
“Ssrrr Ssrr…” hani merasakan tubuhnya terasa relax saat air dari shower ini menyiramnya dengan lembut “sampai kapan aku akan seperti ini terus?” tiba tiba kalimat itu terlintas di pikirannya membuat hani membuka matanya perlahan lalu menatap pantulan wajahnya itu di cermin “di saat hari itu datang apa aku sudah siap?” hani bimbang sungguh perasaan yang berkecamuk di dalam hati kecilnya membuatnya begitu tersiksa terlebih pikirannya yang menumpuk membuat kepalanya sering berdenyut.
“apa pantas aku melakukan itu padanya? Dia sama sekali tidak memiliki kesalahan apa pun kepadaku!” hani hanya membenci dirinya sendiri itu lah sejatinya perasaan yang ada di hatinya karena hani tidak bisa memaafkan kesalahan joko yang membuat kekasihnya itu meninggalkannya untuk selamanya dan rasa bersalahnya kepada joxi yang menjadi suaminya kini telah merusak semuanya dan masalah ini semakin rumit karena hani tidak bisa jujur pada siapa pun tentang perasaannya.
“pyarrr.. huh huh huh!” tangan hani meninju cermin itu hingga hancur “kenapa harus aku!” kata hani lirih yang membuat air matanya mengalir begitu saja karena hatinya yang sedang meradang tidak bisa menahan rasa sakit akibat semua masalah yang menimpanya “hani buka pintunya, kau kenapa?” teriak desi dan kara karena mereka berdua panic mendengar suara yang nyaring itu.
“dobrak saja des?” desi langsung melangkah mundur dan kara menyingkir dari pintu itu “hiaa..” Desi sudah menyiapkan tubuhnya itu untuk mendobrak pintu “ceklekk..” tiba tiba hani membuka pintunya membuat desi yang sudah keblabasan langsung menabrak tubuh sahabatnya “bruak..” tentu hani langsung tersentak kaget saat punggungnya membentur lantai yang keras dan tertimpa tubuh desi yang kuat itu.
“Aahh..” hani mendesis kesakitan yang membuat desi segera menyingkir dari atas tubuhnya “han maaf kan aku habis aku panic tadi?” kata desi sambil membopong tubuh hani lalu segera di baringkan ke tempat tidur sedang kara langsung mengambil poncelnya “jangan telpon ambulan kar, aku baik baik saja kok..” kata hani yang membuat kara menghampirinya “kalo gitu biar aku obati luka mu?” sahut kara lalu mengambil kotak p3k yang di ambil desi di laci lemari.
“maafkan aku ya han?” kata desi sungguh dirinya menyesal dan hani tahu itu sehingga hani memberikan senyuman tulus kepadanya “sudah lah jangan sedih gitu aku gak apa apa kok apa lagi yang ngobati si kara?” kata hani dengan nada ceria yang membuat kedua sahabatnya ikut tersenyum.
__ADS_1
“lain kali jangan aneh aneh lagi, kau tahu kan betapa berharganya kau bagi kami?” pinta kara selesai mengobati luka tangan hani yang tersayat percikan cermin yang tajam “iya iya kar aku janji, tolong jangan nangis?” kata hani lalu dirinya duduk dan tangan kirinya mengusap air mata kara yang sudah membanjiri pipinya itu.
“hiks hiks..” tiba tiba kara langsung memeluk tubuh hani sehingga hani tersentak saat merasakan tubuh sahabatnya itu gemetar hebat “pokoknya apa pun yang terjadi jangan lupakan kami han karena kita adalah sahabat jika kau terluka kami juga terluka!” suara kara parau sungguh gadis bermata besar itu sangat peka bahkan jika pun hani tidak menceritakan perasaannya tetap kara bisa merasakannya hanya dengan menatap mata hani yang tampak sayu itu.
“kara benar han, kalo suami brengsek mu itu membuat mu tertekan bilang saja kepadaku biar aku sentil ginjalnya itu sampai koma” desi gregetan sungguh dirinya juga tidak suka melihat hani menderita tiba tiba bibir hani langsung tersenyum tulus “tes tes tes..” dan tanpa di sedari oleh dirinya hani kembali meneteskan air mata karena merasa sedih sekaligus bahagia melihat kedua sahabatnya itu begitu menyayanginya.
“aku akan melakukan yang terbaik tolong maafkan aku!” suara hani parau dan itu membuat kara berhenti memeluk tubuhnya sedang desi salang memegang pipi hani yang basah itu “hani tolong jangan menangis, aku tahu walaupun kau berusaha mencintainya kau tetap mengharapkan atez lah yang menjadi dirinya.. aku tahu kau tetap bertahan tapi hati mu tidak bisa.. ak aku tahu itu jadi aku mohon jangan memaksakan diri lagi?”
“Aaaa…” pada akhirnya hani menjerit kesakitan sehingga desi semakin memeluknya erat “han maafkan aku.. bukk!” mata hani membelalak saat mendapat pukulan tangan desi di punggungnya sehingga hani mulai kehilangan kesadaran di pelukan sahabatnya itu “dia pasti sangat menderita..” kata kara saat melihat tubuh hani sudah di baringkan di tempat tidur oleh desi “dia berhak bahagia? Menurut mu bagaimana?” Tanya desi saat matanya menatap wajah kara yang masih basah itu.
“aku bisa terima apa yang jadi keputusan mu kali ini? Tapi masalahnya apakah dengan membunuh semua anggota keluarga indra akan membuat hani bahagia? Aku takut itu hanya membuatnya semakin menderita des?”
__ADS_1
desi mengerti maksud dari perkataan kara sehingga kepalanya langsung mengangguk lalu tangannya menarik lengan sahabatnya itu sehingga kini kara sudah di peluknya “kau cukup peka dan memikirkan jangka panjang terimakasih kar kau memang terbaik.. cup!” itu lah kalimat yang di ucapkan hati desi menyanjung sahabatnya lalu bibirnya mencium ubun ubun kara dengan lembut.
“sudah ayo kita tidur?” ajak kara yang membuat desi melepas tubuhnya lalu membaringkan tubuhnya di samping hani sehingga kara tersenyum dan ikut terbaring di samping desi “kita akan bahagia kan des setelah ini?” Tanya kara tiba tiba namun segera mendapat anggukan kepala desi “iya pasti, karena kita punya allah dan semua urusan akan selesai..” jawab desi seadaanya sungguh dirinya jika teringat kepada tuhannya seketika menjadi tenang.
“kau benar, nanti kalo kita udah gak dapet lagi solat berjamaah ya hani jadi imam nya?”
“eh gak aku aja?”
“gak kau kan masih suka bunuh orang?”
“WHAT…” tiba tiba tangan kara langsung membungkam mulut desi “jangan kuat kuat nanti hani bangun, lagi pula aku Cuma bercanda” kata kara lirih lalu tangannya menyingkir dari mulut sahabatnya itu “kalo pun beneran aku gak marah kok Cuma kesel aja hehehe” selesai mengatakan itu desi langsung memeluk tubuh kara dan kedua gadis itu mulai memasuki dunia mimpi yang terkadang tidak jauh berbeda dengan kenyataan hidup mereka yang begitu rumit.
__ADS_1