
Kini desi dan kara sudah sampai di rumah hani “asalamualaikum” teriak kedua gadis itu “waalaikum salam” kata pelayan rumah sehingga mereka membukakan pintu “oh nona desi dan nona kara selamat datang?” kata pelayan itu ramah “apa hani ada?” Tanya kara “ada nona, silahkan kalo ingin menemuinya nona hani ada di kamarnya?” tanpa bicara lagi kara dan desi langsung pergi ke kamar sahabatnya itu.
“tok tok” hani tersentak saat mendengar suara ketukan pintu “masuk” sahut hani dari dalam sehingga desi membuka pintunya dan mata hani membelalak melihat kedua sahabatnya itu masuk kedalam kamarnya “hani ada apa kenapa kau terlihat terkejut melihat ka..” kara langsung menutup mulutnya dengan tangannya saat melihat dari dekat leher hani berbercak kemerahan seolah dengan di gigit oleh seseorang “bukk” tiba tiba hani langsung memeluk tubuh desi yang mematung itu sedang kara pun ikut tertenun melihat hani menangis di pelukan sahabat terbaiknya.
“hiks hiks” isakan tangis hani menggema di kamar ini sedang kedua sahabatnya tidak bisa melakukan apapun untuk menenangkan dirinya yang sedang merasakan sakit yang luar biasa di dalam hatinya “aku ingin tinggal bersama kalian boleh?” Tanya hani dengan suara yang masih parau sehingga kedua sahabatnya langsung menganggukan kepalanya “hani pasti boleh lah tinggal sama kita selamanya juga boleh kok” sahut desi lalu tangannya mengusap air mata yang banjir di pipi sehabatnya “apa mau sekarang kita pindah?” Tanya kara yang tampak sangat marah.
“aku mau siap siap dulu?”
“oke kami bantu?” sahut kara sehingga mereka bertiga memasukan banyak baju hani kedalam koper “sudah jangan nangis lagi ya? Aku akan masakan telur kecap untukmu nanti?” kata kara yang membuat hani tertawa kecil karena merasa lucu “apa kau bilang kar?” Tanya desi juga mendengar perkataan kara tadi.
“telur kecap..”
“ahahaha..” hani dan desi langsung tertawa renyah saat mendengar suara kara yang lembut itu “ya desi ngapa kau ngakak, masih mending aku bisa goring telur dari pada kau masak mie sama spam mulu?” desi langsung berhenti tertawa saat mendengar perkataan kara barusan “iya deh, hmm kara kau antar hani ke rumah dulu aja. Aku akan menunggu joxi di sini?” tentu perkataan desi membuat kedua sahabatnya itu tersentak kaget.
“udah ikut pulang aja?” protes kara yang mendapat anggukan kepala hani “tidak, aku harus bicara sama dia lagi pula kau sampai tersiksa begini karenanya” sahut desi kekeh pada pendiriannya lalu matanya menatap ramah mata hani yang sembab itu “aku gak akan membunuhnya kok kau tenang saja” selesai mengatakan itu desi langsung mendorong kopernya dan membawanya keluar sehingga di ikuti oleh kedua sahabatnya.
“ingat jangan bunuh dia?”
__ADS_1
“kau tenang saja kar, tapi jangan abaikan hani ya suruh dia makan lalu tidur?”
“itu pasti, iya sudah aku pulang ya?”
“yo hati hati” desi pun membiarkan kara masuk kedalam mobil sedang hani sudah menunggu di dalam mobil sejak tadi “bremmm..” mobil pun melaju sehingga desi kembali masuk kedalam rumah.
“nona desi maaf itu nona hani dan nona kara mau kemana ya?” Tanya pelayan rumah sedikit panic karena hani pergi membawa kopernya “dia mau minggat dari rumah ini” selesai mengatakan itu desi langsung melangkah kan kakinya menuju kamar sahabatnya dan para pelayan rumah tidak berani menghentikannya karena tuan handa dan joxi memang mengizinkan kedua sahabat hani itu bebas keluar masuk kedalam rumah ini.
“bukk” kini desi membantingkan tubuhnya di tempat tidur “darahh..” desi tersentak saat melihat darah di seprei tempat tidur ini “joxi memang kurang ajar” tangan desi langsung mengepal kuat seolah ingin meninju sesuatu namun tangannya langsung mengambil ponsel nya yang ada di tas “woy angkat napa dasar cowok brengsek” desi geram karena panggilan nya tidak di jawab oleh joxi “wuss prakk..” karena terlalu marah membuat desi tidak sabaran sehingga langsung membanting ponselnya itu di lantai hingga hancur.
“hani harusnya kau jujur saja pada mereka semua sehingga bukan hanya kau yang menderita?” desi memang di sisi lain kesal dengan hani yang memilih menyembunyikan semua rahasianya sehingga membuat hani menderita karena itu namun di lain sisinya juga tidak menyalahkan tindakan hani karena mungkin saja hani takut membongkar rahasianya bisa membuat banyak luka terlebih untuk ayahnya dan joxi.
“buak buak buak, huh huh huh” napas desi menggebu dan jantungnya berdebar kencang saat melihat joxi sekarat “apa kau tahu kenapa aku melakukan ini? KARENA KAU MEMAKSA HANI DAN SEKARANG DIA SEMAKIN MENDERITA” teriak desi lalu air mata nya berjatuhan di wajah joxi yang baba belur itu.
“kau harusnya mencari tahu alasan kenapa hani tidak pernah mau melakukan itu, karena dia memang tidak mencintai mu tapi kenapa kau memaksanya, menekannya sampai dia tidak berdaya?” tubuh desi bergetar sampai bibirnya gemetar saat mengucapkan kalimat itu sungguh rasanya begitu menyakitkan karena desi tidak bisa membunuh seorang yang selalu menjadi penyebap terlukanya hati sahabatnya itu.
“apa sebenarnya maksud mu ini?” Tanya joxi merasa kebingungan dan tidak bisa mencerna semua perkataan desi “kau bilang apa maksudnya? Apa kau gak melihat darah di seprei itu apa kau gak memikirkan setiap luka merah akibat gigitan mu di tubuhnya apa kau gak sadar dia menderita karena itu? Apa kau masih saja tidak peka dan pura pura tidak mengerti setelah dia melakukan itu dia menangis karena itu dia tidak bisa terbangun dari tidur nya? Joxi kalo kau melakukan kesalahan seperti ini aku akan benar benar akan membunuh mu?”
__ADS_1
setelah semua kalimat itu terucap dari mulutnya desi pun langsung menyingkir dari atas tubuh joxi “kau boleh pernah meniduri aku dan kara, tapi jangan pernah melakukan itu pada orang yang sama sekali tidak mencintai mu..” selesai mengatakan itu desi langsung melangkah kan kakinya menuju pintu “duar” desi langsung membanting pintu itu hingga engselnya lepas membuat joxi tertenun melihatnya.
“sebenarnya ada apa kenapa desi sampai semarah itu?” joxi berpikir keras sungguh dirinya bisa melihat rasa amarah yang sangat besar dari diri desi namun apakah karena alasannya adalah hani? Joxi frustrasi memikirkannya.
“Akk” joxi berusaha berdiri namun tubuhnya terlalu lelah dan rasa perih bercampur nyeri akibat pukulan desi membuatnya semakin tersiksa “hani sebenarnya ada apa? Atau karena aku yang memang telah salah memaksamu menjadi milikku padahal kau sama sekali tidak mencintai ku?” joxi kembali terdiam saat tiba tiba hatinya mengucapkan kalimat itu.
“aku harus menemuinya?” joxi ingin meminta kejelasan langsung sehingga dirinya berusaha kembali berdiri “brukk” tubuhnya kembali terjatuh di lantai “tes tes tes” dan darah segar mulai keluar dari bibirnya yang pecah “deg..” mata joxi membelalak saat pendangannya mulai kabur dan kepalanya mulai berdenyut “bukk” joxi pun langsung kehilangan kesadaran.
Kini desi berjalan sendiri dan tatapan matanya kosong “hiks hiks” ini kedua kalinya desi terisak setelah hampir kehilangan kara kemarin sungguh bagi desi kedua sahabatnya itu adalah pelita hidupnya sehingga desi berusaha dengan baik menjaga keduanya supaya tidak terluka entah itu karenanya atau karena orang lain “maafkan aku han..” tiba tiba kalimat itu keluar dari mulut desi sungguh dirinya merasa tidak berguna karena tidak bisa melepaskan belenggu cinta yang penuh luka dari joxi untuk hani “tin tin” tiba tiba ada suara tlakson mobil yang membuat desi menoleh.
“pak antar saya pulang nanti saya kasih uang 5 jt mau?”
“eh beneran neng?” desi langsung menganggukan kepalanya “ah iya sudah langsung naik saja neng abang anter sampai depan rumah nih?” desi pun langsung naik mobil pik up itu dan benar saja dirinya langsung di antar supir mobi itu sampai rumah “tunggu ya pak” desi pun keluar dari mobil dan pintu langsung di buka oleh kara.
“kar kasih bapak itu uang 5 jt?”
“eh kenapa banyak banget?”
__ADS_1
“ya sudah 10 jt aja?” sahut desi tambah ngelantur bicaranya yang membuat kara cemberut “iya sudah sana masuk lah, tapi jangan ganggu hani dia lagi tidur?” desi menganggukan kepalanya sehingga kara pun mengampiri sopir mobil sambil membaca kertas chek “pak makasih sudah antar teman saja ini untuk bapak bisa langsung di cairkan di bank terdekat?” selesai mengatakan itu kara pun memberikan kertas itu lalu dirinya kembali kerumah “ah alhamdulilah terimakasih banyak neng?” kara langsung mengacungkan jempolnya sehingga supir itu bisa pulang dengan hati gembira.