimana apakah kamu masih tidak ingin mengikuti acara barbeque?" Tanya Dae Ryung dengan senyum penuh arti.
"Baiklah, tapi ini bukan karena ancaman Anda. Ini hanya karena Nenek saya," ucap Lidya dengan penuh penekanan.
"Terserah, yang penting kamu menghadiri acaranya," ucap Dae Ryung.
Lidya segera menutup pintu.
__ADS_1
Ia mengganti pakaiannya menjadi sebuah celana panjang berwarna putih dengan kaos berwarna abu abu polos. Lidya juga memakai premium jacket jeans import JC865 Blue. Rambutnya ia sengaja kan tergerai. Ia mengambil kaca matanya dan meletakkannya di atas kepala.
Setelah itu, Lidya keluar dan mendapati Dae Ryung masih berada di depan pintu.
"Ada apa?" Tanya Lidya saat melihat Dae Ryung yang tampak terpana dengan penampilannya saat ini.
"Lidya ini benar dirimu?" Tanya Dae Ryung tak percaya.
Lidya tidak menggubris Dae Ryung. Ia malah berjalan mendahului Dae Ryung.
Dae Ryung yang tersadar dari terpananya, segera berjalan menyusul Lidya dan mensejajarkan langkahnya.
Tiba di rooftop, ternyata acara barbeque sudah di mulai. Malahan sudah setengah jam berlangsung. Bahkan di sana bukan hanya ada mahasiswi, tetapi juga ada mahasiswa.
Kegiatan mereka saat ini adalah memanggang, bernyanyi, bermain. Terlihat sangat menyenangkan.
Tapi bagi Lidya ini tidak menyenangkan dia malah terlihat bosan, sangat bosan.
Dae Ryung terlihat sedang tersenyum kepada semua orang. Sedangkan Lidya yang ada di sampingnya malah memasang tampang datar.
***
__ADS_1
Rekomendasi novel author yang lain. Bagi siapapun yang berminat baca dan juga dukung author ya, dengan like, comen, and vote.