
Setibanya di rumah, Gaby langsung masuk kedalaman kamarnya karena Darren terus saja memarahinya meski gadis kecil itu sudah meminta maaf berkali-kali.
"Gaby! Gaby kamu sudah pulang Nak," ucap Aryanti sembari berlari ke arah Gaby yang hendak memasuki kamarnya.
"Nenek," ucap Gaby sembari merentangkan tangannya hendak memeluk Aryanti.
"Sayang, kamu dari mana saja? Untung kamu baik-baik saja."
"Gaby, syukurlah kamu sudah pulang, kalau tidak Tante akan sangat sedih," ucap Isabella pada Gaby.
"Kamu kemana saja dan sama siapa?"
"Gaby diculik sama preman kampung Ma," ucap Darren dengan nada kesal.
"Untunglah aku datang tepat waktu dan akhirnya orang itu membatalkan rencananya untuk menculik Gaby," sambung Darren.
"Preman?" ucap Aryanti dan Isabella secara bersama-sama.
"Bukan. Kakak itu yang menolongku dari penculik yang asli," ucap Gaby membela Mei di hadapan keluarganya.
"Pasti kamu sudah diancam sama dia biar gak bicara yang sejujurnya pada Papa dan semuanya kan."
"Papa kenapa gak ngerti juga? Pa, kakak itu yang nolongin Gaby."
"Ada apa ini? Kenapa kalian berdebat seperti ini?" tanya Sarah yang tidak tahu apa-apa.
"Ini Nek, tadi aku dibawa jalan-jalan sama Mama tapi udah lama main di Taman, Mama gak bawa aku pulang juga. Dia malah marah-marah pas aku ngajak pulang," ucap Gaby.
"Mama? Gaby, memangnya kamu tahu sama Mama kamu?"
Anak gadis kecil itu menggelengkan kepalanya tanda dirinya tidak mengetahui dan mengenali sosok Mamanya.
"Kalau gak tahu kenapa kamu mau ikut sama dia? Untunglah kamu gak diculik."
"Tante itu punya foto-foto keluarga kita dan dia juga sangat dekat dengan Papa saat difoto itu."
"Sayang, lain kali kamu jangan mudah percaya sama orang yang mengaku sebagai Mama kamu ya. Kamu harus tahu kalau di luar sana banyak orang jahat yang berpura-pura baik."
"Udah-udah, Gaby istirahat yuk! Tante temani, kamu pasti capek kan."
Isabella mengajak Gaby masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
*******
"Mei lu kelihatan bete banget. Tuh muka kayak baju belum disetrika aja, lusuh tahu gak. Lu kenapa?" tanya Karen.
"Kagak apa-apa, aye cuma lagi kesel sedikit," sahut Mei.
__ADS_1
"Kesel sama siapa? Sama Nyak dan Babeh yang tiap hari minta mantu?"
"Bukan. Aye tuh bingung aja, kenapa dari semalam sampai hari ini tuh diribetin terus sama tuh orang."
"Diribetin sama siapa? Siapa yang lu maksud?"
"Udah lah, jangan dibahas, lagian aye gak mau bahas tuh orang sok kaya mending kita ngopi yuk."
"Eh kok ngopi, udah jam berapa nih? Bukannya lu mesti nengokin si Amel?".
"Astaga, sampai lupa kalau si Amel masih sakit. Ya udah deh kalau gitu Aye mau ke tempat mereka dulu."
Karen menatap kepergian Mei. Lama dirinya menatap Mei hingga gadis itu sudah tak terlihat pun Karen masih menatap ke arah sana.
"Lu tuh jadi orang bae banget Mei. Gak ada bosen-bosennya lu nolongin orang apa karena orang tua lu juga bae ya makanya lu gak pernah berpikiran jahat sama orang lain," ucap Karen didalam hatinya.
"Ada apa, bengong aja? Awas kesambet lu," ucap Joni.
"Apaan sih lu Jon, ganggu orang aja," ketus Karen.
"Ngeliatin apa sih? Sampai segitunya."
"Ngeliatin Mei."
"Mei nya mana kok gak ada?" Joni nampak mencari sosok Mei di area yang ditatap oleh Karen.
"Dia sendiri?"
"Iya lah ama siapa lagi coba."
*******
"Pokoknya aku harus bisa masuk lagi ke kehidupan Darren, aku gak mau hidupku susah lagi seperti dulu," gumam Joanna.
Saat itu Joanna sedang berdiri di balkon kamarnya sembari menatap kuasnya pelataran rumahnya.
"Aku harus mendekati Gaby agar Darren dan keluarganya mau menerimaku lagi."
Joanna menarik nafasnya panjang lalu menghembuskannya kasar.
"Aku menyesal pergi bersama Zayyan, kalau aku tahu dia itu tidak sekaya Darren, aku tidak akan pernah mau meninggalkan Darren demi dirinya."
Karena tergoda oleh laki-laki yang lebih muda dari Darren, setelah melahirkan anak Darren, Joanna memilih pergi bersama Zayyan yang usianya lebih muda dari Darren dan mengaku bahwa orang tuanya sebagai salah satu pemilik perusahaan terbesar di dunia.
Joanna yang sangat gila harta akhirnya tergiur dengan semua perkataan Zayyan, tanpa dirinya sadari ternyata Zayyan hanyalah ingin menumpang hidup dari kekayaannya hingga kini setelah empat tahun menjalin hubungan dengan Zayyan, Joanna baru sadar dan baru tahu ternyata Zayyan bukanlah anak dari pemilik perusahaan terbesar di dunia melainkan hanya laki-laki penipu yang ingin hidup enak tanpa harus bekerja keras.
*******
__ADS_1
"Mama mau kemana?" tanya Darren yang melihat Aryanti hendak pergi dari rumah.
"Mau menemui Mei. Nanti malam kita harus menghadiri acara pesta pernikahan rekan bisnis kita."
"Apa hubungannya dengan orang itu?"
"Mama butuh pengawalan dari dia karena Mama gak mau kejadian perampokan terhadap Mama terulang lagi."
"Oh, ya udah ayo aku antar."
"Tumben."
"Aku pengen tahu orang yang Mama bangga-banggakan itu seperti apa."
"Kak! Taruhan yuk," ucap Isabella.
"Taruhan apa? Kamu pasti kalah," sahut Darren.
"Aku yakin setelah kenal lama, kakak pasti suka sama Mei dan kalau yang aku katakan ini benar, kakak harus memberikan aku uang untuk berlibur ke luar negeri."
"Emang orangnya seperti apa, sampai kamu seyakin itu?"
"Cantik, baik dan jagoan. Lumayan kan buat melindungi keluarga kita dari serangan musuh."
"Huss, bicara apa Bella," ucap Aryanti yang tak setuju dengan perkataan Isabella.
"Emang benar Ma, Mei itu jagoan, dia bisa melindungi keluarga kita dari serangan orang jahat. Mama tahukan akhir-akhir ini keluarga kita sering banget mengalami musibah, dari Mama yang dirampok, kakak yang tiba-tiba diserang preman dan banyak lagi."
"Ngaco kamu Bell, udah lah lagian kakak juga gak akan suka sama Mei-Mei yang kalian banggakan itu."
"Jadi kakak setuju dengan yang aku katakan?"
"Iya kakak setuju. Kalau kamu kalah kamu yang memberikan uang untuk kakak dan Gaby liburan ke luar negeri."
"Oke, siapa takut."
"Jadi kapan nih kita berangkatnya?" ucap Aryanti yang sudah mulai bosan menunggu Darren.
"Oh iya-iya, kita berangkat sekarang Ma. Kemana kita harus pergi?"
"Ke Pasar xxx."
Darren pun langsung masuk ke dalam mobilnya lalu mulai melajukan mobilnya menuju tempat yang diberitahukan oleh Aryanti.
Bersambung
__ADS_1