
Kara tersentak kaget saat masuk ke dalam kamar mendapati desi duduk termenung sambil menatap kosong kearah hani yang sedang terlelap “sudah jangan sedih?” kata kara lirih yang membuat tangan desi memeluk tubuhnya.
“aku gak akan merasa terluka jika baik baik saja?” sahut desi dengan suara yang serak sehingga tangan kara mengusap lembut rambut sahabatnya yang panjang itu “kau mandi lah aku akan masakan telur ceplok untuk mu?” pinta kara yang membuat kepala desi mendongkak keatas sehingga kepala kara menunduk kebawah karena posisi kara sedang berdiri dan desi terduduk.
“aku mau 3 tapi?” kara menganggukan kepalanya sehingga desi melepas tubuhnya “aku kedapur kau jangan terlalu berisik kasihan hani?” desi langsung mengacungkan jempolnya sehingga kara langsung pergi dapur “sreng sreng” kara sudah kelima kalinya menggoreng telur namun gosong terus sehingga desi melongo saat menatap kotak sampah penuh dengan telur gosong.
“ya kar kau udah berapa kali gorengnya?” kata desi yang membuat kara tersentak kaget “paling 1 karpet” mata desi langsung membelalak lalu tangannya menepuk keningnya “ais hani pasti marah besar saat tahu kau gagal masak mulu?” kara tersenyum canggung “kan dia gak tahu” sahut kara yang membuat desi memutar bola matanya.
“iya sudah masak mie aja?”
“ah begitu baik lah..” kara langsung mengambil dua bungkus ramen dan memasaknya “bukk” kara terkejut saat desi memeluknya dari belakang “apa lagi?” Tanya kara sambil tangannya sibuk mengaduk mie dengan bumbunya “aku pingin peluk cium dan..” desi berhenti berkata saat matanya berbinar melihat mie yang tampak lezat itu.
“kau cari aja cowok sih des jangan lakukan itu padaku?” keluh kara yang membuat perhatian desi teralihkan kepadanya “YA..” tentu kara langsung tersentak dan hampir tumpah toplen berisi mienya karena suara teriakan desi “kau ini memang mau di tampol ya..” kata kara kesal lalu membalikan tubuhnya dan tangannya hendak memukul kepala desi dengan spatula.
“bukk” namun tangan desi langsung menahannya dan mendorong tubuh kara hingga membentur rak kompor “kau ini kenapa lah?” Tanya kara kesal yang membuat desi tertawa kecil lalu kembali memeluk tubuhnya “aku gak butuh cowok butuhnya kau kara lyn” kata desi lirih lalu tangannya mematikan kompor listrik lalu melepas tubuh kara karena mie nya sudah matang.
Sehingga kara langsung meletakan toplennya itu di meja dan desi langsung mengambil sumpit dan mangkuk “pake nasi gak?” Tanya kara karena merasa kurang banyak makanannya “boleh, emang kau masak?” kara menganggukan kepalanya dan segera mengambil nasi di magicom lalu mereka berdua makan bersama “kar ini enak banget sumpah” kata desi merasakan nikmatnya makan mie di campur nasi “iya emang, sayang hani gak bisa gabung?” sahut kara lirih sehingga desi menatap wajahnya yang tampak murung itu.
“hmm aku tadi hampir membunuh nya?”
“jangan lakukan itu nanti hani tambah banyak bebannya”
__ADS_1
“karena itu aku gak melakukannya!” selesai mengatakan itu desi langsung melirik kara yang masih asik melahap nasinya “kar..” tentu kara langsung menatapnya namun dengan tatapan heran “kenapa lagi masih kurang?” Tanya kara yang membuat kepala desi menggeleng.
“apa kalo kau sudah menikah akan tinggal bersama suami mu? Hok hoook” pertanyaan desi berhasil membuat kara tersedak sehingga desi segera memberinya gelas berisi air “glug glug glug” kara langsung meminum semua air dalam gelasnya lalu matanya menatap tajam mata desi “ya pasti lah, memang kau gak mau seperti itu?” jawab kara yang membuat desi tersenyum ketir sehingga kara tersentak karena telah salah bicara.
“berarti kau akan meninggalkan aku di rumah ini sendirian?”
“bukan begitu maksud ku, memang kau gak mau nikah?”
“aku gak punya cinta untuk pria kar!”
“kau pasti akan mencintai seorang pria di dunia ini karena jodoh pasti bertemu di saat yang tepat?”
“kau bilang lagi aku minggat dari rumah ini seperti hani, mau?” desi langsung menggelengkan kepalanya lalu tersenyum canggung kepada kara yang tampak kesal itu “iya sudah lanjut makan” sahut desi lirih “gak, aku sudah gak napsu” kata kara lalu membereskan perabotan makannya sehingga desi terdiam “apa kau marah?” Tanya desi hati hati yang membuat kara kembali menatapnya “menurut mu?” kepala desi langsung manggut manggut lalu kembali memakan ramen di mangkuknya sehingga kara membuang napas dengan berat.
“maafkan aku ya?” tiba tiba kalimat itu keluar dari mulut desi sehingga kara tersentak kaget dan langsung menghampiri sahabatnya yang sedang tergulai lesu di tempat duduknya “sebenarnya ada apa coba katakan padaku?” pinta kara sambil menatap wajah desi yang tampak teduh itu “aku takut kau pergi dan aku kembali kesepian?” kata desi lirih sehingga kara memeluk tubuhnya “kenapa kau memikirkan hal seperti itu, aku akan di sini dan akan selalu seperti itu desi?” sahut kara yang membuat desi membalas pelukannya.
“aku hanya takut kau akan lebih memilih cinta yang lain di banding cinta milik ku kar?” itulah kalimat yang di ucapkan mulut desi sungguh dirinya benar benar akan hancur jika mimpi buruknya menjadi nyata karena di dunia ini desi hanya punya kara dan desi benar benar mencintai sahabatnya itu melebihi cintanya kepada kedua orang tuanya yang tidak bertanggung jawab itu karena sudah mencampakkannya selama ini.
“setelah apa yang terjadi pada hani aku takut hal yang lebih rumit terjadi pada kita dan aku belum siap kehilangan mu kar karena itu aku kuatir?” mata kara membelalak dan jantungnya berdebar kencang saat mendengar pertakaan desi barusan “tapi aku juga tidak punya siapa pun des jadi mana mungkin aku pergi atau melupakan mu” itulah kalimat yang terucap dalam hati kecil kara yang rapuh sungguh cintanya juga sama besar dan hatinya tidak akan pernah siap jika desi meninggalkan nya.
“sudah tenang lah kita akan baik baik saja jadi jangan sedih lagi ya?” kata kara lalu bibirnya mencium pipi desi dengan lembut sehingga desi tersenyum lalu membalasnya berkali kali lipat membuat kara kualahan sampai tubuhnya hampir terjatuh di lantai namun di tahan kedua tangan desi “huh huh huh” desi tersenyum manis saat melihat wajah kara bersemu merah dan napasnya berat.
__ADS_1
“apa aku boleh coba yang lain?”
“gak, dasar otak mesum”
“ahahaha” desi tertawa lepas sungguh ini kesekian kalinya desi mendengar umpatan dari kara namun membuatnya bahagia “iya sudah ayo kita tidur?” ajak desi yang mendapatkan anggukan kepala kara dan mereka pun kembali kekamar dan langsung membaringkan tubuhnya di samping hani.
Di kediaman keluarga indra tampak ramai karena joxi di temukan tidak sadarkan diri di kamarnya sehingga ayah dan kakaknya langsung membawa joxi kerumah sakit terdekat.
“siapa sebenarnya yang berani melakukan ini pada anakku?” teriak tuan indra murka karena anak kesayangannya itu hampir kehilangan nyawa akibat pendarahan di otaknya “tuan maafkan kami tapi kami mendengar tuan muda bertengkar dengan nona desi dan saat kami mengecek kondisi tuan muda dirinya tidak sadarkan diri?” kata pelayan yang ikut kerumah sakit “ais berani sekali gadis itu, dan ini kemana hani?” Tanya tuan indra kembali yang membuat tuan handa tersentak.
“maaf tuan tapi nona hani ikut nona desi pergi entah kemana?” jawab pelayan lagi yang membuat tuan indra marah besar lalu menatap tajam mata tuan handa “aku butuh penjelasan dari anak mu itu kalo dia tidak datang malam ini juga aku anggap ini adalah akhir dari persahabatan kita han?” ancam tuan indra yang membuat tuan handa terdiam seribu bahasa “handa kau dengan tidak?” teriak tuan indra yang mendapat tatapan tajam mata handa.
“kau sudah membuat kesalahan besar indra baik lah kalau itu mau mu” selesai mengatakan itu tuan handa langsung melangkah kan kakinya menjauhi mereka semua yang tampak menyudutkannya “ayah aku rasa kau berlebihan, belum tentu ini salah hani kan?” kini giliran joko yang berbicara “ayah tidak perduli kalau terjadi sesuatu pada adikmu ayah gak akan memaafkan siapa pun?” tuan indra memang memiliki sifat yang semaunya sendiri sehingga membuat joko tidak bisa menenangkannya.
“ceklek” tiba tiba dokter keluar dari ruangan yang membuat tuan indra dan yang lainnya menghampirinya “bagaimana keadaan anak saya dok?” Tanya tuan indra “anda tenang tuan, karena anak anda hanya luka di bagian luar saja mungkin nanti dia akan segera sadar hanya saja memang luka lebamnya membuat saluran darah tidak lancar sehingga membuatnya merasakan nyeri dan linu yang luar biasa sehingga dia pingsan” tuan indra dan yang lainnya langsung merasa lega saat mendengar penjelasan dokter.
“apa saya boleh melihatnya?”
“tentu anda boleh melihatnya, kalau begitu saya permisi dulu?” selesai mengatakan itu dokter pun membiarkan tuan indra dan yang lainnya masuk kedalam rumah sakit “lihat lah adikmu, waktu itu juga dia hampir membunuhnya segera laporkan dia kepolisi ayah gak ingin adikmu terluka lagi?” perintah ayahnya yang di iyakan oleh joko lalu matanya kembali menatap wajah adiknya yang baba belur itu.
“sebenarnya apa yang kau lakukan jox kenapa kau sampai di hajarnya?” Tanya hati joko dirinya tahu betul sifat desi yang sebenarnya karena gadis bermata tajam itu tidak akan membunuh atau melukai orang lain jika tidak melakukan kesalahan entah itu kepadanya atau kepada orang orang yang di cintainya.
__ADS_1