
“jox..” kata ardi saat menghampiri leadernya itu bersama teman temannya “kalian belum pulang toh?” Tanya joxi heran “kok tumben kamu gak lama lamain ngobrolnya sama istrimu?” Tanya ardi balik yang membuat joxi tersenyum “sekarang dan seterusnya aku akan berusaha memberi kebebasan untuknya karena aku tahu dia juga pasti tertekan kerena tingkah ku” jawab joxi santai yang membuat kepala teman temannya mengangguk.
“kalo itu menurutmu baik kami Cuma bisa mendukung, btw kau belum boleh pulang kah?”
“mungkin besok rey, iya sudah sana pesan makanan lama pasti hani kesininya”
“oke lah” sahut diki sehingga dirinya deleveri nasi padang dan es the untuk keenam temannya sedang di sudut kota Bandar lampung yang lain desi dan kedua sahabatnya sudah selesai belanja dan kini sudah pulang kerumah “mau masak apa han?” Tanya desi yang membuat kara menatap wajahnya “eleh sok sok Tanya padahal gak bisa bantu apa pun?” sahut kara yang membuat hani menutup mulutnya supaya tidak tertawa.
“ya kau meremehkan ku kar?”
“emang aku berkata benar kan?” mata desi langsung menatap tajam mata kara sehingga kara tertawa “ahahaha gitu aja marah, iya sudah ayo ke kamar aja mandi biar hani yang masak toh bukan untuk kita ini?” ajak kara yang membuat kedua sahabatnya melongo terlebih hani yang juga tampak tersentak “ya aku juga masakan kalian” protes hani yang membuat kara tersenyum “ehehehe gitu dong, iya sudah hani masak lah dulu bye bye” selesai mengatakan itu kara langsung menggeret lengan desi dan berlari kearah kamarnya.
“dasar kara, apa dia kuatir aku gak memasakan makanan untuknya? Padahal aku lebih sering ke pikiran kepadamu karena aku tahu walaupun kau tinggal bersama desi kadang kau tidak pernah jujur kepadanya tentang apa yang rasakan?” guma hani sungguh kara memang seorang yang suka memendam semuanya sendiri sehingga dirinya adalah seorang yang paling mudah untuk meneteskan air mata karena hatinya yang terlalu peka.
“kar kau kenapa sih?” Tanya desi saat mereka sudah masuk kedalam kamar “aku kenapa? Aku gak apa apa kok?” jawab kara yang membuat desi menatapnya lalu kaki desi mulai melangkah mendekati sahabatnya yang masih berdiri di depan lemari itu.
__ADS_1
“jangan bohong?” Tanya desi serius yang membuat kepala kara menunduk karena tidak ingin menatap wajah sahabatnya itu “aku Cuma merasa takut…” kening desi langsung mengkerut karena merasa tidak memahami perkataan kara “maksudmu?” Tanya desi sambil tangannya memegang dagu kara supaya wajah sahabatnya itu berhadapan dengan wajahnya.
“apa kau gak takut kalo hani pada akhirnya tahu kita pernah ti…”
“brukk” kara langsung berhenti bicara saat tangan desi langsung membungkam mulutnya bahkan sampai membuat tubuh kara membentur lemari “sshh” tangan kanan desi langsung mempel di bibirnya mengisaratkan supaya kara tetap terdiam sehingga kepala kara mengangguk lalu tangan kiri desi menyingkir dari mulutnya.
“jangan kuatir itu tidak akan pernah di ketahui olehnya, aku janji jadi jangan kuatir lagi ya?” selesai mengatakan itu desi langsung memeluk tubuh kara “tapi aku punya firasat buruk des dan aku takut mimpi hani kemarin itu adalah salah satu tandanya” kata hati kara sungguh dirinya mulai gelisah saat kembali terpikirkan oleh rahasianya.
“sreng sreng sreng” kini hani sedang memasak ayam goring mentega dan nasi bakar kesukaan kedua sahabatnya itu “hmm lama juga mereka mandinya apa malah molor?” guma hani saat terlalu lama menunggu para sahabatnya itu “apa udah matang?” Tanya kara 5 menit kemudian sehingga hani tersenyum “sini kalian, udah matang nih ayo makan?” jawab hani sehingga mata kedua sahabatnya itu langsung berbinar lalu segera duduk di kursi yang di atas meja sudah tersaji banyak makanan lezat.
“selamat makan” kata kara dan desi lalu mereka pun makan dengan lahap sehingga hani tampak bahagia melihat kedua sahabatnya itu memakan masakannya “han kenapa senyum senyum gitu buru makan nanti habis sama kita?” kata desi memperingatkan sehingga hani tertawa kecil lalu ikut makan bersama.
“sama kara, tumben nan aku habis 3 piring nasi..”
“ah itu karena kau bukan lapar tapi doyan”
__ADS_1
sahut hani yang membuat kara tertawa sedang desi langsung tersenyum canggung “btw ini sudah jam 7 malam apa perlu ke rumah sakit lagi?” Tanya desi yang membuat hani menganggukan kepalanya “iya sudah sana hani mandi dulu baru kita ke rumah sakit?” sahut kara dan hani pun segera mandi sedang kedua sahabatnya menunggu 20 menit berlalu mereka pun kembali ke rumah sakit menggunakan mobil kara.
“kami tunggu di hotel aja ya?” kata desi saat mobil kara sudah terparkir di depan halaman rumah sakit “iya santai, makasih ya?” selesai mengatakan itu hani pun keluar dari mobil dan segera pergi ke ruang suaminya di rawat.
“ceklek” suara pintu terbuka sehingga joxi tampak gembira “maaf lama aku masak banyak makanan nih?” kata hani lalu meletakan wadah makanannya di atas meja “ah iya santai sayang ku heheheh” sahut joxi gembira sehingga hani tersenyum “apa kau sudah mendingan?” Tanya hani sambil menyiapkan makanan yang di bawanya tadi “kata dokter tadi aku sudah bisa pulang besok” jawab joxi sehingga kepala hani manggut manggut lalu tangannya memberika mangkuk nasi bakar dan paha ayam goring.
“terimakasih, kau gak ikut makan?”
“aku sudah makan bareng kara dan desi tadi”
“ah begitu, baik lah” joxi sebenarnya sedikit kecewa karena hani makan duluan padahal dirinya berharap bisa makan bersama istrinya itu namun joxi pura pura tidak mempermasalahkan.
“enak sekali” kata joxi yang menyanjung masakan hani yang tidak pernah mengecewakan “aku masih punya banyak apa kau mau nambah?” Tanya hani yang membuat joxi tersentak “ahahaha aku habiskan ini dulu ya” sahut joxi yang membuat hani tertawa kecil karena dirinya tadi memberikan seporsi jumbo nasinya sehingga suaminya itu mulai kualahan untuk menghabiskannya.
“jox, ayah kita sudah pulang kan gak nginap di hotel lagi?”
__ADS_1
“iya aku sudah menyuruh mereka istirahat dirumah”
“syukurlah..” tiba tiba joxi memberikan mangkuk kepada hani “bagus habis, sekarang mari kita tidur” kata hani senang lalu selesai membereskan perabotan makanannya itu dirinya langsung terbaring di samping suaminya “good night” kata joxi lirih lalu mulai memejamkan matanya saat kedua tangannya sudah memeluk tubuh hani “semoga kau suka dengan sikap ku yang seperti ini jox dan aku mohon jangan berharap lebih karena aku takut kau akan kembali kecewa” itu lah kalimat yang di ucapkan hati hani berharap bisa didengar oleh telinga suaminya.