
“bremm” mobil desi kini melaju dengan kecepatan sedang sesekali mata kara melirik kesamping karena sahabatnya tengah tertidur sedang kara menyetir “bremm” tiba tiba mobilnya yang di kemudikan oleh hani menyalip mobil desi “hmm dia juga pasti lelah jadi buru buru” guma hati kara lalu menambah kecepatan supaya mereka bisa segera sampai di rumah.
“cekit” selama 30 menit berlalu akhirnya kedua mobil keren itu berhenti di halaman rumah desi dan hani langsung keluar begitu pun dengan kara “kau kuat menggendongnya?” Tanya hani saat kara membuka pintu mobil “kau tenang saja cepat buka pintunya?” akhirnya hani pun melangkah lebih dulu dan kara mulai membopong tubuh desi di punggungnya.
“han udah kau buka?”
“sudah..” kara pun langsung melangkah cepat masuk kedalam “buk” kara langsung menidurkan tubuh desi di sofa ruang tamu “aduh punggung ku” keluh kara merasakan nyeri di punggungnya karena desi terlalu berat baginya “kau sih gak mau di bantu” kata hani sambil tertawa kecil.
“iya berat banget padahal tubuhnya jangkung dan kurus ternyata berat juga” sahut kara yang membuat desi tidak bisa menahan mulutnya lagi untuk tertawa “ahahaha” suara tawa desi yang renyah itu membuat kedua sahabatnya melongo “ya aku kira kau beneran tidur?” protes kara lalu memasang wajah kesal yang membuat desi berhenti tertawa “iya maaf habis aku ingin sekali kau menggendong ku” sahut desi namun kara tetap masih cemberut.
“iya sudah sana kalian istirahat, biar aku masakan sesuatu?”
“emang kau gak capek han?”
“aku lelah kalo hanya tidur terus kar..”
“ya sudah kami gak menggangumu masak, tapi hati hati ya sama pisau takutnya kan kau gak konsen malah mengiris tangan mu..”
“hii ngeri banget lah, tapi tenang aku akan focus” kedua sahabatnya itu langsung menganggukan kepalanya sehingga meninggalkan hani seorang diri di dapur dan kini desi sudah mengganti pakaiannya “apa gak apa apa kita biarkan dia sendirian?” Tanya kara masih gelisah sehingga desi langsung mengisaratkan dengan tangan untuk menyuruh sahabatnya menghampirinya sehingga kara pun kini duduk di pangkuan desi.
__ADS_1
“aku akan main game, kau istirahat disini saja?” kata desi lirih yang membuat kara mengalungkan kedua tangannya di leher sahabatnya itu lalu mulai menyenderkan kepalanya di bahu desi sedang desi sendiri mulai focus bermain game di komputernya dan tangannya sibuk memencet tombol stik yang di pegang tangannya dan matanya focus menatap layar monitor komputernya.
“desi..”
“hmm..”.
“apa ada harapan lagi untukhubungan hani dan dia?”
“entah lah..”
“aku takut hani menderita seorang diri padahal kita ada di sisinya?” desi tidak merespon perkataan kara dan lebih memilih focus bermain game saja karena desi pun tidak tahu harus melakukan apa lagi setelah kekacauan ini terjadi “desi..” panggil kara dengan suara yang sama lirihnya membuat mata desi melirik wajah sahabatnya itu.
“ceklek” tiba tiba hani membuka pintu dan terlihat desi sedang bermain game sambil memangku kara “ah maafkan aku..” hani yang kelabakan karena merasa menggangu privasi kedua sahabatnya itu.
“ya kenapa kau jadi linglung gitu gimana udah matang?” Tanya desi yang membuat langkah hani tertahan lalu kara langsung menyingkir dari pangkuan desi “hani apa kami membuatmu tidak nyaman?” Tanya kara yang membuat hani segera membalikan tubuhnya dan menggelengkan kepalanya “aku hanya gak biasa saja padahal dari dulu juga kalian seperti itu tapi aku masih belum terbiasa ehehehe” jawab hani seadanya yang membuat kara manggut manggut.
“iya kau harus terbiasa” sahut desi yang membuat kara menatap tajam matanya “hani jangan salah paham, iya sudah ayo kita kedapur pasti kau sudah selesai masaknya?” hani menganggukan kepalanya lalu desi langsung menghampiri kedua sahabatnya itu “pokoknya kita gak usah perdulikan apa pun lagi kalo memang gak bisa gak usah di paksakan” kata desi yang membuat hani tersenyum sungguh dirinya paham maksud dari perkataan sahabatnya itu sedang kara hanya mengangguk samar.
“wow serius kau masak ini semua han?” Tanya kara yang langsung ceria melihat banyak makanan lezat tersaji di meja “ini bocah kalo udah ketemu doinya langsung lupa semuanya” kata desi saat melihat mata kara berbinar mencicipi banyak makanan yang di masak hani “kau juga makan lah, dan segera istirahat semalam kau gak tidur kan?” kata hani lalu memberikan semangkuk nasi yang menggunung kepada desi.
__ADS_1
“santai saja han aku udah biasa gak tidur?”
“tetap saja kau harus makan, karena kau juga manusia sekuat apa pun kau harus istirahat dan makan yang cukup biar gak sakit”
“tuh kakak mu sudah berbicara des..”
“ya hani, kara itu lebih muda dari aku ya?”
“ahahaha” kara dan hani langsung tertawa bersama melihat ekspresi kekesalan di wajah desi “iya deh maaf sudah ayo makan lalu kita istirahat” ajak hani sehingga mereka bertiga mulai terdiam dan focus pada makanan nya.
Sedang di rumah sakit joxi sama sekali tidak ingin menelan apa pun karena walaupun perutnya terasa lapar joxi tidak memiliki selera lagi bahkan joxi sekarang merasa kosong dan putus asa “jox ayo lah makan sedikit kau gak kasihan sama kita nih sedih karena kau mogok makan?” pinta ardi yang membuat joxi menggelengkan kepalanya “sudah kalian pulang saja jangan mengganggu ku?” sahut joxi dengan suara datar.
“kau jangan gitu, nanti kami beneran pulang kau kesepian?” kata rey yang membuat joxi tersenyum ketir “aku gak akan kesepian atau apa pun itu karena di dalam sini sudah tidak apa apa lagi?” tentu perkataan joxi bagai bom atom yang meledak di telinga anggota geng bad boy sehingga membuat mereka berenam tersentak kaget.
“ya jangan menyerah lah jox..” kata diki yang mendapat tatapan tajam mata joxi yang indah “kau bilang apa dik? Jangan menyerah.. lalu aku harus bagaimana? Aku punya penyakit dan susah memiliki keturunan aku pencandu alcohol aku juga yang menodai banyak gadis.. aku memang pria yang gak berguna dan gak pantas menjadi suaminya?”
“itu benar joxi, tapi bukan kah setiap orang punya kesempatan untuk berubah?”
“tapi aku sudah menjadi sampah ardi.. tidak ada hal baik dalam diriku?” teman temannya langsung terdiam sungguh jika joxi merasa dirinya adalah sampah lalu bagaimana dengan mereka yang perilakunya terkadang lebih parah dari leadernya itu? Pada akhirnya hari ini masih menjadi kelabu bagi mereka.
__ADS_1