
Kini kara dan desi sudah sampai di rumah hani dan mereka berdua langsung berjalan menuju kamarnya “ceklek..” suara pintu terbuka sehingga kepala hani langsung terangkat lalu bibirnya tersenyum manis melihat dua sahabatnya itu, desi lebih dulu menghampiri hani yang duduk di tempat tidur sedang kara menutup pintu terlebih dahulu.
“kau terlihat pucat banget han?” kata desi yang tampak kuatir melihat hani tampak lesu “aku gak apa apa des” desi dan kara langsung menggelengkan kepalanya lalu matanya kembali menatap wajah hani.
“kau udah makan belum?”
“aku gak napsu kar?”
“ais walau pun kau gak napsu harusnya kau tetap harus makan hani”
“kara benar han, iya sudah aku ambilkan makanan di dapur ya?” hani pun menganggukan kepalanya sehingga desi langsung keluar dari kamarnya ”mau cerita han?” kara bertanya sehingga mata hani menatap wajahnya yang imut itu.
“nanti saja lah kalo desi sudah kembali” kara segera menganggukan kepalanya lalu dirinya pun membaringkan tubuhnya ke tempat tidur sehingga hani ikut terbaring “aku lelah kar? Rasanya aku hampir gila!” kara tidak merespon perkataan hani namun tangannya langsung memeluk tubuh sahabatnya itu “sudah jangan kau pikirkan kami di sini” kata kara lirih sambil tangannya mengelus rambut hani yang berwarna coklat itu.
“ceklek..” tidak lama kemudian desi pun membuka pintu lalu masuk kedalam kamar “dia tidur?” tanya desi lirih yang mendapat anggukan kepala kara “sekarang bagaimana?” kini giliran kara yang bertanya “kau juga tidur lah, aku mau nemui ayahnya” kara langsung tersentak kaget.
“ya jangan.. nanti kau bunuh dia?” desi langsung tertetawa kecil lalu matanya yang tajam menatap wajah kara dengan hangat “sesuai keinginan mu kar, aku gak akan membunuhnya” selesai mengatakan itu desi kembali keluar dari kamar sedang kara yang tampak kuatir, kebingungan karena takut jika tubuhnya banyak gerak hani pun bisa terbangun.
__ADS_1
“dimana paman handa?” Tanya desi pada pelayan rumah ini “tuan sedang ada di ruang kerjanya nona desi” mendengar itu desi pun bergegas ke ruang kerja tuan rumah ini “tok tok tok..” desi mengetuk pintu “masuk” respon dari dalam sehingga desi membuka pintu itu “deg..” tiba tiba aora di ruangan ini berubah menjadi sangat mencekam saat sosok gadis jangkung itu masuk yang membuat tuan handa sedikit bergidik “lama tidak bertemu paman?” sapa desi lirih lalu dirinya duduk di sofa yang berhadapan dengan tuan handa.
“iya sudah lama sekali ya?” kata tuan handa ramah tetapi hanya di balasan senyuman tipis oleh desi “kau mau minum?” desi langsung menggelengkan kepalanya ”aku ingin bertanya pada paman!” tuan handa langsung menelan ludahnya karena merasa dalam bahaya terlebih tatapan mata desi yang tajam itu seolah ingin membunuhnya.
“hani gak suka sama cowok itu tapi kenapa dia masih aja di jodohkan?”
“ah itu kare..”
“karena uang? Aku bisa berikan sekarang juga tap..”
“bukan desi..” seketika keheningan pun melanda ruangan itu karena kedua insan itu tengah saling bertatapan “aku rasa kau telalu ikut campur urusan keluarga kami?” mata desi langsung membelalak saat mendengar perkataan tuan handa yang baginya sangat menjengkelkan itu “sebenarnya kau itu sayang sama anak mu gak sih? Kalo gak bilang padaku aku akan membawanya, dasar orang tua gak berguna!” selesai mengatakan itu desi langsung berdiri lalu melangkah kan kakinya kearah pintu.
“ceklek..” pintu kembali terbuka dan desi sedikit tersentak karena kara masih sadar lalu kakinya pun melangkah menuju tempat tidur itu “bukk..” kini desi sudah membaringkan tubuhnya di samping kara “kalau aku gak teringat padamu aku sudah membunuh pria tua itu” kata desi lirih lalu tangannya menyelinap ke perut kara dan kini dirinya memeluk punggung sahabatnya itu “aku sebenarnya juga ingin kau membunuhnya tapi dia ayah hani dan kita tahu gimana sayangnya hani pada ayahnya itu?” sahut kara dengan suara sama lirihnya lalu matanya menatap wajah hani yang terlelap di hadapannya.
“terus apa yang harus kita lalukan?”
“tidur..”
__ADS_1
“is kau ngeselin banget sih kar!” kara tidak menanggapi sehingga desi kesal lalu tangannya mencubit perut sahabatnya itu “Ak..” kara mendesis karena kesakitan “apa kau tahu hal yang paling aku suka darimu kar? Kau akan menahan rasa sakit itu sehingga aku semakin senang melakukannya!” kara ingin sekali menjitak kepada desi karena sudah membuatnya kesal namun tangan kirinya tertindih kepala hani sedang desi hanya tersenyum bahagia karena dirinya tahu sahabatnya itu tidak akan protes seperti biasanya.
“iya iya maafkan aku.. cup” selesai mengatakan itu tangan desi memegang pipi kara lalu bibirnya mencium pipi kanan sahabatnya itu dengan lembut “ais sudah lagi desi..” teriak kara sudah tidak tahan lagi dengan tingkah ambigu desi sehingga tanpa dirinya sadari telah membangunkan hani.
“huaah..” hani kini sudah duduk lalu meregangkan tubuhnya “ya desi aku bil.. Aakk..” suara kara terpekik sehingga hani tersentak kaget saat melihat desi menggigit leher kara hingga licet “ya desi apa yang kau lakukan?” Tanya hani panic sehingga desi tersadar dan langsung menyingkir dari atas tubuh kara.
“huh huh huh..” tubuh desi gemetar dan napasnya memburu namun tatapan matanya sangat tajam sehingga kara langsung memeluk tubuhnya “tenang lah aku disini” kata kara lirih yang membuat desi sedikit tenang sedang hani melongo tidak tahu apa yang terjadi pada kedua sahabatnya itu.
Sudah 10 menit berlalu akhirnya kara berhenti memeluk tubuh desi sedang hani masih saja terdiam dengan seribu pertanyaan di kepalanya “kalian sebenarnya kenapa?” Tanya hani hati hati yang langsung mendapat senyuman kara sedang desi masih saja ngelendot tubuhnya “dia lagi kumat han, hmm kau makan lah dulu ya tadi desi sudah bawakan makanan tuh?’ kata kara sambil nunjuk ke meja dan benar saja ada makanan disana “ah baik lah..” hani mengalah dan lebih memilih melahap makanan itu sedang kara masih saja terdiam saat desi memeluk tubuhnya.
“maafkan aku..” kata desi lirih lalu matanya melirik keleher kara yang memar kebiruan kulitnya pun lecet “sudah jangan di lihat gak apa apa kok” tangan kara langsung menutup mata desi “aku akan cari target malam ini kau tidur lah di sini?” selesai mengatakan itu tangan desi menyingkirkan tangan kara yang menutupi matanya sehingga matanya pun bertabrakan dengan mata sahabatnya itu.
“baik lah tapi aku gak bisa nginap di sini?”
“kenapa?”
“karena aku gak ingin nambah beban hani” mendengar namanya kepala hani langsung menoleh kearah sahabatnya itu “santai saja sih kar anggap saja rumah sendiri ayah ku gak akan berani mengusirmu?” akhirnya kepala kara mengangguk sehingga desi tersenyum puas.
__ADS_1
“nah gitu dong.. cup..” desi kembali mencium pipi kara “aku pergi ya? urus hani, aku akan mengurus diriku dulu” selesai membisikan kalimat itu ketelinga kara, desi pun langsung berdiri “han aku pergi dulu ya?” hani langsung menganggukan kepalanya sehingga desi tersenyum lalu dirinya pun keluar dari kamar itu dengan keadaan sedih karena telah melukai sahabat terbaiknya di depan mata sahabatnya yang lain.