
Hani terbangun saat kepalanya tersinari cahaya matahari yang menembus korden jendela yang tidak tertutup sempurna “ini jam berapa?” kata hani yang sebenarnya masih malas untuk bangun dari tempat tidurnya namun memaksakan diri.
“ya allah mataku sembab banget” kata hani terkejut saat menatap pantulan wajahnya di cermin dan matanya memerah dengan kantung mata yang bergelembung karena terlalu lamanya hani semalam menangis “ah ternyata ini sudah jam 2 siang” hani kembali meletakan ponselnya lalu kakinya melangkah menuju kamar mandi selesai membersihkan tubuhnya dan berwudu hani pun melaksanakan solat.
“ya allah sampai kapan aku akan berakhir menyedihkan seperti sekarang? Kenapa sejak aku lahir kedunia penderitaan selalu silih berganti datang di hidupku? Ya allah aku pun tidak mau menjadi seperti ini namun jika menurut engkau ini yang terbaik untuk ku bantulah terus supaya aku ikhlas dan legowo menerima takdir yang engkau tetapkan untukku dan bantu lah aku terus untuk bisa menyelesaikan masalah yang aku hadapi aamiin”
sudah tidak terbendung air mata hani saat hatinya yang rapuh mengucapkan kalimat itu dalam sujud terakhirnya sungguh hani tahu semua yang di alaminya adalah takdirnya dan mau tidak mau hani harus menerima itu dengan hati yang lapang supaya tidak di cap sebagai hamba yang durhaka pada tuhannya.
“assalamualaikum waromatuhllah”
Selesai mengucapkan salam hani langsung berzikir dan memohon ampun pada tuhannya lalu hani merapikan mukenanya dan selesai berganti pakaian hani langsung membuka pintu kamarnya “ceklek” hani sudah menduga joxi suaminya itu menunggunya “hani maafkan aku” itu lah kalimat yang keluar dari mulut joxi sehingga hani menatap wajahnya yang merah lebam dan tampak teduh “kau pasti lelah sana mandi lah lalu istirahat” kata hani namun kepala joxi segera menggeleng dan matanya yang indah menatap melas mata hani yang tampak layu itu.
“maafkan aku dulu” pinta joxi sekali lagi namun hani langsung bergeming “bukk” tiba tiba joxi langsung memeluk tubuh hani “aku tahu kau pasti sangat kecewa kepadaku? Aku mohon maafkan aku, maaf hiks hiks..” joxi menangis sungguh hatinya sangat mencintai istrinya itu tapi dirinya selalu berhasil membuat istrinya itu menderita sehingga joxi mengucapkan kalimat itu karena rasa putus asa dan penyesalan yang mendalam.
“aku butuh waktu” mata joxi langsung membelalak saat hani mengucapkan kalimat itu dengan lirih tiba tiba joxi langsung berhenti memeluk hani.
__ADS_1
“baik lah, aku akan menunggu mu han kabari aku jika sudah merasa lebih tenang” hani langsung menganggukan kepalanya “kau jangan kuatir” selesai mengatakan itu hani langsung melangkah kan kakinya.
“deg” jantung joxi langsung berdebar kencang saat hani melewatinya begitu saja tanpa rasa apa pun “aku mohon jangan pergi” kaki hani langsung berhenti saat mendengar suara joxi yang parau itu “kalo aku di sini semua gak akan selesai” hani langsung kembali melangkah kan kakinya sedang joxi langsung mematung karena perkataan istrinya itu bagai pisau tajam yang menyayat hatinya sehingga rasa sakitnya begitu nya.
“hani..” suara ayah kandungnya sehingga hani berhenti melangkah “ayah..” kata hani lirih saat melihat ayahnya sudah di hadapanya “kau mau kemana?” hani tersenyum hambar karena pertanyaan ayahnya itu “aku gak tahu, tapi kalo aku terus di rumah gak akan menyelesaikan masalah?” ayahnya itu langsung menganggukan kepalanya “pergilah kemana pun kau mau tapi ingat di sini lah rumah mu tempat mu pulang” selesai mengatakan itu ayahnya langsung memeluk tubuh hani yang kurus itu “ayah terimakasih banyak” kata hati hani lalu tangannya membalas pelukan ayahnya.
“aku pergi ayah?”
“hati hati sayang dan cepat lah pulang” hani langsung tersenyum lalu dirinya kembali melangkah dan kini sudah keluar dari rumah “deg” jantung hani terhentak saat melihat mobil kedua sahabatnya terparkir di halaman rumahnya “hani.. hani” kata kara dan desi bersamaan saat mereka keluar dari mobil lalu menghampiri hani yang tampak lelah itu.
“maafkan kami dulu baru kami berdiri?” hani tentu langsung tertenun dan matanya yang lelah menatap kedua sahabatnya dengan penuh kasih “aku mohon jangan memaksa ku sekarang” pinta hani dan tanpa di sadari olehnya air asin kembali mengalir di pipinya “hani aku mohon jangan menangis” pinta desi lalu dirinya berdiri dan segera memeluk tubuh sahabatnya itu dan kara pun ikut berdiri dan ikut memeluknya.
“hiks hiks” akhirnya hani kembali terisak lagi hanya saja kali ini berada di pelukan kedua sahabatnya “tolong lepaskan aku kara, desi?” pinta hani dengan suara serak sehingga kedua sahabatnya berhenti memeluk tubuhnya “maafkan kami han” kata kara yang juga ikut menangis dan tangannya gemetar hebat saat mengusap air mata hani yang banjir di pipinya.
“kara tenang lah” pinta hani lalu kedua tangannya memegang kedua tangan sahabatnya itu “kau tidak perlu kuatir aku bilang kalian berdua tidak bersalah, ini hanya tentang perasaan ku saja dan aku ingin menyendiri untuk memenangkan diriku” jelas hani yang membuat kepala kara mengangguk samar.
__ADS_1
“baik baik aku akan berusaha menerima keputusan mu sekarang tapi aku mohon jangan terlalu lama ya karena aku gak suka melihatmu menderita sendirian karena kalau kau terluka kami juga terluka han dan tentang kesalahan kami tolong maafkan kami ya?” hani menganggukan kepalanya berkali lali lalu tersenyum tulus pada sahabatnya itu sehingga kara kembali memeluknya dan desi pun ikut kembali memeluk mereka berdua.
“guys..”
“sabar hani sebentar lagi”
“tapi des aku mulai kehabisan napas nih?” kara dan desi langsung berhenti memeluk tubuh hani “maafkan kami” hani langsung tertawa kecil “iya santai, ya sudah aku pergi ya?” desi langsung mengambil sesuatu di saku jaketnya lalu di berikan oleh hani “pake cincin itu dan jangan kau lepas selama kau pergi, ingat aku gak berniat untuk membuntuti mu tapi jika ada bahaya aku bisa segera datang karena itu alat pelacak yang aku buat untuk melindungi mu dari kejauhan” hani langsung menganggukkan kepalanya lalu memakai cincin itu di jari jempolnya.
“terimakasih banyak ya?”
“sama sama hani sayang, tapi ingat jangan lama ya perginya nanti kami berdua kangen?”
hani tersenyum manis mendengar permintaan desi “kalian tenang saja” selesai mengatakan itu hani pun masuk kedalam mobilnya dan kedua sahabatnya itu membiarkan mobilnya melaju meninggalkannya.
“menurut mu dia mau pergi kemana?” Tanya kara yang membuat desi terdiam sesaat “jika aku benar? Mungkin ke tempat dimana hani pernah merasa bahagia saat masih bersama atez dulu?” mata kara membelalak namun langsung tersenyum ketir “harusnya..” kara memilih tidak melanjutkan perkataannya sehingga desi menatap wajahnya yang tampak pucat itu “sudah lah yang penting kalo hani gak melepas cincin itu kita bisa terus mengawasinya” kara menganggukan kepalanya “ya sudah yok pulang kau butuh istirahat” ajak desi sehingga mereka berdua pun pulang kerumahnya.
__ADS_1