
“cekit” mobil hani dan mobil joxi sudah berhenti di bagasi rumahnya dan mereka pun langsung keluar di mobil “apa kau baik baik saja selama aku pergi?” Tanya hani saat suaminya menghampirinya.
“aku baik, Cuma aku hanya kangen kau saja” selesai mengatakan itu joxi langsung memeluk tubuh istrinya itu “iya sudah ayo kita masuk” ajak hani saat suaminya selesai memeluk tubuhnya “akhirnya kalian pulang?” kata tuan indra melihat kedua anaknya tersenyum dan menghampirinya “lah ayah handa kemana?” Tanya joxi “ayah di sini loh..” kata tuan handa yang membuat kedua anaknya menoleh kearahnya.
“lah kenapa bawa kue segala?” Tanya hani keheranan saat ayahnya itu membawa kue coklat kesukaannya “sayang duduk dulu, nanti ayah jelaskan?” pinta tuan handa yang membuat hani dan joxi duduk di ikuti oleh kedua ayahnya “jadi kue ini adalah pelambang kedamaian untuk kalian berdua?” hani langsung mengkerutkan keningnya pertanda dirinya tidak mengerti maksud dari perkataan ayah kandungnya itu.
“hani apa kau tahu joxi yang membuat kue ini?” Tanya tuan indra yang membuat hani tersentak lalu matanya menatap wajah suaminya itu yang bersemu merah “benar kah?” joxi menganggukan kepalanya untuk merespon perkataan hani.
“ah begitu baik lah apa aku boleh cicipi?” Tanya hani yang langsung mendapat anggukan kepala suami dan kedua ayahnya “terimakasih” selesai mengatakan itu hani langsung memotong kuenya dengan pisau dan langsung melahapnya.
“enak kok.. huaciii” joxi dan kedua ayahnya langsung tertawa saat melihat hani bersin bersin namun tetap melahap kuenya “dari pada kalian Cuma mantengin aku lebih baik ikut makan dari pada ini kue habis sama aku sendiri?” kata hani memperingatkan “ah iya iya ayo kita makan” ajak joxi sehingga kedua ayahnya ikut makan kue bersama.
Selesai makan kue dan mengobrol hani dan joxi kembali ke kamarnya “sebenarnya apa yang kau ingin kan?” Tanya hani to the point sehingga joxi sedikit terkejut “maksud mu?” Tanya balik joxi sehingga hani menatap wajahnya dengan ramah.
“kau kan tahu aku masih lelah dan sedikit kesal kepadamu tapi kenapa tadi kau buat kue, mengobrol dengan orang tua kita dan membicarakan hal tentang program kehamilan?” Tanya hani kembali yang membuat joxi tersenyum penuh makna dan kini matanya yang indah menatap penuh kasih wajah hani yang pucat itu.
__ADS_1
“Kau bilang belum mau bulan madu dulu, jadi aku kira lebih baik kita ikut program kehamilan?”
“baik lah kita besok konsul ke dokter ya?”
“besok..”
“ya mau nya kapan?”
“ah baik baik besok kita kerumah sakit” kata joxi yang membuat kepala hani mengangguk lalu hani mengambil ponsel yang ada di tasnya “tumben kara dan desi gak hubungi aku?” guma hati hani saat melihat ponselnya tidak ada satu pun pesan dari kedua sahabatnya itu “hani..” tiba tiba joxi memanggil namanya sehingga hani menoleh kearahnya “deg” jantung hani terhentak hebat saat melihat tubuh joxi “ya kenapa kau lepas bajumu?” kata hani lalu menutupi matanya dengan tangan sehingga joxi tertawa kecil melihat tingkah lucu istrinya itu.
“makanya kau jangan banyak tingkah sih, udah tahu aku punya desi yang savage banget untung kau gak di bunuhnya” omel hani sambil tangannya sibuk mengoleskan obat luka di punggung joxi “iya aku akan berusaha untuk hidup lebih baik lagi” sahut joxi dengan suara lembut membuat hani tersenyum “pokoknya jadi lah suami yang baik” kata hani lirih berharap tidak didengar telinga joxi namun joxi nyatanya mendengarnya walaupun samar sehingga joxi kembali tersenyum bahagia.
“hani..”
“hmm..”
__ADS_1
“I love you!”
“I know.. sudah jangan katakan itu lagi aku bosan mendengarnya apa lagi minta maaf!”
“ahahaha iya terimakasih banyak” kata joxi saat hani sudah selesai mengobati lukanya dan kini tubuh joxi berbalik sehingga berhadapan dengan istrinya itu “cup” tiba tiba joxi mengecup lembut bibir hani sehingga membuat hani gugup “aku mohon apa pun yang terjadi tetap lah jadi istriku ya? Dan bersabarlah menghadapi aku yang tidak baik ini?” pinta joxi yang membuat hani cemberut.
“gak mau, aku gak mau sabar lagi karena aku manusia biasa yang kadang juga hilaf jadi kau berusaha lah untuk menjadi lebih baik bukan menyuruhku bersabar lagi?” joxi langsung tertawa kecil lalu kepalanya mengangguk “baik baik, but one kiss again” pinta joxi lagi sehingga hani memejamkan kedua matanya saat bibir suaminya itu mulai melumati bibirnya dengan lembut.
Sedang di sisi lain dari kota Bandar lampung ini tepatnya di rumah desi, kara masih saja duduk di depan pintu kamar sahabatnya itu “sudah berapa lama aku menunggu kenapa dia gak juga membuka pintu?” kara hampir menyatu dengan lantai yang dingin karena terlalu lamanya duduk “tok tok tok” akhirnya kara memberanikan diri untuk mengetuk pintu namun tidak ada jawaban dari dalam.
“di kunci” kata hati kara saat tangannya memegang gagang pintu dan berusaha membukanya “desi.. aku akan pergi sebentar untuk beli makanan ya?” kata kara sedikit mengkeraskan suaranya namun tetap tidak ada sahutan dari dalam “desi.. dok dok dok” kara terus memanggil nama sahabatnya itu sambil kepalanya di benturkan ke pintu beberapa kali.
“ceklek” kara tersentak kaget saat desi membuka pintunya sehingga dirinya sedikit melangkah mundur dan tersenyum ramah namun desi tidak mau menatap wajahnya “kau pergi lah dan jangan pernah kembali lagi?” kata desi lalu melemparkan tas kearah kara “tunggu dul… Duarr” desi kembali membanting pintu kamarnya sehingga membuat kara mematung.
“KENAPA KAU SEMARAH ITU KEPADAKU” teriak kara yang sudah naik pitam karena sikap desi yang baginya sangat egois “baik lah kalo itu mau mu aku gak akan datang lagi kemari?” kata kara dengan suara datar lalu dirinya melangkah pergi sedang di dalam kamar desi bisa mendengar semua yang di bicarakan kara “kau pada akhirnya lelah kan? Harusnya aku yang tidak perlu terlalu besar mencintai mu..” kata hati desi sungguh dirinya sedang terpukul dan juga kecewa bersamaan bukan karena kara sahabat terbaiknya itu namun karena dirinya sendiri yang terlalu mencintai kara sehingga membuatnya menjadi sangat posesif dan pencemburu.
__ADS_1