
“tot tot tot..” desi terbangun dari tidurnya saat mendengar suara alaram ponsel berbunyi “woy ponsel siapa yang bunyi?” desi merasa terganggu namun dirinya malas untuk bangun “kar ponselmu itu bunyi ini loh masih jam 4..” hani pun ikut terbangun lalu tangannya menepuk pelan wajah kara yang bulat “ais iya iya..” tangan kara langsung meraba sekitar bantalnya untuk mencari ponselnya dan setelah mematikan alaram mereka bertiga tidur lagi.
“nino nino..” kini giliran hani yang membuka matanya lebar “woy ponsel siapa lagi tu yang bunyi?” teriak hani yang membuat desi akhirnya bangun lalu mematikan ponselnya “udah ayo tidur lagi aku lagi M juga..” selesai mengatakan itu desi kembali tidur dan hani pun menyusulnya kedunia mimpi “noni noni noni..” seketika mata ketiga gadis itu langsung melek bersamaan “ponsel mu han” teriak desi dan kara bersamaan yang membuat hani melompat dari tempat tidur lalu mengambil ponselnya yang tergletak di meja.
“guys udah jam 5 nih ayo solat subuh..”
“kau sendiri saja han aku lagi M..”
“ho oh kalo desi M aku juga han” hani langsung memutar bola matanya lalu mengambil guling dan langsung memukulkannya ketubuh kedua sahabatnya itu “buakk buakk..” sontak kara dan desi langsung sadar 100% “kalian itu MALAS bukan lagi menstruasi” kata hani penuh penekanan yang membuat kedua sahabatnya cemberut namun mereka langsung pergi ke kamar mandi untuk berwudu sehingga hani dengan gembira menyusulnya dan mereka bertiga pun langsung melaksanakan solat berjamaah.
Sedang di kamar joxi para anggota bad boy sedang terlelap karena mereka semalam begadang “kringggg kringg..” ketuju pria muda itu langsung membelalakan matanya saat telinga mereka mendengar suara alaram jam beker “woy mati in napa itu jam berisikin aja..” kata joxi sehingga tangan rey langsung memencet tombol of jam beker yang ada di atas meja itu “huaaah kita gak solat subuh?” kata rey yang sudah terlanjur bangun walaupun merasakan tubuhnya sangat berat dan kedua matanya terpejam.
__ADS_1
“ah iya solat subuh, bangun guys solat dulu baru lanjt tidur lagi..” kata joxi sambil berusaha bangun dari tempat tidurnya lalu membangun kan teman temannya yang tidur di kasur bawah dan selesai solat subuh mereka bertuju langsung tidur kembali.
Pagi ini begitu cerah namun ketiga gadis ini menyapa matahari dengan malas bahkan hani masih terbaring di tempat tidur padahal kara sudah membuka korden jendela sehingga sinar mentari menyambutnya “tutup aja sih? Aku masih ngantuk tahu..” keluh hani sambil menutupi tubuhnya dengan selimut sedang kara dan desi langsung saling menatap lalu menganggukan kepala.
“bangun ibu dosen..” kata kara sambil tangannya menarik selimut namun di tahan oleh tangan hani sehingga tangan desi yang kuat langsung menarik kaki hani supaya sahabatnya itu mau bangun dari tempat tidur “ais desi, kara sehari saja biarkan aku tidur” keluh hani sedang kara dan desi melongo melihat rambut hani yang awut awutan “ini bukan hari minggu kau harus kerja han..” kata kara sambil tangannya merapikan rambut sahabatnya itu sedang desi langsung mengambil ponselnya.
“guys ini sudah jam 7 loh, aku ada kelas jam 8”
“iya sudah kami pulang ya han, kalo ada apa apa kabari kami?”
“siap dahlia desi..” mendengar suara hani desi langsung tersenyum dan akhirnya kedua sahabatnya itu langsung keluar dari kamar sedang hani langsung membaringkan tubuhnya ke tempat tidur yang sangat empuk “ah hari ini jadwalnya apa ya?” pada akhirnya hani kepikiran tentang tanggung jawabnya sebagai dosen sehingga dirinya bangkit lalu duduk di kursi kerja dan mulai melihat agendanya hari ini di buku catatan hariannya “Cuma persentasi tugas minggu lalu? Hmm iya sudah lah aku gak masuk lagi saja!” hani berpikir begitu karena merasa lelah dan tidak ingin bertemu sosok pria yang selalu mengusik ketenangan hidupnya.
__ADS_1
“loh bi joxi dan teman temannya belum bangun?” Tanya tuan indra saat sudah kedapur namun tidak di temukan sosok anaknya yang tampan itu “sepertinya belum tuan, apa perlu saya bangun kan?” Tanya pelayan yang membuat tuan indra berpikir sejenak “iya sudah biarkan saja bi biasanya joxi kalau sudah kumpul dengan temannya memang begitu..” pelayan pun menganggukan kepalanya dan segera pergi karena tuan indra hendak menyantap sarapan paginya yaitu nasi uduk berlaukan ayam goring.
Saat tuan indra keluar dari rumahnya yang megah itu dirinya tersentak mendapati mobil sahabatnya terpakir di halaman rumahnya “handa kenapa kau tidak masuk ke rumah?” Tanya tuan indra saat dirinya sudah menghampiri tuan handa “masuk lah indra..” tanpa berpikir tuan indra pun masuk kedalam mobil sahabatnya itu lalu mobil pun melaju ke jalanan.
“apa ada yang ingin bicarakan handa?” Tanya tuan indra hati hati karena sahabatnya sedari tadi membisu sehingga di dalam mobil ini terasa begitu hening “aku.. indra aku ingin kau bisa bujuk anak mu bukan malah mendukungnya?” tuan indra mengkerutkan keningnya seolah tidak mengerti maksud pembicaraan sahabatnya itu “kenapa sekarang kau pura pura bodoh? Aku sudah bilang sebelumnya hani sama sekali tidak mencintai anakmu!” kata tuan handa penuh penekanan dan matanya pun menatap tajam mata sahabatnya itu seolah menunjukan bahwa dirinya sangat serius.
“tapi hani katanya sudah mau nikah sama joxi?”
“itu terpaksa, karena anakmu terus menggangunya dan karena itu hani menyerah..” tidak ada respon dari tuan indra sehingga tuan handa memalingkan wajahnya kearah jendela dan matanya melihat banyak kendaraan lalu lalang di jalanan “aku ingin hani bahagia, aku tidak ingin dirinya senasib dengan ku. Kalau kau memang inginkan yang terbaik juga untuk anakmu maka bujuklah dia sebelum semuanya terlambat dan kejadian di masalalu akan kembali terulang” tuan handa sengaja menaikan volume suaranya supaya sahabatnya itu bisa mendengar semuannya dengan jelas.
“akan aku usahakan yang terbaik” pada akhirnya tuan indra berbicara setelah sesaat terdiam namun tuan handa hanya menganggukan kepalanya tanpa menoleh sedikitpun kearah sahabatnya itu “aku tidak bisa tidur dan aku sangat mencintai anakku, aku harap kau tidak egois indra..” kalimat itu sesungguhnya ingin terucap di mulut tuan handa namun tertahan saat hatinya tidak setuju dan lebih memilih terdiam seribu bahasa.
__ADS_1