Dosen Cantik Milik Ku

Dosen Cantik Milik Ku
Kenangan


__ADS_3

“cekit” kini mobil hani berhenti di sebuah halaman parker lalu hani keluar dari mobilnya, langkah kakinya santai bibirnya tersenyum bahagia sambil tangannya membawa seikat bunga mawar yang masih segar “ini untukmu” kata hani lirih lalu tangannya meletakan seikat bunga mawar itu ke patok kuburan atez.


“setelah kau pergi rasanya duniaku semakin gelap dan rasa sepi begitu nyata, aku berharap bisa bercerita banyak hal kepadamu seperti dahulu tapi aku mencurahkan semuanya kepada allah sesuai nasehatmu dulu..” hani bicara santai dan hatinya tetap merasa lebih baik jika berada di sini entah mengapa bisa begitu namun cinta hani terhadap atez masih sama ya setidaknya itu lah yang di rasakan hani selama ini.


“aku sudah menikah dan selama itu aku menderita suamiku gak sebaik dirimu tapi aku tetap berusaha menerimanya namun apa kau tahu tetap saja dia bukan lah tandingan mu kau masih tetap menjadi pria yang paling aku cintai” hani masih berbicara sendiri walaupun hal itu terasa sia sia namun hani tetap melakukannya.


“atez aku gak berharap apapun, aku hanya merasa lebih dingin sekarang dan hatiku terasa kosong bahkan aku gak merasa sakit lagi apa ini rasa putus asa?” hani kembali berkata dan lagi lagi tidak ada sahutan dari setiap perkataannya “ah mungkin kau akan tetap baik baik di sana, maafkan aku ya yang masih mengharapkan mu kembali walaupun itu mustahil”


selesai mengatakan itu hani langsung tersenyum ketir entah mengapa tiba tiba hatinya terasa sakit karena di tempat ini pun hani kembali merasa terluka “atez aku pergi semoga allah selalu menjaga mu di sisinya” hani akhirnya meninggalkan seikat bunga itu dan kembali membawa luka di hatinya.


“bremm” mobil hani pun melaju di jalanan kini hani mendengarkan lagu perfeck karya ed sheran yang sering dinyanyikan atez dulu untuknya “baik lah aku akan makan soto betawi di dekat kampus kita” kata hani senang lalu membelokan mobilnya kearah rumah makan “cekit” hani pun kembali keluar dari mobilnya dan kini masuk kedalam rumah makan itu “pak saya pesan 1 soto betawi yang pedas ya?” pinta hani pada kasir lalu dirinya duduk tepat di kursi yang dulu sering dirinya duduki bersama atez.


“selamat menikmati nona” kata pelayan ramah lalu meletakan mangkuk soto betawi di meja “terimakasih banyak pak” selesai mengatakan itu hani mulai menikmati makan sorenya “memang tidak pernah berubah selalu saja enak” guma hani saat menghabiskan soto itu lalu hani membayar pesanan makanannya dan kembali masuk kedalam mobil.


“bremm” mobil kembali melaju dan kini mengarah ke pantai teluk dimana hani akan melihat senja di sana “indahnya masya allah” kata hani saat matanya berbinar melihat mata hari yang hendak istirahat cahaya begitu menenangkan.


“allah huakbar..” hani langsung tertenun saat mendengar suara azan berkumandang “ternyata sudah mahgrib lebih cepat 5 menit” hani pun memarkirkan mobilnya lalu keluar menuju masjid apung yang berada di tengah laut berarus tenang karena hani ini tidak pasang, selesai berwudu hani langsung mengenakan mukena yang di sediakan oleh masjid itu lalu mengikuti solat magrib berjamaah.

__ADS_1


“ya allah aku rindu masa masa kuliah ku dulu karena ada orang yang aku cintai di sana namun sekarang aku sudah menikah tolong lah hapus lah rasaku terhadapnya dan bantulah aku mencintai suamiku dan memaafkannya.. aamiin” itu lah doa yang di panjatkan hani dengan hati yang sangat memohon kepada tuhannya Karena hani sadar hidup dalam masa lalu tidak akan membuatnya bahagia dan hal itu hanya membuatnya akan terus berpura pura.


Selesai melaksanakan solat hani pun kembali ikut rombongan jamaah naik kapal untuk kembali ke pesisir laut hani langsung tersenyum sesampainya di laut “dulu desi dan kara mabuk sampai mau cebur ke laut dan atez langsung kualahan menolong mereka” hani tertawa kecil saat mengingat masalalu indah di laut ini bersama kedua sahabatnya yang bobrok dan kekasihnya yang sangat perhatian.


“drtt drtt” tiba tiba ponsel hani bergetar sehingga dirinya mengambilnya dari tas “joxi?” hani pun langsung menerima panggilan dari suaminya itu “ada apa?” Tanya hani singkat “kau dimana?” Tanya balik suaminya itu yang membuat hani terdiam sesaat “aku sedang di laut teluk” tentu joxi tersentak mendengar jawaban dari pertanyaanya.


“itu jauh sekali, kau sama siapa?” hani tersenyum mendengarnya “aku sendirian, aku lagi menikmati malam ku sambil melihat banyak bintang indah di sini. Kau sedang apa?” Tanya hani yang membuat joxi tersenyum “aku sedang menunggu mu pulang” hani bergeming sesaat suasana hati nya kembali buruk “aku akan pulang besok” selesai mengatakan itu hani langsung memutus panggilan lalu mematikan ponselnya.


Hani tidak berbicara hanya terdengar suara napasnya yang tenang dan hembusan angin yang menyapa kulitnya yang bening “kau bisa masuk angin” mata hani membelalak saat mendengar suara berat seorang pria “aku gak selemah itu” sahut hani santai yang membuat pria itu tersenyum lalu duduk berjarak cukup jauh di sampingnya.


“kau sudah lama gak kemari?” hani tersenyum lalu matanya menatap ramah pria itu “kau anak kecil yang jadi pemandu wisata kami aku gak menyangka kau sudah sebesar ini?” kini giliran pria itu yang tersenyum “ternyata embak masih mengingatku? Nih pakai lah dulu jaket ku kau nanti masuk angin” hani menerima jaket pemberian pria itu lalu memakaikan ke tubuhnya.


“menurut embak?”


“entah lah, sekarang umurmu sudah 20 tahun kan?”


“yup masih terlalu dini kalo aku menikah mbak lagi pula masa muda gak datang dua kali kan?”

__ADS_1


“kau benar..”


“kalo embak, sudah menikah?”


“aku sudah menikah van” entah mengapa jawaban dari pertanyaannya membuat pria muda yang bernama evan itu tampak terkejut dan terlihat jelas di raut wajahnya ekspresi kekecewaan namun hani tidak menyadarinya “apa dengan mas atez?” hani tersenyum ketir lalu kepalanya menggeleng “aku menikah dengan pria lain van” mata evan langsung membelalak.


“lah bukannya embak bucin banget sama mas atez aku ingat betul dulu kau sering banget ngelendot dia setiap liburan kemari” hani kembali tersenyum hanya saja senyumannya kali ini membuat evan ketakutan karena hani memberikan senyuman paling pahit dalam hidupnya dan mata hani yang dulu sangat cerah begitu layu seolah dengan menahan rasa sakit yang luar biasa.


“dia sudah meninggal” evan tida bisa menggambarkan kondisinya sekarang karena rasa terkejutnya yang membuatnya tidak bisa berbuat apa apa sedang hani hanya terdiam sambil matanya terus menatap langit yang indah.


“maafkan aku” hani tersenyum mendengar suara lirih evan “itu bukan lah sebuah kesalahan jadi santai saja” sahut hani sama lirihnya “lalu bagaimana dua sahabat embak yang bobrok banget itu?” hani tertawa kecil mendengar pertanyaan evan “mereka sekarang sudah menjadi dosen dan berkerja satu kampus dengan ku tapi mereka belum menikah mungkin setahun atau dua tahun lagi?” kepala evan langsung manggut manggut.


“apa embak mau beli kopi atau susu coklat hangat aku bisa belikan untuk mu?”


“hmm boleh dan biar aku traktir kamu makan sate sea food?”


“ah baik lah, nanti kau nginap di rumah ku saja adik perempuan ku ada dirumah dan kedua orang tua ku juga akan senang kau berkunjung di sana?”

__ADS_1


“baik baik, ya sudah ayo pergi” evan langsung menganggukan kepalanya dan mereka pun langsung memesan banyak makanan lalu memakannya bersama sama.


__ADS_2